Sudah Merasa Jadi Orang Baik? Cek Standar Orang Baik Menurut Al-Quran Ini

0
1700

Harakah.idSyekh Nawawi Al-Bantani saat menafsirkan ayat di atas dalam kitabnya, Mirahu Labid Li Kasyfi Makna Al-Quran Al-Majiid [154/1], mengklasifikasi tindakan orang-orang yang baik menjadi dua.

Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup secara independen karena sifat alamiah manusia saling membutuhkan satu sama lain. Setiap individu akan berinteraksi dengan individu lainnya. Akan tetapi, interaksi antar sesama tidak selalu baik, tidak sedikit relasi satu orang dengan yang lainnya buruk tergantung apa yang menjadi motif dan apa tujuan orang yang melakukan tindakan tersebut.

Namun, pada dasarnya, setiap manusia selalu memiliki dorongan untuk berbuat baik. Adapun hal yang mendorong  seseorang ingin melakukan kebaikan banyak macamnya. Salah satunya karena dorongan oleh keyakinan (Agama). Inilah yang disebut Max Maber (salah satu tokoh yang mencetuskan teori tindakan sosial) sebagai “tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai, yaitu tindakan yang didasari oleh kesadaran keyakinan mengenai nilai-nilai yang penting seperti etika, estetika, agama, dan nilai-nilai lainnya yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupannya”.

Allah dalam Al-Qur’an [Q.S.  Ali Imran ayat 133-134] Berfirman;

 وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bergegaslah kalian (mencari) ampunan dari tuhan kalian, dan (mendapatkan surga) yang lusanya (seluas) langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang muttaqin (133) dialah orang yang menafkahkan (hartanya di jalan Allah) dalam keadaaan lapang dan sempit dan orang-orang yang menahan kemarahan dan orang-orang yang memaafkan (terhadap kesalahan) manusia, dan Allah menyukai orang-orang yang kebaikan (134).” [Q.S: Ali Imran, 133-134]

Syekh Nawawi Al-Bantani saat menafsirkan ayat di atas dalam kitabnya, Mirahu Labid Li Kasyfi Makna Al-Quran Al-Majiid [154/1], mengklasifikasi tindakan orang-orang yang baik menjadi dua.

Pertama, tindakan yang memberikan manfaat kepada orang lain. Menurutnya, tindakan yang memberikan manfaat secara konkrit seperti mengajarkan ilmu dimana seseorang ‘menginfakkan’ pengetahuannya terhadap orang lain, beraktifitas untuk mengajari orang-orang yang tidak tahu. Atau menginfakkan hartanya untuk membantu sesama dalam hal-hal kebaikan.

Kedua, tindakan priventif berupa mencegah diri untuk membalas kejahatan orang lain. Tindakan ini, menurut beliau, adakalanya di dunia dan terkadang bersifat akhirat. Tindakan Di dunia, semisal sikap untuk tidak ingin membalas kejahatan-kejahatn oraang lain pada dirinya dengan keburukan yang sama bahkan akan membalas dengan kebaikan. Tindakan semacam ini yang masuk ketegori dari ayat “yang menahan kemarahan”. Beliau, Syeh Al-Bantani lalu mengutip suatu riwayat yang konon dikatakan oleh Nabi Isa Alaihissalam;

. روي عن عيسى ابن مريم أنه قال: ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

“Diriwayatkan dari Nabi Isa bin Siti Maryam bahwasanya beliu berkata, “kebaikan bukanlah engkau yang bertindak baik kepada orang-orang yang baik padamu. Sesungguhnya kebaikan itu ialah engkau berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat jahat padamu.”

Sementara kalau tindakan mencegah keburukan untuk orang lain di akhirat seperti membebaskan dari tanggungan-tanggungan semisal hutang, janji dan lain-lain. Inilah yang dikategorikan sebagai “orang-orang yang memaafkan (terhadap kesalahan) manusia” pada ayat di atas.

Orang-orang yang berbuat baik seperti di atas yang sudah mencapai maqam muttaqin dan orang-orang muttaqin memiliki jaminan untuk masuk surga karena ia sudah dicintai oleh Allah. Tidak ada pahala yang lebih besar derajatnya dari pada dicintai oleh Sang Pencipta. Syeh Nawawi mengatakan;

ومحبة الله للعبد أعظم درجات الثواب

“Cintanya Allah S.A.W kepada seorang hamba adalah paling agung deajatnya pahala.”

Akhiran, kita sebagai manusia juga bisa mendapatkan maqam muttaqin selama kita berusaha untuk berbuat baik. Orang-orang muttaqin bukan mereka yang hanya berbuat baik dan tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Tetapi orang-orang muttaqin juga terkadang berbuat salah dan dosa namun langsung bertaubat kepada Allah. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan sebagaimana dikutip pula oleh Syeh Nawawi Al-Bantani;

.قال بعضهم: لما وصف الله تعالى الجنة بأنها معدة للمتقين بيّن أن المتقين قسمان: أحدهما: الذين أقبلوا على الطاعات وهم الذين وصفهم الله بالإنفاق وكظم الغيظ والعفو عن الناس. وثانيهما: الذين أذنبوا ثم تابوا

“Sebagian ulama berkata, “ketika mendeskripsikan surga disediakan untuk orang muttaqin, lalu sebagian ulama itu menjelaskan bahwa orang muttaqin ada dua macam. Pertama, mereka selalu ta’at, merekalah yang disifati sebagi orang yang menginfakkan hartanya dan tidak menahan kemarahan serta memaafkan kesalahan manusia. Kedua, mereka yang melakukan dosa lalu bertaubat (taubat sesungguhnya).

Demikian Standar Orang Baik Menurut Al-Quran. Standar Orang Baik Menurut Al-Quran Ini tidak untuk menghakimi orang lain. Tetapi untuk mengaca diri kita sendiri apakah sudah sesuai Standar Orang Baik Menurut Al-Quran atau belum.