fbpx
Beranda Keislaman Hadis Siapa yang Pertama Kali Mempopulerkan Istilah "Riwayah-Dirayah" dan Menjadikannya Nama Cabang Ilmu?

Siapa yang Pertama Kali Mempopulerkan Istilah “Riwayah-Dirayah” dan Menjadikannya Nama Cabang Ilmu?

Harakah.idDalam sejarah, istilah ilmu riwayah dan ilmu dirayah tidak lahir begitu saja. Ada sosok yang menggunakannya untuk pertama kali, mempopulerkan sekaligus menjadikannya terminologi khusus yang mewakili satu cabang keilmuan tertentu.

Saat pertama kali belajar ilmu hadis, kita pasti disajikan dengan ilmu pengantar berupa pembagian ilmu hadis yang terdiri dari dua kategori besar, yaitu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis dirayah. Ilmu hadis riwayah merupakan ilmu tentang transmisi hadis dari orang ke orang. Ilmu ini dapat dikatakan sebagai penjaga ontologi hadis. Sedangkan ilmu hadis dirayah epistemologi hadis. Hasilnya, kita bisa lihat berbagai macam penelitian, tulisan, dan produk pemikiran lainnya tentang hadis dan ilmu hadis.

Boleh jadi, kita sering bertanya-tanya, siapa gerangan yang pertama kali membagi ilmu hadis menjadi dua seperti itu? Dalam beberapa diskusi, sering terdengar banyak orang mengira bahwa yang pertama membaginya adalah imam as-Suyuti (w. 911 H), dengan baitnya dalam Alfiyah fil Hadits.

علم الحديث ذو قوانين تعد * يدرى بها أحوال المتن والسند

Namun, benarkah as-Suyuti yang mencetuskannya? Atau ada ulama lain sebelumnya yang sudah memopulerkan itu? Jangan-jangan karena memang karya as-Suyuti lah yang mudah diakses sehingga kita belum menjumpai karya lain yang lebih tua tentang itu?

Pada awalnya, perkembangan ilmu hadis lebih banyak berorientasi pada riwayah hadis. Namun, bukan berarti ilmu dirayah hadis belum ada. Ia sudah ada, melainkan belum menjadi arus utama dan belum pula menjadi sebuah bangunan yang kokoh, mapan, dan paripurna. Meski demikian, secara kelahirannya dalam bentuk karya tulis, sebenarnya ilmu dirayah lebih dulu lahir daripada ilmu riwayah secara khusus. Al-Risalah karya al-Syafi’I (w. 204 H) adalah induknya.

Perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan kecenderungan dalam pola dan isu kajian hadis. Pada perkembangan berikutnya, pola kajian hadis tidak lagi riwayahoriented, melainkan lebih kepada dirayahoriented.

Adalah al-Ramahurmuzi (265-360 H), orang yang pertama kali memperkenalkan dikotomi ilmu riwayah dan ilmu dirayah dalam ilmu hadis. Hanya saja, ia tidak menjelaskan cakupan dari kedua ilmu tersebut secara tegas. Dalam kitabnya, al-Muhaddits al-Fashil Baynar Rawi wal Wa’i, ia membuat sebuah pembahasan khusus tentang kriteria periwayat yang menguasai kedua cabang ilmu hadis tersebut,

القول في فضل من جمع بين الرواية والدراية

Ia juga membuat satu fasal khusus lagi tentang adanya dikotomi ini. Lagi-lagi, ia juga tidak menjelaskan kriteria kedua ilmu tersebut secara jelas. Fasal tersebut adalah,

فصل آخر من الدراية يقترن بالرواية مقصور علمها على أهل الحديث

Dari sini pula, ia telah membuat definisi atau kriteria ahli hadis secara jami’ dan mani’. Seseorang tidak dapat disebut sebagai ahli hadis kalau ia belum memiliki dua kompetensi sekaligus, yaitu riwayah dan dirayah. Hanya kompeten dalam periwayatan hadis, belum cukup disebut ahli hadis atau muhaddis.Hanya ahli dalam bidang dirayah juga belum cukup disebut sebagai ahli hadis. Harus ahli keduanya, baru dapat disebut sebagai ahli hadis.

Dalam hal pembagian ilmu hadis menjadi dua ini, ar Ramahurmuzi  juga diisnpirasi oleh salah seorang guru al-Bukhari (w. 256 H) yang bernama Abu ‘Ashim an-Nabil ad-Dlahhak (122-212 H), sebagaimana dikutip oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Jami‘ li Akhlairq al-Rawi  yang juga mengutipnya dari Abul ‘Abbas al-Harrani,

سمعت أبا عاصم يقول: الرئاسة في الحديث بلا دراية رئاسة نضلة

“Keahlian dalam bidang periwayatan hadis tanpa disertai dengan keahlian di bidang dirayah, pemahaman dan kritik, adalah keahlian yang tak berarti.”

Kemudian, Abu Shamah al-Maqdisi (w. 665 H) membagi ilmu hadis menjadi tiga kategori dan lebih rinci, meskipun saat itu belum ada penyebutan istilah riwayah dan dirayah. Pertama, ilmu yang secara khusus membahas tentang penyebaran dan transmisi hadis, baik melalui hafalan maupun tulisan. Kedua, ilmu yang membahas tentang kritik sanad, dan ketiga adalah ilmu tentang kritik dan pemahaman matan hadis.

Pembagian ini, kemudian disederhanakan menjadi dua saja oleh Ibnul Akfani (w. 794 H.) dalam kitabnya, Irsyadul Qashid Ila Asnal Maqashid fi Anwa‘il ‘Ulum, dan dinamailah dengan istilah ‘ilmul hadits riwaytan (menunjuk pembagian pertama kategorisasi al-Maqdisi), dan ‘ilmul hadits dirayatan (menunjuk pada jenis kedua dan ketiga).

Karena Ibnul Akfani adalah orang yang memopulerkan dikotomi itu dengan penamaan yang jelas, yaitu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis dirayah, maka beliaulah yang dalam buku-buku ilmu hadis seringkali disebut sebagai orang yang pertama kali membaginya menjadi dua. Padahal sebelumnya, istilah riwayah dan dirayah sebagai ilmu, sudah ada sejak masa ar-Ramahurmuzi, bahkan sebelumnya, yaitu masa Abu Ashim an-Nabil ad-Dlahhak.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penemu istilah ilmu riwayah dan dirayah adalah an-Nabil ad-Dlahhak (122-212 H). Sedangkan yang merumuskan dan mematangkan pembagian itu pertama kali adalah ar-Ramahurmuzi (w. 360 H). Sementara itu, yang memopulerkan adalah Ibnul Akfani (w. 794).

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...