Beranda Keislaman Ibadah Shalat Sunah Rawatib dan Keutamaan-Keutamaannya, Rugi Kalau Tidak Mengerjakan!

Shalat Sunah Rawatib dan Keutamaan-Keutamaannya, Rugi Kalau Tidak Mengerjakan!

Harakah.idShalat sunah rawatib adalah shalat sunnah muakkad yang dianjurkan untuk dikerjakan, di samping ibadah-ibadah wajib. Ada banyak keutamaan yang biasa didapat bagi seseorang yang mengerjakannya.

Shalat sunah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib. Ada yang dinamakan shalat sunnah qobliyah (sebelum) dan shalat sunnah ba’diyah (sesudah).

Sesungguhnya di antara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya At-tathowwu’ (ibadah tambahan). Dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya at-tathowwu’ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib. Dan sesungguhnya at-tathowwu’ di dalam ibadah shalat yang paling utama adalah shalat sunah rawatib. Nabi Muhammad SAW senantiasa mengerjakan nya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya sekalipun itu dalam keadaan mukim (berpergian). Shalat sunah rawatib itu bila ditinjau dari segi hukumnya terbagi menjadi dua: 

Shalat sunah rawatib muakkad yaitu shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, karena selalu dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Contohnya 2 rakaat sebelum subuh, 2 atau 4 rakaat sebelum zuhur, 2 atau 4 rakaat sesudah zuhur, 2 rakaat sesudah maghrib, 2 rakaat sesudah isya.

Penjelasan tentang jumlah rakaat shalat sunnah rawatib ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i.

Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum zuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

Shalat sunnah rawatib ghairu muakkad yaitu shalat sunnah yang kurang dianjurkan untuk dilaksanakan, karena nabi tidak selalu melaksanakannya. Contohnya 2 atau 4 rakaat sebelum ashar (jika dikerjakan 4 rakaat, dikerjakan dengan 2 kali salam), 2 rakaat sebelum maghrib, 2 rakaat sebelum isya.

Tata cara shalat sunnah rawatib sama dengan shalat pada umumnya namun yang membedakannya adalah niatnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan shalat sunnah rawatib diantaranya, tidak didahului azan dan iqomah, dilaksanakan secara munfarid (sendirian), bacaannya tidak dinyaringkan, jika lebih dari dua rakaat, maka setiap dua rakaat satu salam, sebaiknya tempat mengerjakan shalat rawatib pindah sedikit dari tempat mengerjakan shalat fardhu, diutamakan pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas, diawali dengan niat menurut macam shalatnya. Niat melakukan shalat sunah rawatib cukup dalam hati sesuai dengan macam shalat sunnah rawatib tersebut, tetapi boleh diucapkan atau dilafalkan.  

Mengapa rasulullah selalu istiqomah dan menjaga agar tidak meninggalkan shalat sunnah tersebut? Karena ada keistimewaan dan keutamaan jika melaksanakan shalat sunnah tersebut diantaranya yaitu:

Dari Ummu Habibah r.a Istri Rasulullah Saw  dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” HSR Muslim no. 728).

Bagi orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib secara istiqomah niscaya akan dibangunkan rumah disurga.

Yang lebih utama dari shalat rawatib adalah shalat sunnah fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh).  ‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” Dalam riwayat yang lain, “Dua rakaat sebelum subuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim no. 725)

Shalat sunnah sebelum subuh ini merupakan yang paling utama diantara shalat sunnah rawatib lainnya dan Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya baik Ketika mukim (tidak bepergian) maupun dalam keadaan safar. 

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka”. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tirmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)

Orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib niscaya akan diharamkan dirinya dari api neraka.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...