Sutopo Menjadi Haji Karim, Ini Hukum Mengganti Nama Setelah Haji

0
760
Sutopo Menjadi Haji Karim, Ini Hukum Mengganti Nama Setelah Haji

Harakah.id Mengganti nama setelah haji sudah menjadi kebiasaan dan tradisi, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana Islam memandang fenomena tersebut?

Mengganti nama setelah haji bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi kebiasaan. Sebab menjalankan haji bagi mereka adalah idaman sejak kecil atau sejak mereka mendengar penjelasan di sekolah atau di madrasah tentang betapa bahagianya seorang yang bisa berkunjung ke tanah suci dan melihat Kabah, berziarah ke makam Rasulullah, ditambah lagi dengan besarnya pahala shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Ganjaran pahala yang berlipat itu salah satu faktor yang membuat mereka (bahkan umat Islam secara umum) menjadi berhasrat untuk berangkat haji atau umrah. Momen yang mungkin sekali seumur hidup ini akan terkenang selamanya, apalagi kalau ditambah dengan nama baru yang mereka sandang.

Contohnya, yang aslinya bernama Parino diganti dengan H. Zainuddin (Penghias Agama), Gimin diganti H. Abdurrahim (Hamba Dzat Yang Maha Penyayang), Painem diganti Hj. Fatima (putri Rasulullah), atau jemi diganti Hj. Zaenab (istri Rasulullah).

Meski usia sudah “senja” mereka merasa baru lahir di dunia 20 tahun lebih muda, habis turun dari pesawat, memakai baju koko, berpeci putih, mereka pun segera dipanggil Pak Haji atau Bu Haji. Biasanya, hal ini juga membawa pengaruh moral lantaran pelakunya ingin merengkuh lembaran hidup baru yang suci dan islami.

Mengganti nama setelah haji atau praktik pergantian nama semacam ini memang ada dasarnya. Pertama, sabda Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

“Jika ada seseorang yang namanya kurang disenangi datang menghadap Rasulullah, Rasul segera mengganti nama orang tadi” (HR. Ibnu Mundah dari Utbah bin Abd. Menurut Imam Suyuthi, hadits ini Sahih)

Kedua, “Mengubah nama itu hukumnya wajib jika namanya diharamkan seperti Abdul Syaithan; sunnah jika namanya makruh Himar; mubah jika tidak termasuk yang wajib atau yang disunnahkan diganti seperti di atas, dan merubahnya dengan nama yang tidak dilarang agama. Ada juga yang diharamkan, jika yang namanya sudah baik diganti dengan yang diharamkan, atau yang makruh dengan yang dimakruhkan pula seperti yang dipaparkan dalam kitab Tanwirul Qulub yang teksnya sebagai berikut: Wajib hukumnya mengganti nama yang diharamkan dan dianjurkan untuk mengganti nama yang dimakruhkan.”

Juga disebutkan dalam kitab Al-Bajuri, “Disunnahkan bagi seseorang membuat nama yang baik, berdasarkan hadits; kalian akan dipanggil di Hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Oleh karena itu, buatlah nama yang baik… sampai pada teks; Haram menggunakan nama seperti Abdu Ka’bah, Abdul Hasan, Abdul Ali. Juga nama-nama yang disandarkan atau dirangkai dengan Abdul dan bukan dari nama-nama Asma Allah (Asma al-Husna). Hal ini tentu saja dikhawatirkan ada rasa syirik seperti yang telah diuraikan dalam Kitab syarh ar-Ramly. Adapun nama “Abdun Nabi” (Hamba Nabi), makruh hukumnya menggunakannya menurut pendapat yang lebih kuat.”

Jadi itulah hukum mengganti nama setelah haji. Semoga bermanfaat…