Surga Manakah yang Ditinggali oleh Nabi Adam dan Hawa sebelum Diturunkan ke Dunia?

0
264
Surga Manakah yang Ditinggali oleh Nabi Adam dan Hawa sebelum Diturunkan ke Dunia?

Harakah.id Nabi Adam dikeluarkan dari surga. Surga seperti apa yang pernah dihuni Nabi Adam? Samakah dengan surga yang akan menjadi tujuan umat manusia kelak?

Al-Quran memang secara tegas menyebutkan bahwa sebelum diturunkan ke dunia,  Adam dan Hawa menempati surga, atau dalam redaksi Al-Quran menggunakan kata  Al-Jannah.  Dalam surah Al-Baqarah ayat 35 disebutkan:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ 

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,” 

Akan tetapi kata Al-Jannah dalam ayat ini masih menjadi perbincangan para ulama. Jumhur ulama memahami Al-Jannah di sini seperti ungkapan umum. Yaitu surga yang berada di langit atau surga yang sama yang dimaksud oleh kata Al-Jannnah di berbagai ayat Al-Quran.

Sebagian ulama memaknai Al-Jannah di sini secara berbeda. Al-Jannah yang dimaksud sebagai tempat tinggalnya Adam dan Hawa bukanlah surga kekal yang dijanjikan di hari akhirat kelak.

Pendapat minoritas ini menurut Ibn Katsir dalam Qashasul Anbiya’ (31), didasarkan pada beberapa riwayat dari Ubay Ibn Ka’ab, Ibn Abbas, Wahab Ibn Munabbih dan Sufyan Ibn ‘Uyainah. Riwayat ini juga dipilih oleh Ibn Qutaibah. Pendapat kedua juga dikisahkan berasal dari Abu Hanifah dan beberapa murid beliau.

Adanya khilaf dalam masalah ini telah dijelaskan oleh banyak mufassir. Al-Qurthubi mengutip pendapat ini dan menyebutnya berasal dari kalangan Mu’tazilah dan Qadariyah. Khilaf serupa juga disebutkan oleh Ar-Razi, Al-Mawardi dan Ibn ‘Athiyah dalam kitab-kitab tafsir mereka. Ibn Hazm juga menceritakan khilaf ini dalam Al-Milal Wan Nihal.

Pendapat jumhur berdalil bahwa kata Jannah disebut dengan alif lam. Dengan demikian ia tidak dipahami dalam pemaknaan bahasanya secara umum yang berarti kebun.

Baca juga: Manfaat Amalan Bacaan Ayat Kursi Menjaga dari Gangguan Setan dan Melapangkan Jalan ke Surga

Akan tetapi dipahami dalam konteks Syar’i yaitu satu tempat yang dijanjikan di hari akhirat kepada orang-orang beriman.

Jumhur ulama juga berdalil dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Hudzaifah, bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

يَجْمَعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى النَّاسَ فَيَقُومُ الْمُؤْمِنُونَ حَتَّى تُزْلَفَ لَهُمْ الْجَنَّةُ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا أَبَانَا اسْتَفْتِحْ لَنَا الْجَنَّةَ فَيَقُولُ وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ إِلَّا خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ

Artinya: “Kelak di hari Akhir Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mengumpulkan semua manusia. Lalu orang-orang mukmin bangkit, dan surga telah didekatkan kepada mereka. Mereka mendatangi Nabi Adam seraya berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah agar pintu surga segera dibukakan untuk kami.’ Adam menjawab, ‘(Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian), bukankah yang mengeluarkan kalian adalah karena kesalahan bapak kalian dari surga ini? (HR Muslim, No. 195).

Hadis ini secara tegas menyatakan bahwa surga tempat dahulu Nabi Adam dikeluarkan ke bumi adalah surga yang sama yang hendak dimasuki kelak di hari akhirat.

Ulama yang berpegang pada pendapat ke dua berdalil bahwasanya surga tempat tingga Nabi Adam bukan lah surga di hari akhirat. Karena di surga tersebut, Nabi Adam masih diberikan larangan untuk mendekati sebuah pohon.

Nabi Adam juga diceritakan tidur di sana, Surga tersebut juga dimasuki oleh Iblis. Hal ini tidak sesuai dengan ciri surga yang disiapkan di hari Akhirat. Ibn Katsir sendiri lebih cenderung pada pendapat jumhur, meskipun beliau menyatakan bahwa masalah ini merupakan perkara yang sulit dipastikan dan hanya Allah SWT lah yang mengetahui kebenarannya.