Siapa dan Mana Lebih Unggul, Alfiyah Ibn Mu’thi Atau Alfiyah Ibn Malik?

0
Siapa dan Mana Lebih Unggul, Alfiyah Ibn Mu'thi Atau Alfiyah Ibn Malik?

Harakah.id Dalam kancah gramatikal Arab, ada dua kitab agung yang menjadi rujukan: Alfiyah Ibn Mu’thi dan Alfiyah Ibn Malik. Siapa dan mana yang lebih unggul? Mari kita konfrontasi…

Alkisah, ketika hendak menuliskan semua pemikirannya tentang ilmu gramatikal Arab dalam bentuk syair, Ibn Malik berhenti di bait ini;

فاَئِقَةً أَلْفِيَةَ ابنِ مُعْطِي

Mengungguli Alfiyah Ibn Mu’thi

Ibn Malik berhenti karena beliau lupa dengan semua bait yang hendak ditulisnya. Pada waktu sedang tidur, beliau bermimpi bertemu dengan Ibn Mu’thi. Pertemuan itu merupakan suatu teguran kepada Ibn Malik karena telah menyombongkan diri. Alhasil, sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maafnya, Ibn Malik membuat dua bait berisi pujian dan doa kepada Ibn Mu’thi

Lepas dari kisah kesombongan itu, ternyata pernyataan Ibn Malik berhasil memantik perkembangan tradisi keilmuan di kalangan ilmuwan Muslim lainnya. Terbukti, seperti ditulis oleh Muhammad Nasif, banyak AlfiyahAlfiyah berikutnya yang lahir dengan klaim yang hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Ibn Malik, seperti Alfiyah karya Imam Suyuthi, karya Imam Al-Ajhuri, dan karya Imam Al-Jammusi. 

Baca Juga: Mengenal Kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu, Menguak Makna Filosofi Syariat

Selain itu, banyak juga yang kemudian penasaran untuk membuktikan mana alfiyah yang lebih unggul, apakah benar karya Ibn Malik atau Ibn Mu’thi. Ali Musa Asy-Syomali misalnya, dalam mukadimah di studi filologinya terhadap Syarh Alfiyah Ibn Mu’thi, ia mengatakan sudah bertahun-tahun penasaran terhadap klaim yang dinyatakan oleh Ibn Malik tersebut, apakah benar Alfiyah Ibn Mu’thi tidak lebih unggul dari Alfiyah Ibn Malik

Setelah mendapat manuskrip asli “Syarh Alfiyah Ibn Mu’thi” di Turki, Ali Musa Asy-Syomali bukan hanya menyalin dan menerbitkannya. Ia juga menyajikan biografi Ibn Mu’thi secara lengkap, menelusuri afiliasi mazhab Ibn Mu’thi (apakah mazhab Basrah atau Kuffah?), dinamika pemikirannya, hingga akhirnya melakukan studi banding antara Alfiyah Ibn Malik dan Ibn Mu’thi. Lalu bagaimana hasil dari studi perbandingan tersebut? Simak penjelasan berikut. 

Penulisan seribu bait merupakan metode baru yang dimulai atau ditemukan pertama kali oleh Ibn Mu’thi. Sebelum Ibn Mu’thi, belum pernah ada ulama lain yang menulis ilmu gramatikal Arab dengan menggunakan metode seribu bait. Beliau merupakan shahibul fikrah atau pemilik ide. Ini berbeda dengan Ibn Malik yang hanya mengikuti cara kerja Ibn Mu’thi. 

Selanjutnya adalah terkait kapan alfiyah ditulis. Alfiyah karya Ibn Mu’thi selesai ditulis pada waktu beliau masih sangat muda sekali, tidak lebih dari 31 tahun, sehingga pengalamannya cenderung masih minim. Berbeda dengan Ibn Malik yang menulis alfiyah setelah sangat lama berkutat dengan ilmu nahwu dan lebih dahulu mempelajari alfiyah karya Ibn Mu’thi. 

Karena Ibn Mu’thi menulis pada waktu pengalamannya masih sedikit, beliau banyak mencampurkan banyak persoalan yang berbeda ke dalam satu bab. Sementara itu, Ibn Malik yang pengalamannya lebih matang mampu memerinci berbagai persoalan yang berbeda ke dalam bab yang berbeda-beda. 

Baca Juga: Hujjah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Kitab yang Ditulis Ulama Jogja Untuk Membantah Tuduhan Bid’ah

Meski demikian, satu hal yang harus digarisbawahi adalah banyak bait yang ditulis oleh Ibn Malik menukil Ibn Mu’thi. Terkadang, Ibn Malik hanya mengadopsi ide Ibn Mu’thi namun kalimatnya diganti. Berikut salah satu contohnya,

القَولُ فِي تَوَابِعِ الكَلْمِ الأُوَلْ # نَعْتٌ وَتَوكِيدٌ وَعَطْفٌ وَبَدَلْ (الفِية ابنُ مُعْطِيْ)

Perkataan dalam kata-kata yang mengikuti (isim-isim) yang di awal # (adalah) na’at, taukid, ‘athaf, dan badal.

يَتَّبِعُ فِي الإِعْرَبِ الأَسْمَاءَ الأُوَلْ # نَعْتٌ وَتَوْكِيدٌ وَعَطْفٌ وَبَدَلْ (الفِية ابنُ مَالك)

Dalam hal i’rab, yang mengikuti isim-isim yang di awal # (adalah) na’at, taukid, ‘athaf, dan badal 

Perbedaan lain yang cukup menonjol adalah mengenai sumber tulisan. Alfiyah karya Ibn Mu’thi banyak sekali mengutip ayat-ayat al-Quran dan contoh-contoh syair, sementara Ibn Malik sangat sedikit sekali.

Dari sisi cara penyampaian, hampir di banyak bab Ibn Mu’thi sering mengawali pembahasannya dengan kata al-Qaul. Ini yang tidak ada dalam alfiyah Ibn Malik. Penjelasan Ibn Mu’thi pun cenderung lebih detail karena sering menjelaskan lebih dahulu pengertian atau teorinya, sementara Ibn Malik langsung kepada praktiknya. 

Salah satu contohnya adalah pembahasan tentang “pengganti fa’il” (naibul fa’il). Ibn Mu’thi menjelaskan alasannya lebih dahulu mengapa fa’il bisa dibuang, baru kemudian berkata maf’ul yang menggantikan fa’il dibaca rafa’ (lihat bab Ma Lam Yusamma Faai’luhu). Sementara itu, Ibn Malik hanya mengatakan bahwa ada ma’ful yang menggantikan fa’il dan kemudian memberi contohnya (lihat bab An-Naibul Fa’il). 

Selain itu, ada beberapa topik yang dibahas oleh Ibn Mu’thi namun tidak dibahas oleh Ibn Malik, seperti halnya kaidah-kaidah Imla’ yang tidak ada dalam Alfiyah Ibn Malik. 

Setelah menjelaskan banyak perbedaan yang ada (beberapa seperti diuraikan singkat di atas), Ali Musa kemudian menolak pendapat-pendapat yang mendukung keunggulan alfiyah ibn Malik seperti pendapat Syaikh al-Khudhary dalam “Hasyiyah Al-Khudhary” dan pendapat Syaikh Shabban dalam “Hasyiyah ash-Shabban”. 

Baca Juga: Al-Amtsilah al-Tasrifiyyah, Kitab Kunci Untuk Bisa Membaca Kitab Kuning

Ali Musa mengatakan bahwa Alfiyah Ibn Mu’thi lebih unggul dari Alfiyah Ibn Malik. Ibn Mu’thi merupakan pelopor utama penulisan seribu bait, sementara Ibn Malik hanyalah penerus yang bahkan banyak menukil bait yang ditulis oleh Ibn Mu’thi atau mengadopsi idenya kemudian mengganti redaksinya. 

Dari penjelasan di atas, setidaknya ada satu hal penting yang bisa diambil pelajaran dari studi Ali Musa. Yaitu, tentang pernyataan keberanian Ibnu Malik bahwa “karyanya lebih unggul daripada Ibn Mu’thi”. Pernyataan inilah yang melandasi studi serius seperti dilakukan oleh Ali Musa, sehingga pengetahuan tentang mana alfiyah yang lebih unggul dapat diketahui meskipun (saya sendiri) belum melakukan kajian perbandingan sendiri.

Bukan hanya itu, Alfiyah Ibn Mu’thi beserta syarah-nya juga menjadi bisa diakses oleh banyak orang berkat studinya yang berangkat dari klaim “keberanian” Ibn Malik. Oleh karena itu, tidak seharusnya kalimat “lebih unggul daripada Ibn Mu’thi” hanya dipahami sebagai bentuk “kesombongan” Ibn Malik. Sebab, pernyataan itu merupakan pemantik bagi peneliti atau penulis lainnya untuk berpikir dan berkarya lebih jauh lagi. Meski Ali Musa berkata Alfiyah Ibn Mu’thi lebih unggul”, namun saya berpendapat bahwa justru Alfiyah Ibn Malik yang lebih unggul karena dari pernyataan Ibn Malik, Ali Musa dan semua pembaca karya Ali Musa bisa mengetahui Alfiyah Ibn Mu’thi.