fbpx
Beranda Sajian Utama Soekarno, Kiai Basari Sukanegara dan Ayam Panggang Bumbu Kemiri

Soekarno, Kiai Basari Sukanegara dan Ayam Panggang Bumbu Kemiri

Harakah.idSoekarno memang dikenal dekat dengan para ulama, salah satunya Kiai Ahmad Basari Sukanegara. Dalam banyak kesaksian, Soekarno seringkali berkunjung ke Sukanegara untuk berdzikir, meminta petuah, atau sekedar silaturahim guna menenangkan diri.

Dalam memoarnya, Saksi Sejarah: Mengikuti Perjuangan Dwitunggal, DR. R. Soeharto, dokter pribadi Soekarno menceritakan satu kisah mengenai pertemuan Soekarno dan Kiai Ahmad Basari Sukanegara;

“Sebagai dokter pribadi memang saya kerapkali menyertai perjalanan Bung Karno – ya sebagai sekretaris, ya sebagai ajudan, dan entah sebagai apa lagi, yang oleh orang Belanda boleh dikualifikasikan sebagai een manusje van alles. Pernah pada suatu malam setelah maghrib ia mengajak saya pergi ke Sukanegara, sebuah desa di sebelah selatan Cianjur. Kami berdua naik mobil yang dikemudikan oleh Bang Sarip, sopir Bung Karno dari Gang Raden Salah II. Bung Karno pergi ke sana hendak menemui seorang kyai yang telah amat lanjut usianya – lebih dari delapan puluh tahun. Kyai itu pernah berkelana puluhan tahun lamanya di seluruh Nusantara, akhirnya menetap di Sukanegara dan mendirikan pesantren yang terkenal. Bung Karno berkenal dengan Kyai Sukanegara melalui perantaraan R.A.A. Wiranatakusumah, yang pernah menjadi Bupati Cianjur dan Bupati Bandung, kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri Kabinet R.I. yang pertama.”

KH. Ahmad Basari guru Soekarno adalah seorang Kiai asal Madura, Jawa Timur. Setelah merantau dan belajar kepada banyak Kiai di banyak pesantren, beliau lantas menetap dan mendirikan Pesantren Sukanegara di Cianjur Selatan, Jawa Barat. Salah satu guru kharismatik Kiai Ahmad Basari Sukanegara adalah Hadlratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari.

Tidak hanya sekali Soekarno datang dan sowan kepada Kiai Sukanegara. Ini tampak dalam hubungan yang begitu akrab, yang ditunjukkan Soekarno dan Kiai Ahmad Basari Sukanegara. Sebuah hubungan yang begitu hangat, yang juga dirasakan oleh DR. Soeharto;

“Perjalanan ke Sukanegara itu melalui Sukabumi, dan tiba di sana menjelang tengah malam. Hubungan antara Bung Karno dan Pak Kyai tampak akrab. Keduanya segera mengadakan pembicaraan empat mata. Saya menggunakan kesempatan itu untuk tidur.”

Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan oleh Soekarno dan Kiai Sukanegara malam itu. Dari informasi dan narasi DR. Soeharto, tampaknya keduanya sedang membicarakan sesuatu yang penting, personal dan sangat urgen. Soekarno memang dikenal banyak memanfaatkan kebijaksanaan para Kiai untuk mengambil satu keputusan dan kebijakan yang dinilainya sangat penting.

nucare-qurban

Sebagaimana tradisi pesantren, setelah pembicaraan dirasakan tuntas, waktunya makan-makan;

“Tengah malam saya dibangunkan untuk late supper. Nasi yang dihidangkan khas kegemaran Bung Karno: nasi putih yang pulen dan wangi, hangat, dengan lauk ayam panggang bumbu kemiri yang tidak terlalu halus menumbuknya dan tidak terlalu pedas, serta sayur bening – bayam dan jagung – yang agak manis rasanya. Inilah menu yang dihidangkan setiap Bung Karno berkunjung ke pesantren itu. Ia mengatakan hidangan semacam itu selain enak ya menyegarkan badan. Dan Pak Kyai berkata, menu seperti itu di jaman Kerajaan Pajang dijadikan makanan standar bagi prajurit yang kembali dari medan perang.”

Menu hidangan yang disuguhkan Kiai Sukanegara malam itu menyiratkan sebuah pesan, bahwa Soekarno tak lain adalah prajurit yang tengah rehat dari medan perang. Bukan untuk berhenti total, kedatangan Soekarno ke Sukanegara tak lain adalah bentuk pengisian ulang energi untuk kembali lagi bertempur di medan perang. Bukan hizb ataupun sepuhan dzikir, menu utama pengisian ulang energi yang diberikan Kiai Sukanegara justru adalah nasih hangat, ayam panggang bumbu kemiri dan sayur bening. Menu favorit Soekarno yang hampir pasti ada tiap kali beliau ke Sukanegara.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...