Beranda Headline Syeikh Ramadan al-Buthi, Ulama Lemah Lembut yang Gugur di Majelis Pengajian Tafsirnya...

Syeikh Ramadan al-Buthi, Ulama Lemah Lembut yang Gugur di Majelis Pengajian Tafsirnya Karena Bom Bunuh Diri

Harakah.idSyeikh Ramadan al-Buthi adalah satu dari sekian banyak ulama yang gugur dan menjadi korban tindak terorisme. Beliau gugur saat sedang mengisi pengajian. Seorang pemuda yang masuk dan meledakkan diri dalam Masjid menewaskan 45 jamaah pengajian, termasuk Syeikh Ramadan al-Buthi.

Tindak kekerasan memang tidak memiliki agama. Ia membutakan mata dan hati seseorang. Salah dan benar tidak bisa lagi ia bedakan. Tindakan-tindakan teroristik tidak akan pernah dibenarkan dalam konteks hukum kemanusiaan, lebih-lebih dalam konteks agama. Tidak ada yang bisa dibenarkan dari tindakan yang dapat menghabisi nyawa manusia.

Dalam wawancana Republika dengan Syeikh Taufiq Ramadan al-Buthi, putra Syeikh Ramadan al-Buthi itu menjelaskan kronologi terbunuhnya sang ayahanda. “Pada tanggal 21 Maret 2013, selepas jamaah Salat Maghrib, seorang pemuda berusia 18 tiba-tiba masuk masuk ke dalam Masjid al-Iman, Damaskus. Mulanya ia duduk di belakang, lalu beranjak mendekati posisi ayah saya yang sedang menyampaikan kajian tafsir. Jarak antara pemuda dengan posisi beliau duduk kira-kira 6 meter. Pemuda tersebut lalu meledakkan diri.”

Menurut Syeikh Taufiq, sekitar 45 jamaah tewas seketika. Delapan orang sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum pada akhirnya juga tewas. Dan puluhan jamaah lainnya mengalami luka-luka. Ledakan yang muncul dari bom C-4 itu memang mampu melontarkan potongan-potongan material kecil ke semua arah. Selain melukai para jamaah, potongan-potonga C-4 itu juga melukai bibir, kening dan kaki Syeikh Ramadan al-Buthi. Meskipun sempat dirawat di Rumah Sakit, Syeikh Ramadan al-Buthi pada akhirnya wafat.

“Dari telepon, kami diberi kabar bahwa beliau [Syeikh Ramadan al-Buthi] telah wafat. Saya akhirnya pergi untuk melihat jenazahnya. Timbul perasaan yang bercampur aduk dan seolah-olah tidak percaya. Beliau tampak seperti tidur biasa. Wajahnya putih bersinar, badannya masih hangat dengan bibir yang masih merah. Saya pun mencium keningnya untuk terakhir kali,” kata Syeikh Taufiq menceritakan saat-saat terakhir melihat jenazah ayahnya.

Kepergian Syeikh Ramadan al-Buthi sudah dirasakan sebelumnya oleh firasat Habib Ali al-Jufri. Dalam sebuah percakapan telepon dua minggu sebelum kejadian, Syeikh al-Buthi menyampaikan kepada Habib Ali bahwa “tidak akan tersisa lagi usiaku kecuali hanya beberapa hari lagi. Sungguh aku telah mencium bau surga yang selalu mengikutiku dari belakang”. Syeikh al-Buthi juga tidak lupa meminta Habib Ali al-Jufri untuk senantiasa mendoakannya.

Syeikh al-Buthi adalah salah seorang ulama rujukan dunia yang dikenal lemah lembut. Beliau dikenal pakar di berbagai bidang keilmuan. Mulai dari tafsir, sejarah, fikih dan bahasa. Karyanya berjibun dan dibaca oleh khalayak dunia. Syeikh Ramadan adalah seorang dai yang tidak pernah lelah mengampanyekan kedamaian antar manusia dan sikap moderat dalam menyikapi perbedaan. Syeikh Ramadan adalah sumber mata air yang jernih di tengah kondisi politik Suriah yang penuh konflik dan bara perpecahan.

Ancaman dan potensi teror kepada para ulama memang terus ada. Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya agenda dan rencana jahat itu. Di tengah konstelasi politik dan gesekan ideologi yang semakin mengarah kepada bentuk-bentuk intoleransi, kekerasan dan agenda pecah belah, ancaman semacam itu akan terus tumbuh dan bermekaran. Apa yang dialami Syeikh Ramadan al-Buthi dan para ulama lainnya yang menjadi korban kekerasan dan tindak terorisme harus dijadikan pelajaran penting. Kembali memposisikan agama sebagai ajaran kasih sayang dan menunjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan adalah hal yang niscaya dilakukan hari ini.

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...