Beranda Khazanah Subhanallah! Ternyata Sinar Matahari Bisa Jadi Desinfektan Alami, Ini Penjelasannya

Subhanallah! Ternyata Sinar Matahari Bisa Jadi Desinfektan Alami, Ini Penjelasannya

Harakah.id Banyak cara yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus tersebut, salah satunya adalah penggunaan densifektan. Dengan letak geografis Indonesia yang sangat strategis, pada dasarnya negri kita setiap hari mendapatkan sumber densifektan alami, yaitu matahari.

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS Saba: 15)

Indonesia adalah negri yang memiliki beraneka ragam kekayaan alam. Terletak di belahan katulistiwa, terhampar di area lintang rendah dengan 6° Lintang Utara dan 11° Lintang Selatan, bumi yang dikenal sebutan Nusantara ini selalu disinari sinar matahari setiap harinya. Anugrah terbesar dari Allah SWT bagi negri tercinta kita ini. Mudah-mudahan negri kita termasuk ke dalam baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur sebagai mana disebutkan dalam QS Saba : 15. Aamiin

Kini negri kita sedang berduka dengan menyebarnya virus corona covid-19. Banyak cara yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus tersebut, salah satunya adalah penggunaan densifektan. Dengan letak geografis Indonesia yang sangat strategis, pada dasarnya negri kita setiap hari mendapatkan sumber densifektan alami, yaitu matahari.

Besarnya kerapatan energi matahari yang sampai ke atmosfer bumi bisa mencapai 1366 watt/m2, yang merupakan energi total dengan 50% sinar inframerah, 40% cahaya tampak (visible light), dan 10% sinar UV (ultraviolet). Pada permukaan bumi, enegi tersebut berkurang menjadi 1120-1000 watt/m2, dengan 44% cahaya tampak dan 3% sinar UV (dengan posisi matahari berada di puncak), lalu sisanya adalah sinar inframerah.

Sinar matahari memiliki spektrum panjang gelombang antara 100 nm dengan 1 mm. Sinar UV yang sampai di permukaan bumi terdiri dari UV-C dengan panjang gelombang 100-280 nm, UV-B dengan panjang gelombang 280-315 nm, dan UV-A dengan panjang gelombang 315-700 nm (1 nm = 10-9 m). Spektrum Cahaya Tampak memiliki panjang gelombang 380-700 nm, dan sinar inframerah memiliki panjang gelombang 700-106 nm. Dibandingkan daerah-daerah sub-tropis, negri kita mendapatkan sinar UV paling besar, karena berada di katulistiwa.

Energi dari sinar matahari tersebut, sering digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk menjemur hasil tani ataupun hasil hutan. Selain itu, masih banyak lagi kebergantungan masyarakat kita terhadap sinar matahari. Di sisi lain, terdapat hal yang belum diketahui oleh banyak orang, bahwa energi dari sinar UV matahari sangat bermanfaat sebagai densifektan (untuk membunuh virus).

Besarnya kandungan frekuensi dari masing-masing sinar berbanding lurus dengan energi dari sinar tersebut, hal ini sesuai dengan Postulat Planck, yaitu : E = h.f (besarnya energi berbanding lurus dengan konstanta planck dan juga frekuensi). Dalam hal ini, sinar UV yang memiliki energi paling besar (UV-C dan UV-B). Pada dasarnya, sinar UV-C memiliki frekuensi yang tinggi (sehingga energinya besar) dan sudut bias sinar yang besar pula, sehingga terserap habis pada lapisan ozone.

Di dataran katulistiwa, lapisan ozone cenderung menipis, sehingga sinar UV-C tersebut dapat sampai ke permukaan bumi dengan frekuensi berkisar 1 – 3×1015 Hz dan mempunyai kemampuan untuk menghancurkan asam nukleat pada mikroorganisme sehingga terbunuh. Selain itu dapat juga merusak susunan DNA sel, yang dapat mengakibatkan sel-sel tidak dapat melakukan fungsi seluler yang vital, dan dampak terburuknya adalah dapat menimbulkan kanker kulit.

Jenis UV ini sangat bermanfaat untuk membunuh virus, bakteri, jamur, dan patogen pada suatu permukaan benda, sehingga dapat digunakan sebagai desinfektan. Selain itu, sinar UV-B pun dapat digunakan sebagai desinfektan, karena memiliki frekuensi 0,9 – 1×1015 Hz. Sinar ini dapat membakar kulit dan diperlukan untuk sintesa vitamin D di dalam tubuh. Sinar UV-B hanya berkisar 3%. Lalu, sinar UV-A yang paling dominan, berkisar 95%. Namun sinar ini tidak seefektif sinar UV-B dan UV-C, karena terkategori soft.

American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHARE) mengajukan penggunaan sinar UV sebagai desinfektan permukaan dan peralatan. Penggunaan sinar ini merupakan salah satu strategi untuk mengatasi penularan virus corona covid-19.

Berikut hasil penelitian yang telah dilakukan pada Coronavirus dengan paparan sinar ultraviolet, dengan spesies spesifik virus tersebut yang ditunjukkan dalam setiap kasus. Nilai D90 menunjukkan dosis ultraviolet untuk 90% inaktivasi. Besarnya nilai energi D90 untuk coronavirus adalah 7-241 J / m2 dengan rerata 67 J / m2, yang mana cukup mewakili kerentanan sinar ultraviolet dari virus SARS-CoV-2 (COVID-19).

Tabel 1. Rangkuman Hasil Penelitian Coronavirus dengan menggunakan Sinar UV

Penelitian tersebut mengatakan bahwa virus corana sendiri dapat dimatikan dengan menggunakan sinar UV. Sinar UV yang digunakan pada penelitian tersebut sudah tentu sinar buatan. Bagaimana dengan sinar UV dari matahari? Sinar matahari hanya mengandung 3 % sinar UV, namun dengan total aliran energi matahari sebesar 1120-1000 watt/m2 sehingga dapat menghasilkan sinar UV-B setara dengan 1.5 watt/m2.

Maka dari itu, cukup dengan memaparkan benda pada sinar matahari selama 20 menit hingga beberapa jam lebih sudah cukup untuk membunuh virus. Namun perlu lebih berhati-hati karena sinar UV-B dan UV-C dapat membakar kulit. Membiasakan diri untuk berjemur di bawah sinar matahari adalah salah satu langkah agar terhindar dari virus corona.

Selain itu, alangkah baiknya agar sinar matahri dapat masuk ke dalam rumah agar lebih higienis. Menjemur peralatan-peralatan rumah tangga di bawah sinar matahari pun dapat membuat peralatan-peralatan tersebut lebih steril. Sinar UV yang merambat masuk ke atmosfer bumi memiliki frekuensi sangat besar di orde frekuensi 1015 Hz ketika sampai di permukaan bumi. Sehingga dapat mengakibatkan daya tembusnya (skint depth) menjadi lebih dangkal, maka alangkah baiknya ketika menjemur suatu benda perlu di bolak-balik antar sisinya yang terkena sinar matahari.

Mari kita syukuri keberkahan negri kita ini, dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi virus corona ini. (Fajar Mochamad Ramdan, KMNU Fisika ITB, 2017)

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...