Beranda Headline Soal Wadas: Apakah Green Movement Versi Gus Dur Masih Relevan?

Soal Wadas: Apakah Green Movement Versi Gus Dur Masih Relevan?

Harakah.idBaru-baru ini, suara Wadas Melawan melambung di media sosial. Itu adalah akibat dari tindakan represif yang dilakukan terhadap warga Wadas yang menolak tanahnya ditambang dan dijadikan bendungan.

Mutakhir ini, tagar Wadas melawan masih trending di media sosial. Peristiwa itu berawal dari aksi penolakan warga desa terkait rencana penambangan untuk pembangunan Bendungan Bener di Desa Wadas, Puworejo, Jawa Tengah. Walhasil penangkapan, pengepungan oleh aparat kepolisian di Desa itu kini menjadi sorotan publik.

Peristiwa Wadas sebetulnya bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, pada 23 April 2021 aksi penolakan warga yang berujung bentrok dengan Polisipun sempat geger. Hingga saat ini, kasus Wadas masih jadi persoalan dan belum ada titik temu.

Melihat peristiwa di atas, seketika saya teringat sosok Gus Dur saat menjembatani persoalan isu lingkungan hidup. Bagi Gus Dur, kepedulian alam sekitar haruslah dijaga, juga dipertahankan dari hal-hal yang dianggap merusak.

Membela Atas Nama Kemanusiaan

Saat vokal di era Orde Baru dan menjabat Presiden periode 1999-2001, Gus Dur sering kali membahas permasalahan lingkungan hidup dan sumber daya alam Indonesia. Ia menyoroti kasus investasi sepeninggal Orde Baru yang hampir porak-poranda karena regulasi pemerintah yang memberi karpet merah kepada investor baik lokal maupun asing. Misalnya pada kasus PLTN di Muria, Kudus tahun 1994.

Bahkan, sejak dilengserkan melalui keputusan sepihak MPR, Gus Dur tetap pada pendiriannya untuk mendukung gerakan lingkungan hidup. Sebut saja tragedi Lumpur Lapindo di Siodoarjo tahun 2006. Menurutnya, peristiwa itu adalah tanggungjawab Lapindo dan ganti rugi terhadap warga yang terkena imbas wajib dipenuhi berdasarkan kesepakatan bersama.

Selanjutnya, saat Gus Gur membela Aak Abdullah, pendiri laskar hijau di Lumajang. Sekitar tahun 2007, Aak dan pengikutnya dianggap sesat oleh MUI ketika membuat gerakan maulid hijau. Bagi Gus Dur, seharusnya gerakan ini harus didukung sebagai upaya pelestarian lingkungan dan tradisi lokal tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai keagamaan.

Sepak terjang Gus Dur di atas hanya sebagian saja disebutkan. Pertanyaannya, bagaimana Gus Dur bisa menangani dan memperoleh keberhasilan hingga mendapat gelar penghormatan sebagai tokoh pejuang lingkungan hidup dari WALHI pada tahun 2010?

Pendekatan Gus Dur Soal Lingkungan Hidup

Berangkat dari pertanyaan di atas, setidaknya saya ingin mengupas sikap dan pendekatan pemikiran keislaman Gus Dur yang sebetulnya saling berkaitan dengan Green Movement (Gerakan Hijau) soal lingkungan hidup.

Sikap Gus Dur mendukung gerakan lingkungan hidup setidaknya ada lima pendekatan yang dipakai. Pertama, murni sikap kemanusiaan. Sehingga tidak salah jika penyataanya; Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

Artinya, menurut Gus Dur bahwa harmonisasi tercipta jika kita sama-sama menghargai sesama makhluk tuhan dan tidak lupa dengan menjaga, melestarikan lingkungan sekitar.

Kedua, maqasidus syari’ah (epistemologi hukum Islam). Gus Dur menyoroti pentinganya maqasidus syari’ah dalam konteks keindonesiaan yang harus dibarengi dengan memelihara agama, jiwa, akal, kehormatan. Dan menjaga lingkungan (hifdzul bi’ah). Imam Asy-Syatibi berkata; Kalau rusak lingkungan, pasti sulit kita bicara bagaimana menjaga nilai agama, menjaga jiwa, akal, harta, dan keturunan. Inilah yang kemudian mempengaruhi cara berfikir Gus Dur.

Ketiga, pendekatan ala NU (ahl al-Sunnah wa al-Jamaah). Gus Dur tidak dapat dipisahkan dari NU. Oleh karena itu, cara berfikir Gus Dur juga tidak bisa dilepaskan dari cara berfikir NU; yaitu tawazun (seimbang), amar ma’aruf nahi mungkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), tawassut (moderat), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleransi).

Soal lingkungan hidup, Gus Dur menggunakan pendekatan tawazun. Bagi Gus Dur, sikap seimbang semisal menghormati suatu argumen tidak pandang bulu kanan, kiri. Tujuannya sama-sama mencari titik temu. Sementara amar ma’ruf nahi mungkar dimaknai dengan keadilan untuk mencegah kemungkaran misalnya merugikan ekosistem.

Cara berfikir NU di atas melahirkan kaidah fiqh berbunyi; darul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menghindarkan kerusakan/kerugian lebih diutamakan daripada mengupayakan kamaslahatan). Bagi Gus Dur, kaidah ini bertujuan mencegah mudharat yang lebih besar; dan berupaya mewujudkan kemaslahatan. Maka tidak heran jika Gus Dur ketika menangani beberapa persoalan bangsa meskipun dianggap neyeleneh namun sikap luwes (kehati-hatian), bijaksana, moderat, damai, realistis, dan akomodatif, terlihat dari sosok Guru Bangsa ini.

Keempat, prinsip relasi antara Tuhan, manusia, dan alam. Ketiga unsur itu menurut Gus Dur adalah satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan saling ketergantungan. Kelima, etika moral Islam Rahmatal lil ‘alamin ala Gus Dur. Artinya, tujuan akhir moral etik orang muslim adalah rahmatal lil alamin, rahmat bagi semesta alam, dan bukan hanya untuk manusia saja.

Begitulah kira-kira sikap dan pendekatan Gus Dur dalam menangani persoalan bangsa. Setidaknya dari kelima poin di atas lebih bersifat humanis (dialog) dan seharusnya masih relevan untuk kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari bahkan peristiwa Wadas sekalipun. Sebab puncak dari segala sesuatu meskipun itu agama maupun politik adalah kemanusiaan.

Sumber Bacaan:

Barton, Greg, Biografi Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (Yogyakarta: Lkis, 2012).

Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 terjemahan Farid Wajidi dan MA. Bachtiar (Yogyakarta: Lkis, 2003).

Farisa, Fitria, https://nasional.kompas.com/read/2022/02/09/17020441/awal-mula-warga-wadas-melawan-tolak-tambang-batu-andesit-untuk-proyek?page=all, dikunjungi pada 9 Februari 2022).

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...