Beranda Gerakan Soeharto Pun Dilawan, Kiai Bisri Pasang Badan Guna Merevisi RUU Perkawinan yang...

Soeharto Pun Dilawan, Kiai Bisri Pasang Badan Guna Merevisi RUU Perkawinan yang Dianggap Menyusahkan

Harakah.idPara ulama menyayangkan RUU Perkawinan yang dikeluarkan pemerintah tahun 1973. Di masa ketika mengkritik pemerintah dianggap tabu dan berbahaya, Kiai Bisri justru pasang badan untuk merevisi RUU Perkawinan yang dianggap menyusahkan tersebut.

Fikih identik dengan khilafiyah atau perbedaan pendapat. Antara satu ulama dengan ulama lain terkadang berbeda pendapat terkait persoalan yang sama. Perbedaan itu biasanya disebabkan oleh perbedaan metodologi, konteks sosial, dan pemahaman ulama terhadap teks.

Perbedaaan seperti ini sudah sangat lumrah dalam Islam. Bahkan, pada masa sahabat pun ,mereka berbeda-beda dalam memahami ucapan Nabi. Tidak sedikit di antara mereka yang langsung mengklarifikasi kebenarannya pada Nabi, tetapi Nabi malah tidak menyalahkan dan membenarkan keseluruhannya.

Baca Juga: Sarung Kiai Asnawi vs Dasi Kiai Saifuddin Zuhri, Dan Cara Kaum Sarungan Antisipasi Kehadiran Kolonial

Oleh sebab itu, orang yang mengerti fikih tidak akan mudah kagetan, menyalahkan orang lain, dan mengutuk orang yang berbeda pendapat dengannya, sebab faktanya perkembangan Islam diiringi oleh lahirnya berbagai macam aliran dan mazhab fikih. Keragaman pendapat dalam memahami Islam ini sebenarnya rahmat bagi umat Islam. Perbedaan menjadi rahmat bila setiap orang bisa saling memahami dan mengerti. Jika tidak, tentu yang terjadi sebaliknya, perbedaan tidak lagi membawa rahmat, tapi malah petaka dan bencana.

Meskipun fikih identik dengan perbedaan pendapat, namun bukan berati seluruh persoalan fikih perlu diperdebatkan. Ada juga beberapa hal yang memang sudah disepakati kebolehan dan keharamannya, karena dalil dan argumentasinya sudah jelas. Pada persoalan seperti ini, kita tidak boleh menyalahi konsensus para ulama dengan menghadirkan pendapat yang berbeda.

Misalnya, mayoritas ulama menyepakati bahwa hukum shalat lima waktu adalah wajib, puasa ramadhan wajib, zina haram, korupsi haram, dan lain-lain. Masing-masing persoalan ini sudah disepakati hukumnya dan tidak boleh berbeda pendapat dalam masalah ini. Kalau ada orang yang mengatakan puasa ramadhan tidak wajib berati pendapatnya sudah menyalahi konsensus umat Islam dan pendapat tersebut mesti diabaikan dan diluruskan.

Prinsip inilah yang selalu dipegang teguh oleh Kiai Bisri Syansuri. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat teguh berpegang pada aturan fikih, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun pada saat merespon kebijakan yang dikeluarkan oleh negara. Pada tahun 70-an, ketika Kiai Bisri aktif di PPP, beliau kerapkali mengkritisi kebijakan pemerintah dan undang-undang yang bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Sebagaimana diketahui, mengkritik pemerintah dan menolak aturan pemerintah pada waktu itu masih sangat tabu dan jarang dilakukan.

Baca Juga: RUU PKS, Dari Fenomena Kekerasan Seksual Hingga Persoalan Politik Afirmasi

Kiai Bisri termask orang yang tidak bisa berkompromi bila menyangkut persoalan dasar agama. Soeharto pun beliau lawan bila aturan yang dikeluarkannya bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Perlawanan itu pernah dilakukan Kiai Bisri pada saat pemerintah mengeluarkan RUU perkawinan tahun 1973. RUU ini dianggap pertentangan dengan ajaran Islam dan dikritisi oleh banyak ulama.

Kiai Bisri berada di garda depan dalam mengkritik RUU ini dan mengajukan RUU alternatif yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau mengumpulkan beberapa orang tokoh NU di Jompang, tepatnya di Denanyar, untuk membahas RUU perkawinan dan mengajukan revisinya.

Di antara pasal yang dinilai bertentangan dengan konsensus ulama adalah mengenai keabsahan perkawinan. Dalam pasal 2 disebutkan, “Perkawinan adalah sah bila dilakukan di hadapan pegawai pencatat perkawinan, dicatatkan dalam daftar pencatat perkawinan oleh pegawai, dan dilangsungka menurut undang-undang ini dan/atau ketentuan hukum perkawinan pihak-pihak yang melakukan perkawinan, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang”.

Musyawarah yang diprakasai Kiai Bisri ini merevisi dan menghapus kata “Sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang”, karena dalam fikih tidak ada aturan yang menyebutkan perkawinan tidak sah bila tidak dicatat oleh pegawai negara dan tidak ada pula keharusan mencatatnya. Selama proses pernikahan memenuhi syarat dan rukun, maka nikah sudah dianggap sah oleh mayoritas ulama.

Baca Juga: Alasan Kiai Saifuddin Zuhri Menolak Keputusan Soekarno Tentang Pembubaran HMI

Karena dalam kaidah fikih dikenal:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْه

“Tidak boleh mengingkari perkara yang masih diperdebatkan, tetapi yang wajib diingkari adalah perkara yang sudah disepakati (keharamannya)

Ada banyak isi RUU yang dianggap bertentangan dengan Islam dan musyawarah ulama NU sudah merevisinya dan menyerahkan putusan tersebut pada PBNU di jakarta agar segera dilanjutkan ke PPP untuk dibahas di DPR. PPP mengajukan pada Fraksi PPP DPR-RI agar menjadikan revisi RUU dari Kiai Bisri sebagai rancangan yang harus diperjuangkan. Setelah melalui proses panjang dan usaha keras, akhirnya revisi RUU tersebut disetujui dan disahkan serta tidak lagi bertentangan dengan hukum Islam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...