Sisi Lain Pemikiran Ibn Sina, Filsuf yang Divonis Kafir oleh Imam Al-Ghazali

0
393

Harakah.id – Pada titik tertentu, kata Ibn Sina, manusia akan menemukan rahasia shalat dan sampai pada terbukanya tabir rahasia ketuhanan.

Ibn Sina (w. 1037), seorang filsuf Muslim ternama sempat divonis kafir oleh Imam Al-Ghazali dikarenakan beberapa pemikiran filosofisnya yang tidak sesuai dengan pemahaman akidah Islam madzhab Asyariyah. Di dalam kitab Tahāfut al-Falāsifah dan al-Munqidz min al-Dhalāl, Al-Ghazali secara rinci mengurai dasar argumentasi atau alasan-alasan mengapa predikat kafir itu layak divoniskan kepadanya.

Ibn Sina tidaklah sendiri, vonis kafir itu juga dinisbatkan kepada Al-Farabi dan juga para filosof Yunani klasik baik yang beraliran materialisme (al-dahriyyūn), aliran naturalisme (al-thabī`iyyūn), dan para filosof semisal Sokrates, Platon, dan Aristoteles, walau dalam pembahasannya sudah menyentuh wilayah metafisis ketuhanan (al-ilāhiyyūn).

Tiga tema utama filsafat yang ditentang secara keras oleh Al-Ghazali adalah pertama, menyangkut pahaman tentang kekekalan alam – yaitu kekal ke waktu lampau dan masa depan.  Kedua terkait pengetahuan Allah yang hanya mengetahui hal-hal yang universal (kulliyat), tidak mengetahui kepada hal-hal yang partikular (juziyyat). Ketiga, pembahasan terkait kebangkitan jiwa tanpa jasad di Hari Akhirat.

Baca Juga: Ibn Sina, Covid-19, dan Tumbuhan Obat Penangkal Wabah

Ketiga tema pokok itulah yang ditentang keras oleh Al-Ghazali sesampai ia harus memvonis kafir para filosof yang hidup jauh sebelum dirinya. Tujuannya sangatlah mulia, yaitu menjaga dan memurnikan akidah umat Muslim dari percampuran pemikiran-pemikiran para filosof tersebut.

Banyak sarjana yang menilai bahwa kritik keras yang diluncurkan oleh Al-Ghazali kepada para filosof itu merupakan titik di mana peradaban umat Islam mengalami kemunduran, terlebih mayoritas umat Islam –tentunya yang berafiliasi dengan madzhab Asyariyah— antipati kepada filsafat, bahkan sampai mengharamkan untuk mempelajarinya.

Namun demikian, bagi Ulil Abshar Abdalla hal demikian sangat berlebihan dan tidak benar adanya. Ia menilai bahwa Al-Ghazali sangat proporsional dalam menilai ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh para filosof. Dari keenam tema pokok –matematika, logika, fisika, metafisika, politik, dan etika— tidaklah semua diharamkan. Justru Al-Ghazali sangat menganjurkan umat Islam untuk mempelajari ilmu logika (al-mantiq), yang mana bidang ilmu ini jelas merupakan tema dasar yang dikembangkan oleh para filosof klasik khususnya Aristoteles.

Di pesantren-pesantren salaf, ilmu mantiq ini diajarkan kepada para santri. Hal demikian, kata Gus Ulil, tentu berkat peran besar al-Ghazali, sehingga bagian ilmu filsafat hidup dan dipelajari di pesantren-pesantren.

Terkait pembahasan tersebut, silakan Anda ikuti pengajian online Gus Ulil supaya mendapatkan penjelasan yang jelas dan gamblang terkait dinamika dan perseteruan pemikiran para filosof dengan sang Hujjatul Islām, Al-Ghazali. Namun dalam tulisan ini, saya hendak menghadirkan sisi lain pemikiran Ibn Sina yang jarang sekali orang sentuh, yaitu mengenai shalat.

Kita tahu, bahwa shalat dalam khazanah keilmuan Islam masuk ke dalam pembahasan bidang fikih. Namun demikian, Ibn Sina mencoba untuk menjelaskan shalat dalam dimensi lain, yaitu dimansi esoteris.

Dikisahkan bahwa ketika Ibn Sina sedang dalam keadaan bingung dan kepayahan karena memikirkan suatu permasalahan yang belum dapat jawaban, lantas ia bergegas ke masjid untuk menunaikan shalat. Ia memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Setelah itu, tak berselang lama, ia kemudian mendapatkan pencerahan sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang sebelumnya membuat dirinya bingung.

Baca Juga: 6 Ilmuan Muslim yang Punya Kontribusi Besar di Bidang Astronomi

Di dalam risalah pendek berjudul al-Kasf `an MāhiyatusShalāt, Ibn Sina memosisikan shalat sebagai ritual ibadah yang memiliki kedudukan yang tinggi dan sentral bagi eksistensi agama, karena bagaimanapun hal tersebut sesuai dengan perkataan Nabi bahwa Shalat merupakan pondasinya agama (al-shalat `imād al-dīn).

Agama sendiri bagi Ibn Sina, memiliki peranan yang penting bagi manusia, di mana agama menuntun manusia untuk dapat menyucikan jiwanya dari sifat jahat dan keinginan-keinginan tak terbatas yang bersifat duniawi.

Agama mewajibkan manusia untuk beribadah, karena tujuan dari penciptaan manusia sebagai entitas makhluk yang sempurna di antara makhluk lainnya adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Ia mengutip ayat Al-Qur’an (51;56).

“Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56)

Bagi Ibn Sina, ibadah merupakan sarana manusia untuk dapat mengenal dan mengetahui Tuhan melalui kedalaman hati yang suci dan murni. Dan dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh agama, Shalat merupakan ritual ibadah yang paling utama dan paling efektif untuk dapat mengenal Tuhan (ma`rīfatullāh).

Ibn Sina menyatakan, “hakikat shalat adalah mengenal Allah dengan keesaan-Nya, keniscayaan wujud-Nya dan kesucian esensi-Nya.” Ma`rifat sendiri bagi Ibn Sina merupakan kedudukan tertinggi dari sekian banyak tangga-tangga pencapaian menuju Tuhan.

Baca Juga: Konsep Sunnah Taqririyah dan Logika di Balik Bid’ah-Bid’ah yang Hasanah

Shalat juga dapat dimaknai sebagai latihan spiritual (rīyādlah) yang dilakukan manusia dengan tujuan untuk menghapus segala sesuatu selain daripada Kebenaran, mengganti jiwa amarah kepada jiwa yang tenang, dan menghaluskan pikiran dan perasaan. Sehingga dalam keadaan jiwa semisal itu, segala bentuk pengetahuan mengenai kebenaran, kebaikan, dan kesempurnaan dapat dengan mudah masuk ke dalam diri manusia yang paling dalam.

Manusia yang merindukan pertemuan antara dirinya dengan Tuhan yang Maha Sempurna dapat dilakukan melalui shalat, dengan syarat ia harus mampu menghadirkan hati yang suci dan jiwa yang bersih. Ibn Sina menamai hal ini dengan istilah al-shalāt al-bāthin al-haqīqi, di mana shalat tidak hanya dimaknai sebagai ritual yang melibatkan gerakan-gerakan dan ucapan-ucapan tertentu semata, namun juga menghadirkan aspek spiritual di dalamnya.

Pada titik tertentu, kata Ibn Sina, manusia akan menemukan rahasia shalat dan sampai pada pencapaian yang dituju, yaitu “terbukanya tabir rahasia ketuhanan; cahaya suci dari langit akan dipancarkan kepada setiap jiwa manusia yang shalat.” Ia terhubung dan bermusyahadah dengan Sang Ilahi.