Beranda Muslimah Sujatin Kartowijono, Mewarisi Garis Perjuangan Kartini Memajukan Nasib Perempuan Nusantara

Sujatin Kartowijono, Mewarisi Garis Perjuangan Kartini Memajukan Nasib Perempuan Nusantara

Harakah.id Sujatin Kartowijono, adalah satu nama penting dalam gerakan perempuan di Nusantara. Gagasan cerdas dan kerja kerasnya mewarnai perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya upaya perbaikan nasib kaum perempuan.

Sujatin Kartowijono, adalah satu nama penting dalam gerakan perempuan di Nusantara. Gagasan cerdas dan kerja kerasnya mewarnai perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya upaya perbaikan nasib kaum perempuan. Dalam keyakinannya: hanya di negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat lah perbaikan nasib kaum perempuan dapat diupayakan.

Dia lahir pada 9 Mei 1907 di Desa Kalimenur, Kulon Progo. Pada 1 Desember 1983, dia mangkat dan dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Selama 76 tahun menghirup udara di bumi, Sujatin telah banyak berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam upaya memajukan nasib perempuan Nusantara.

Penerus Cita-cita Kartini

Dalam perjuangannya, Sujatin banyak mendapat inspirasi dari R.A. Kartini. Oiya, jelas kedua tokoh ini tidak pernah bertemu secara langsung. Sebab, sebelum Sujatin lahir, Ibu Kartini telah mangkat tiga tahun sebelumnya, tepatnya pada 17 September 1904.

Dalam buku berjudul Sujatin Kartowijono: Mencari Makna Hidupku, ditulis Hanna Rambe berdasarkan cerita langsung dari Sujatin, dikisahkan: “Pada waktu aku (Sujatin) gadis remaja, lupa di kelas berapa, aku mendapat hadiah buku Door Duisternis Tot Licht. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini kumpulan surat-surat Ibu Kartini…. Tak ada buku bacaan lain, di antara sekian buku bacaan yang pernah kunikmati, yang lebih berpengaruh kepadaku selain yang satu ini. Bukan saja menamatkannya, bahkan membacanya berulang kali.”

Surat-surat Kartini membakar semangat Sujatin dalam perjuangan memajukan nasib kaum perempuan Nusantara. Besar kesan nama Kartini di hatinya. Dia pun ingin menapak langkah cita-cita Kartini. Berjuang memberi pendidikan kepada kaum perempuan agar sanggup berdiri sendiri. Baginya, seorang ibu (perempuan) yang cerdas akan menghasilkan anak (penerus bangsa) yang terdidik baik, berbudi, dan berilmu.

Sujatin berkata (sebagaimana dituliskan Hanna Rambe): “Cita-cita Kartini merasuk ke dalam sukmaku. Aku ingin meneruskan perjuangannya yang terbengkalai karena maut (Kartini meninggal di usia muda). Sedikitnya, menyebarkan buah pikiran yang begitu gemilang.”

Untuk memenuhi hasratnya, Sujatin memutuskan menjadi guru, terjun dalam dunia pendidikan. Dia mengajar di HIS Swasta Yogyakarta, bukan karena tidak diterima di sekolah negeri, melainkan agar lebih dekat dengan bangsanya sendiri. Menjadi ketua Putri Indonesia, persatuan guru wanita. Menggagas Yayasan Taman Pendidikan Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia). Dan, masih sangat banyak lagi kiprah Sujatin dalam bidang pendidikan.

Gadis Muda Bisa Apa?

Kiprah Sujatin tidak hanya terbatas di bidang pendidikan, namun juga dalam gerakan memajukan kaum perempuan secara umum.

Pada 1922, dia telah menjadi salah satu penggerak Jong Java bagian perempuan. Waktu itu, usianya baru 15 tahun. Masih sangat muda. Dan, bagi Sujatin muda (sebagaimana dituliskan Hanna Rambe): “Perjuangan kemerdekaan dan perbaikan hak serta nasib wanita menjadi titik utama dalam hidupku sebagai orang muda.”

“Ah, memangnya gadis muda bisa apa?”

Dia telah melakukan banyak hal hebat dalam perjuangan kemerdekaan. Kiprahnya memajukan Jong Java tidak bisa dianggap remeh. Berkat idenya menampilkan episode kehidupan Kartini pada pawai besar-besaran di Yogyakarta 1923, Jong Java semakin dikenal, sebab tampil sebagai pemenang dalam festival itu.

Dalam buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama disusun Suratmin, dkk (1991), dijelaskan: “Pada tahun 1926 bersama sejumlah guru, Sujatin mendirikan perkumpulan guru wanita yang diberi nama Poetri Indonesia dan Sujatin terpilih menjadi ketuanya.”

Apakah kiprah Sujatin muda hanya sampai di situ?

Oh, tidak. Masih banyak lagi. Salah satu kiprah Sujatin muda adalah momen yang sangat bersejarah bagi pergerakan perempuan di Nusantara. Yaitu, Kongres Perempuan Indonesia.

Dalam buku Bunga Rampai Soempah Pemoeda dihimpun Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta (1978), terdapat tulisan Sujatin Kartowijono di dalamnya yang berjudul Apa Arti Sumpah Pemuda bagi Diriku. Dalam tulisannya Sujatin Kartowijono menjelaskan: “Setelah Sumpah Pemuda didengungkan, maka kami merasa pula, bahwa kaum wanita harus dibangkitkan dari keadaan yang masih agak pasif dan diberi semangat nasional. Maka pada suatu waktu oleh organisasi Putri Indonesia diputuskan, supaya mengadakan suatu pertemuan antara kaum wanita. Gagasan ini saya bawa kepada beberapa pemimpin: almarhum Ki Hajar dan Nyi Hajar Dewantoro, Dr. Soekiman, Ibu Soekonto dan lain-lain.”

Dari upaya itu, terbentuklah panitia penyelenggara kongres, yang terdiri dari panitia inti: Ny. Sukonto dari Wanita Utomo sebagai ketua, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa sebagai wakil ketua, dan Sujatin dari Putri Indonesia sebagai pelaksana. Mereka bersama rekan lainnya berhasil mengadakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut menghasilkan beberapa komitmen: membangkitkan rasa nasionalisme, menyatukan gerakan perempuan se-Indonesia, dan membentuk Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia.

Dan sebagaimana dikatakan Sujatin dalam tulisannya: “Dalam kongres itu untuk pertama kali dikibarkan secara resmi Sang Merah Putih, diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya.”

Kala itu, tahun 1928, usia Sujatin masih tergolong muda, sekitar 21 tahun. Dan, dia telah banyak menorehkan sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya gerakan perempuan.

Bahkan Ki Hajar Dewantara pun mengakui kiprahnya, dan menganggapnya sebagai rekan perjuangan. “Jeng Jatin, kita sekarang jadi kolega,” ucap Ki Hajar Dewantara (sebagaimana dikutip Hanna Rambe).

Antara Asmara dan Perjuangan untuk Kaum Perempuan

Sujatin muda memang pejuang yang gigih. Waktu-waktunya tersita untuk kepentingan memajukan nasib perempuan Nusantara. Namun demikian, Srikandi juga mendambakan sosok Arjuna-nya. Pendamping yang akan membina keluarga dengannya dan mendukung cita-citanya.

“Sebagai manusia, aku tetap memerlukan kawan untuk berbagi perasaan suka dan duka. Aku memerlukan pria yang mengerti perjuanganku, idealisme yang kuanut dan dapat menempatkan diri dalam kedudukan tepat di sisiku,” ungkap Sujatin.

Sujatin awalnya bertunangan dengan seorang mahasiswa di Batavia (Jakarta). Saat Sujatin sedang menyiapkan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama bertepatan dengan liburan tunangannya. Pria itu datang ke Yogyakarta, sengaja untuk mengunjunginya. Namun, karena sibuk mengurus kongres, maka ajakan kencan pun diabaikan Sujatin. Sikap Sujatin bukan tanpa alasan, mengingat sukses tidaknya kongres itu adalah bagian dari tanggung jawabnya.

Kata Sujatin: “Arjunaku jadi gusar. Dianggapnya aku tak memedulikannya, calon suaminya. Waktu ia telah balik ke Jakarta, akulah yang menulis surat memutuskan pertunangan kami. Ia ternyata tidak lulus ujian yang kuadakan. Baru diuji sekian hari saja karena persiapan kongres, sudah marah.”

Pada 1930, Sujatin sibuk menyiapkan Kongres Perempuan Indonesia yang ketiga di Surabaya. Saat itu, dia dekat dengan seorang mahasiswa di Bandung. Tiba-tiba, lelaki itu datang ke Yogyakarta. Sujatin menghargai kunjungan itu. Namun, dia sibuk menyiapkan ceramah pendidikannya untuk kongres, dan sudah akan berangkat ke Surabaya.

Singkatnya, kedatangan pria itu yang jauh-jauh dari Bandung ke Yogyakarta sia-sia.

“Jatin! Kalau begini caranya, sama saja kaumengajakku pergi ke neraka!” ucap lelaki itu.

“Tidak. Bukan ke neraka. Persoalannya, aku sedang berjuang memperbaiki nasib kaum wanita kita,” bantah Sujatin tegas.

Sujatin tetap memenuhi panggilan perjuangannya. Dan, karena merasa tidak cocok, dia memutuskan hubungan mereka.

Demikian liku asmara Sujatin di tengah perjuangannya. Dua kongres, dua pertunangan gagal. Dia pun dijuluki “tukang bikin patah hati lelaki.”

“Aku bukan mematahkan hati lelaki. Aku sedang berjuang, demi kemerdekaan bangsa dan perbaikan derajat kaum wanita. Kalau para lelaki merasa hati mereka dipatahkan, itu hak mereka berpendapat demikian.”

Pada 1932, dalam suatu acara peringatan hari Kartini, Sujatin bertemu dengan lelaki yang dicarinya. Pudiarso Kartowijono. Dia tidak kaya, bukan sarjana, dan tidak punya pangkat. Namun, semangat hidup serta perjuangannya memikat Sujatin, dan lebih dari itu dia sangat mengerti dengan kondisi dan cita-cita Sujatin.

“Pada waktu melamarku, Kartowijono sedang tidak punya pekerjaan. Aku menerima lamarannya, di tengah kecaman keluarga. Kami dinikahkan tanggal 14 September 1932. Rumah tangga kami dibangun dari angka nol besar. Apakah aku pernah menyesali keputusanku? Tak pernah barang sedetik pun. Bekas tunanganku ada yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran. Itu tidak menjadi soal. Bukan pangkat dan harta yang kucari pada diri pria yang kucintai. Kebahagian yang datang dari keselarasan lahir dan batin. Itu kuperoleh dari pria yang jadi suamiku.”

Bersama Pudiarso Kartowijono, Sujatin membina rumah tangga. Dia menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Tentu, perjuangan kemerdekaan, khususnya perbaikan nasib perempuan, terus dilanjutkan Sujatin. Baginya, karir bukan alasan menelantarkan tugas rumah tangga, pun demikian sebaliknya.

Di kemudian hari, semakin banyak hal besar yang dilakukan Sujatin dalam upaya memajukan nasib kaum perempuan. Dia menjadi salah satu tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...