Beranda Khazanah Status Hagia Sophia dan Pertaruhan Reputasi Turki di Kancah Internasional

Status Hagia Sophia dan Pertaruhan Reputasi Turki di Kancah Internasional

Harakah.idMeski posisi Erdogan di negaranya semakin kokoh karena semakin kuatnya dukungan masyarakat mayoritas kepadanya, tetapi hal ini sekaligus mempertaruhkan reputasi Turki di kancah Internasional.

Sejak awal berdirinya, Hagia Sophia mengalami beberapa kali alih fungsi bangunan. Disusul dengan perombakan untuk menguatkan karakter status yang sedang disandangnya.

Secara berurutan, Hagia Sophia awalnya diresmikan sebagai gereja pada tahun 360 M. Kemudian menjadi katedral Ortodoks Yunani pada tahun 537-1204 M, katedral Katolik Roma pada tahun 1204-1261 M, dan katedral Ortodoks Yunani pada tahun 1261-1453 M.

Setelah Konstantinopel ditaklukkan oleh Kekaisaran Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Fatih, Hagia Sophia dirubah menjadi Masjid Aya Sofya, sejak tahun 1453 M hingga tahun 1935 M.

Ketika Kesultanan Turki Usmani runtuh dan berubah menjadi Republik Turki, paham sekularisme pun menguat di sana. Hal ini berakibat pada sekularisasi terhadap Hagia Sophia, yang awalnya masjid, kemudian dialihfungsikan menjadi museum.

Sekarang tiba saatnya Hagia Sophia dirubah kembali statusnya menjadi Masjid Hagia Sophia. Parlemen Turki memutuskan untuk membatalkan dekrit presiden tahun 1934 yang merubah Hagia Sophia menjadi museum. Tidak lama berselang, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan dekrit yang berisi pembukaan kembali Hagia Sophia sebagai tempat peribadatan.

Meski posisi Erdogan di negaranya semakin kokoh karena semakin kuatnya dukungan masyarakat mayoritas kepadanya, tetapi hal ini sekaligus mempertaruhkan reputasi Turki di kancah Internasional.

Mulai dari sindiran, pernyataan kekecewaan, bahkan kecaman pun terus-menerus mengalir ke Turki, terlebih Erdogan. Hingga menguat kembali istilah Erdoganisme dalam diskursus politik internasional.

Pada hari yang sama dengan diputuskannya Hagia Sophia menjadi masjid, Jumat, 10 Juli 2020, UNESCO menyampaikan pernyataan sikap dan kekecewaannya melaui situs resmi dan akun media mainstream miliknya.

Sebagai lembaga di bawah PBB, yang bertugas mengurusi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan, UNESCO menuturkan bahwa belum ada pemberitahuan atau pun konsultasi terkait perubahan status bangunan warisan dunia tersebut.

Sekretaris jenderal Ioan Sauca, melalui surat yang dirilis pada hari Sabtu, 11 Juli 2020, menyayangkan keputusan tersebut. Menurutnya, Hagia Sophia (sebelumnya) telah menjadi tempat yang terbuka, tempat pertemuan, serta inspirasi bagi orang-orang dari semua bangsa.

Sauca juga menambahkan, “Kita harus saling mengerti, menjunjung penghormatan, menggelar dialog dan kerja sama, serta menghindari lahirnya permusuhan dan perpecahan masa lalu.”

Keputusan Erdogan ini juga memicu kekecewaan yang mendalam dari negara Prancis. Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Prancis menuturkan penyesalannya terhadap keputusan Turki yang merubah Hagia Sophia menjadi bangunan eksklusif. Karena keputusan ini dapat menimbulkan keraguan terhadap modernitas Turki. Ia pun berharap supaya Hagia Sophia tetap dapat mewakili toleransi dan keragaman di Turki.

Masih banyak lagi ungkapan kekecewaan atas keputusan Turki yang secara sepihak merubah Hagia Sophia menjadi tempat peribadatan. Seperti Amerika Serikat yang diwakili oleh Departemen Luar Negeri, Morgan Ortagus. Kemudian dari negara tetangga yang sekaligus menjadi pesaingnya, yaitu Yunani.

Untuk meredam segala komentar dari negara-negara tetangga, Erdogan mengatakan dengan tegas bahwa Hagia Sophia adalah urusan internal Republik Turki. Memang benar, negara lain berhak menyampaikan perasaannya, tetapi pemilik otoritas paling besar dari Hagia Sophia adalah masyarakat Turki sendiri.

Terlepas dari kecaman yang terus mengalir ke Turki, Erdogan tetaplah seorang pahlawan bagi mayoritas Turki. Ia merupakan sosok yang menjadi perantara terwujudnya cita-cita pemeluk Islam di Turki.

Berawal dari penghapusan undang-undang paling represif, yaitu larangan berhijab dan larangan memelihara jenggot, pada tahun 2013. Kemudian menguatkan materi pelajaran agama Islam di sekolah dan menyetarakan derajat lulusan madrasah dengan lulusan sekolah umum. Yang paling baru, mencabut status Hagia Sophia dari museum, dan merubahnya menjadi masjid.

Selanjutnya, kita hanya bisa berharap, semoga keputusan dikembalikannya Hagia Sophia menjadi masjid merupakan keputusan terbaik yang diambil oleh pemerintah Turki. Juga membawa kemaslahan bagi semua pemeluk agama di dunia, khusunya pemeluk agama Islam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...