Beranda Khazanah Sufisme Jadikan Puasa Ramadhan Penguat Spirit Kebangsaan

Sufisme Jadikan Puasa Ramadhan Penguat Spirit Kebangsaan

Harakah.id – Sufisme memiliki tradisi spiritual yang lebih kuat dibanding kelompok lain dalam internal agama Islam. Sufisme menjadikan puasa Ramadhan sebagai jembatan memperkuat spirit kebangsaan.

Bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat memperkuat kembali semangat persatuan di antara sesama anak bangsa. Hal ini karena, seperti bisa disaksikan akhir-akhir ini, ada kelompok yang berupaya merusak tenun persatuan kita. Dengan bermodal sosial-media, mereka menyebarkan doktrin kebencian pada generasi muda.

Doktrin kebencian itu telah membuat sebagian generasi muda kalap hingga pada titik paling ekstrem, melakukan serangan bom bunuh diri. Di belakang mereka, sekelompok orang bersikap seolah mendukung aksi ekstremis tersebut. Mereka mengkampanyekan bahwa aksi pemboman adalah sebuah rekayasa belaka. Fiksi. Sungguh keterlaluan sikap mereka. Namun, sikap tersebut menunjukkan satu hal; bahwa bangsa kita telah terbelah. Keterbelahan warga negara ini, harus disikapi secara hati-hati agar tidak melebar menjadi gerakan perpecahan. Generasi muda kita harus diyakinkan untuk menjaga komitmen kebangsaan. Jangan sampai mereka termakan kampanye kelompok tertentu yang mencoba membenturkan negara dan agama.

Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim yang dalam ketatanegaraan menganut dasar Pancasila dan UUD 45. Indonesia bukan negara agama, dan tidak pula negara yang memusuhi agama. Indonesia selalu berusaha mencari kompromi kebangsaan, dan selanjutnya konsensus kebangsaan. Konsensus kebangsaan tersebut sudah terwujud dan perlu dirawat sebaik-baiknya. Terutama oleh generasi muda.

Menjaga komitmen kebangsaan adalah keharusan profetik yang dicontohkan Rasululllah saw. Kita semua tahu bahwa Rasulullah saw. membangun Negara Madinah yang bukan negara berdasarkan agama namun mengayomi kelompok-kelompok agama. Adalah salah besar jika ada yang menyatakan bahwa Negara Madinah adalah sebuah entitas politik yang berdasarkan agama. Madinah pada masa Nabi Muhammad saw. merupakan persekutuan yang meliputi lintas etnis, ras dan agama. Nabi Muhammad saw. senantiasa berusaha meyakinkan untuk selalu menjaga komitmen persatuan tersebut, sekalipun harus berperang untuk menjaganya.

Ulama Pesantren Pewaris Tradisi Nabi

Para ulama pesantren di Indonesia, sebagai pewaris spirit perjuangan para nabi, mereka senantiasa berusaha sekuat tenaga menjaga komitmen kebangsaan ini. Ketika ada pihak-pihak yang berusaha menggoncangkan komitmen tersebut, mereka tidak segan turun tangan terlibat aktif dalam mempertahankannya. Mereka melakukannya sebagai tugas keagamaan yang harus dilandasi rasa ketulusan yang tinggi. Tidak heran, jika tugas tersebut selesai dengan habisnya gerakan penggangu komitmen kebangsaan, mereka ‘kembali ke barak’, mengasuh pesantren dan ngemong masyarakat.

Mengapa para ulama dapat berperan semacam itu, tanpa pamrih, tanpa nuntut pemerintah harus mengikuti idealisme mereka, padahal jasa mereka dalam menjaga kesatuan bangsa tidak dapat diremehkan? Hal ini karena mereka telah mencapai kematangan dalam beragama. Kematangan dalam beragama adalah sebentuk kedewasaan yang terbentuk melalui serangkaian proses riadat atau penempaan nilai-nilai agama yang cukup lama. Riadat yang diambil dari bahasa Arab, riyadhah, merupakan sebentuk latihan mental-keagamaan.

Dakwah Para Sufi di Nusantara

Praktik riadat merupakan tradisi khas para ulama sufi penyebar Islam di Nusantara. Mereka tidak hanya mengandalkan ilmu pengetahuan keagamaan yang ditempa melalui metode pengajaran dan pemikiran rasional. Tetapi menanamkan ke dalam lubuk hati paling dalam, penghayatan sebegitu rupa, serta latihan-latihan rohani (riyadhat al-nafs) untuk memperkokoh keyakinan agama dalam diri mereka. Semua proses tersebut dilalui melalui bimbingan seorang guru yang membimbing (mursyid). Tradisi ini sangat dipengaruhi perkembangan tasawuf dalam dunia Islam. Sebagaimana diketahui bersama, Islam yang masuk ke Nusantara atau kawasan Asia Tenggara pada umumnya, adalah Islam yang bercorak fikih-tasawuf. Kombinasi fikih-tasawuf ini mencerminkan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Tidak hanya fikih-formal an sich, tetapi juga diperkaya dengan pengalaman rohani yang kuat.

Wasdapai Gerakan Anti-Sufi

Tumbuhnya gerakan yang berupaya merusak kelestarian komitmen kebangsaan hari ini, pada umumnya berasal dari mereka yang menolak tasawuf serta hanya mempertimbangkan aspek legal-formalnya dalam kehidupan. Hal ini menciptakan ketidak-seimbangan dalam semangat keberagamaan mereka. Mereka baru belajar Islam, namun semangatnya melebih ilmunya. Yang terjadi kemudian adalah, timbulnya nalar mudah menghakimi orang lain. Paling ringan adalah mudah melabeli bidah praktik keagamaan yang berbeda, lalu mengkafirkannya, dan pada tahap paling ekstrem adalah melakukan aktivitas vigilantisme, bahkan terorisme. Benihnya adalah kurangnya keseimbangan antara lahir dan batin umat. Mereka punya sedikit bekal wawasan keagamaan, namun belum siap secara mental-emosional.

Ramdhan merupakan momen penting memperbaiki keterbelakangan mental keagamaan yang tidak seimbang tersebut. Ramadan diambil dari bahasa Arab, ramadha-yarmudh, yang berarti panas yang menyengat. Puasa adalah proses pembakaran ego yang selama ini difasilitasi melalui diturutinya berbagai macam keinginan nafsu dari yang bersifat dasariah seperti makan-minum hingga eksistensial seperti pengakuan orang lain, keinginan berkuasa, dan lain sebagainya. Mendidik bangsa kita menjadi lebih matang secara keagamaan agar mental-emosional mereka terkendali adalah pekerjaan berat. Namun, para ulama-kiai kita yang tulus ikhlas menjaga komitmen kebangsaan tidak akan mengenal kata lelah. Kecuali ada pihak-pihak yang hendak mengkapitalisasi kebodohan dan emosi umat untuk mendapatkan kepentingannya. Semoga Ramadan ini dapat mematangkan emosi keagamaan kita.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...