Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

0
861
Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha'

Harakah.id Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu yang dibahas adalah, syarat-syarat jadi wali.

Sangat jarang–atau bahkan hampir tidak pernah–kita menjumpai K.H. Baha’uddin Nursalim (Gus Baha) muncul dalam acara talk show yang sengaja digelar oleh media. Karena biasanya kita mendengar beliau dalam acara-acara pengajian kitab–baik langsung atau tidak–, yang direkam oleh para muhibbin, baru kemudian diunggah di kanal sosial media.

Andai hadir di acara kajian semacam seminar, beliau hampir selalu membawa kitab rujukan terkait tema yang akan beliau ulas. Tetapi dalam acara Shihab & Shihab, Gus Baha menyampaikan pengajian dengan format berbeda. Beliau tampil dalam acara tersebut sebagai bintang tamu yang kala itu bertempat di kediaman Prof. Quraish Shihab, dan dengan dipandu host Najwa Shihab.

Kombinasi antara Gus Baha dan Habib Muhammad Quraish Shihab saat itu tampak sebagai kombinasi yang sangat apik. Bahkan andai tanpa host sekali pun, kolaborasi beliau berdua tentu masih sangat menarik untuk disimak dan kemudian dicerna.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Baha pada mulanya menyampaikan tentang pola yang beliau gunakan dalam menyampaikan ilmu Allah kepada semua orang. Disebutkan bahwa beliau tak peduli dakwahnya diterima atau tidak, memuaskan pendengar atau tidak, bahkan menjadikan beliau populer atau tidak. Karena reaksi publik yang demikian itu tak patut menjadi perhatian bagi wali Allah ketika berdakwah.

Gus Baha memang sering mengulas tentang wali-wali Allah Swt. Meski mengalir dengan guyon, secara terang-terangan beliau menyatakan bahwa cita-citanya ialah menjadi seorang wali Allah Swt. “Terus jadi lucu saja di dunia wali, apabila didikte oleh makhluk” pungkas Gus Baha.

Menyambung uraian Gus Baha, Prof. Quraish Shihab mengingatkan cucu-cucunya yang hadir kala itu dan penonton Narasi TV, supaya tidak beranggapan  bahwa syarat seorang wali itu sekadar dengan memiliki “kekeramatan” semata. Kekeramatan dalam artian sebagai kemampuan luar biasa yang berada di luar nalar manusia pada umumnya.

Karena seorang wali itu sejatinya memiliki kekeramatan yang mungkin saja dimiliki orang biasa, yaitu berilmu. Adapun bedanya dengan manusia pada umumnya ialah dalam segi kualitas dan kuantitas, maupun proses pemerolehan ilmu tersebut.

Ilmu dari Allah yang diterima para kekasih-Nya merupakan satu dari sekian kekeramatan yang pasti dimiliki semua wali Allah Swt. Hal ini beliau contohkan ketika Nabi Adam a.s. diberikan ilmu oleh Allah, sehingga membuat malaikat tunduk kepadanya atas perintah Allah Swt.

Habib Quraish juga menukil salah satu pernyataan, yang beliau nisbatkan kepada Imam Al-Ghazali. Pada intinya, seluruh wali Allah itu pasti telah melewati syarat pertama yang harus dimiliki seorang wali, yaitu berilmu.

إِنْ لَمْ يَكُنْ العَالِمُ هُوَ الوَلِيُّ فَلَسْتُ أَدْرِيْ مَنِ الوَلِيُّ

“Jikalau orang alim itu bukanlah (yang dinamai) wali, maka aku tak tahu siapa yang disebut wali.”

Merujuk sumber lain, pernyataan serupa juga ada yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an.

إِنْ لَمْ يَكُنْ العُلَمَاءُ هُمْ أَوْلِيَاءُ اللّٰهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ وَلِيٌّ

“Andaikan para ahli ilmu bukanlah kekasih (wali), maka tiada kekasih bagi Allah.”

Lebih lanjut, Habib Quraish Shihab menuturkan bahwa seorang wali Allah Swt. itu tidak mungkin terlepas dari tiga dasar dalam perilakunya, yaitu ilmu, amal, dan menyampaikan.

Contoh nyata tari proses penyampaian ilmu yang ada sekarang ialah sebagaimana yang dilakukan oleh Gus Baha. Uraian tersebut didasarkan pada firman Allah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ketika orang-orang musyrik menolak seruan Rasulullah Saw.

فَإِنۡ أَعۡرَضُوا۟ فَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ عَلَیۡهِمۡ حَفِیظًاۖ إِنۡ عَلَیۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَـٰغُۗ وَإِنَّاۤ إِذَاۤ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنَّا رَحۡمَةࣰ فَرِحَ بِهَاۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَیۡدِیهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ كَفُورࣱ

“Jika mereka berpaling, maka (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia menyambutnya dengan gembira; tetapi jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar), sungguh, manusia itu sangat ingkar (kepada nikmat).” [Q.S. Asy-Syura (42): 48]