Beranda Headline Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Guru Tarekat Nusantara yang Mengalahkan Petapa Hitam di...

Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Guru Tarekat Nusantara yang Mengalahkan Petapa Hitam di Gua Sapar

Harakah.id Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah salah seorang wali dan guru tarekat Nusantara. Sampai detik ini, makamnya yang terletak di Tasikmalaya masih ramai dikunjungi masyarakat. Selain dikenal wali dan memiliki karomah, Syeikh Muhyi juga cerminan tokoh agama yang mampu mengayomi ummat.

Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan merupakan salah satu ulama besar abad ke-17 yang menyebarkan tarekat Syathariyah di tanah Jawa. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan lahir di Mataram, Lombok pada 1650 M. dan wafat pada 1730 M, dimakamkan di daerah Pamijahan, Bantar Kalong Tasikmalaya, Jawa Barat. Syeikh Abdul Muhyi merupakan ulama kharismatik di daerah Tasikmalaya. Menurut kepercayaan orang beliaulah wali kesepuluh melengkapi Wali Songo.

Baca Juga: Syeikh Ahmad Faqir Al-Kerinci; Ulama Jambi dengan Sanad Zikir yang Bersambung Sampai Rasulullah

Syekh Abdul Muhyi Pamijahan merupakan keturunan bangsawan. Darah birunya mengalir dari sang ayah yang merupakan keturunan Raja Galuh ”Pajajaran” bernama Sembah Lebe Warta Kusumah. Masa kecil Syekh Abdul Muhy dilalui di daerah Ampel. Beliau belajar pada sang ayah sebelum kemudian belajar pada ulama di daerah Aceh.

Pada usianya yang relatif muda sekitar  19 tahun, beliau berangat ke Kuala Aceh untuk memperdalam pengetahuan agama pada Syekh Abd al-Rauf al-Sinkili, seorang ulama sufi sekaligus guru tarekat Syathariyah. Masa studi Syekh Abdul Muhyi di Aceh dihabiskan dalam masa enam tahun. Setelah itu beliau dibawa sang guru ke Baghdad dan Makkah untuk memperdalam ilmu agama sekaligus ibadah haji.  Di sini beliau bertemu dengan Syekh Yusuf al-Makassari.

Setelah itu, bersama ayah, ibu, dan istrinya Syekh Abdul Muhyi memulai masa pengembaraan dakwah islam ke arah barat, dan menetap di daerah Darma, Kuningan Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat setempat, Syekh Abdul Muhyi menetap di Darma selama tujuh tahun untuk menyebarkan ajaran islam.

Setelah empat tahun menetap di Lebah Suah, Syekh Abdul Muhyi kemudian memilih menetap di dalam gua bernama Gua Sapar. Kedatangan Syekh Abdul Muhyi ke gua tersebut untuk mengikis para pertapa yang memburu aji-aji hitam, akhirnya Syekh Abdul Muhyi berhasil memenangkan pertarungan melawan para pertapa itu dan menjadikan gua tersebut sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya. Di samping itu Gua Sapar juga digunakan sebagai sebagai tempat memberikan pengajian agama dan mengkader dai-dai islam.

Baca Juga: Cara Menangkal Wabah dan Penyakit dalam Kitab Ulama Jambi: Resep Syeikh Abdul Hamid al-Tungkali

Keberadaan Syekh Abdul Muhyi merupakan tokoh utama tarekat Syathariyah di Jawa. Terkait karya tulisan yang beliau hasilkan, beberapa data menyatakan bahwa karya tertulis asli dari Syekh Abdul Muhyi tidak ditemukan lagi melainkan berupa salinan tulisan yang disusun oleh murid-murid beliau sendiri, di antaranya Martabat Kang Pitutu.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...