Beranda Tokoh Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Imam Masjidil Haram dari Minangkabau

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Imam Masjidil Haram dari Minangkabau

Harakah.id Umar Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim mencatat bahwa jabatan imam dan khatib diperoleh berkat permintaan Syekh Kurdi, sang mertua kepada Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syekh Khatib sebagai imam dan khatib.

Syekh Ahmad Khatib atau nama lengkapnya Ahmad Khatib bin Abdul Latif Minangkabawi adalah seorang ulama asal  Minangkabau. Ia lahir di Koto Tuo Ampek 6 Zulhijah 1276 atau 1860 M. Ibunya bernama Limbak Urai, sedangkan nama ayahnya Abdul Lathif Khatib. Sejak kecil Ia memperoleh pendidikan agama dari ayahnya bernama Abdul Latief dan dari pendidikan ayahnya Ia hafal beberapa juz. Ia sempat mengeyam pendidikan formal  di sekolah guru Kweekschol di Bukit Tinggi.

Tahun 1287 H Ahmad Khatib diajak ayahnya ke Mekah menuaikan ibadah haji ke tanah suci. Setelah usai  rangkaian ibadah haji Abdul Latif kembali ke Minangkabau. Sementara itu, Ahmad Khatib Minangkabawi tetap tinggal di Mekah untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama pada sejumlah guru di Masjidil Haram. Sejumlah guru termuka sempat menjadi  tempat belajar mulai dari Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan hingga Syekh Muhammad bin Sulaiman.

Di Mekah, Ia tidak mengalami kesulitan dalam belajar, karena sejak kecil Ia sudah mendapatkan pendidikan agama mulai fiqh, tauhid hingga menghafal beberapa juz Al-Quran dari ayah. Latar belakang pendidikan Syekh Ahmad Khatib banyak yang diperoleh dari ulama-ulama tersebut mampu membentuk pribadi yang cerdas dan bijak. Dari ulama-ulama inilah yang membuat Ahmad Khatib Minangkabawi hingga menjadi ulama besar di kemudian hari.

Menurut Buya Hamka dalam buku catatan tentang ayahnya, Syaikh Ahmad Khatib pernah sekali pulang ke kampung halamannya di Ranah Minang selama beberapa bulan. Ia kemudian kembali ke Mekah dan menetap sampai akhir hayatnya.

Cinta Syaikh Ahmad Khatib pada Minangkabau tak pernah putus. Rendang, belut kering selalu suka kalau dikirimi dari Minangkabau.Tetapi kalau diajak pulang ke Minang Ia menggelengkan kepala, nampak mukanya muram sebagaimana dikatakan Buya Hamka dalam buku Ayahku 1982.

Kegiatan sehari-hari selain belajar, Syekh Ahmad Khatib terlihat rajin ke toko buku yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram. Toko buku itu diketahui milik Muhammad Syekh Kurdi. Melihat Ahmad Khatib begitu rajin, tekun menuntut ilmu dengan semangat tinggi membuat Syekh Kurdi tertarik menjadikanya sebagai menantu. Syekh Ahmad Khatib akhirnya dinikahkan dengan putri pertama Syekh Kurdi bernama Khadijah.

Dari pernikahannya dengan putri Syekh Kurdi dikaruniai seorang putra bernama Abdul Karim 1300-1367 H, namun kemudian isterinya meninggal dunia. Pasca meninggalnya Khadijah Syekh Ahmad Khatib dinikahkan dengan putrinya yang lain bernama Fathimah dan dikaruniai dua orang putra Abdul Malik pemimpin redaktur koran al-Qiblah. Putra yang kedua bernama Abdul Hamid seorang penyair dan sastrawan Mekah.

Menjadi Imam Besar Masjidil Haram

Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari sejumlah ulama terkenal seperti ilmu umum dari Syaikh Abdul Hadi ilmuwan Inggris yang hafal Al-Quran dan tentang Islam kepada Sayid Ahmad Zaini  Dahlan dan Sayid Bakri Syatha. Kesungguhannya belajar pada akhirnya Ia menjadi ulama besar dan mendapat kedudukan tinggi dalam masyarakat.

Suatu hari Syekh Ahmad Khatib, Syekh Saleh Kurdi mendapat kesempatan berbuka puasa di istana Syekh Husein di Mekah. Saat itu, berdasar perkataan Hamka dalam buku Ayahku, Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amarullah, menyebutkan cerita Abdul Hamid bin Ahmad Khatib ada bacaan imam bernama Syarif Aunur Rafiq yang salah dalam sebuah shalat berjamaah.

Ketika itu, ada seorang makmum dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Usai shalat Syarif Aunur bertanya siapa yang telah membenarkan bacaan tadi. Lalu ditunjukan Syekh Ahmad Khatib yang tak lain menantu sahabat karibnya Syekh Kurdi terkenal keshalihannya itu.

Syarif Aunur tidak marah atas teguran oleh Syekh Ahmad Khatib kesalahan bacaan dalam shalat. Syaikh Aunur malah memuji dan menyebut Syaikh Kurdi beruntung  memperoleh menantu yang demikian tampan, alim dan pemberani.

Akhirnya Syarif Aunur mengangkat Syekh Ahmad Khatib sebagai imam dan khatib Masjidil Haram untuk mazhab Syafi’i. Alasan Syekh Ahmad Khatib dipercaya sebagai imam dan khatib sebagaimana dikatakan oleh Umar Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim mencatat bahwa jabatan imam dan khatib diperoleh berkat permintaan Syekh Kurdi, sang mertua kepada Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syekh Khatib sebagai imam dan khatib.

Keluasan ilmu, kesalehan dan kealiman Syekh Ahmad Khatib membuatnya dipercaya sebagai imam dan khatib sekaligus staf mengajar di Masjidil Haram. Imam dan khatib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh dan hanya orang- orang memiliki keilmuan yang tinggi.

Setelah diangkat sebagai imam Masjidil Haram sekitar tahun 1892, Syekh Ahmad Khatib makin dikenal di kalangan masyarakat Muslim di dunia. Namanya pun terkenal hingga wilayah nusantara dan tidak sedikit para pemuda Indonesia datang ke Mekah menuntut ilmu pengetahuan agama. Metode pengajaran yang berbeda dengan ulama lain yakni fokus pada pemahaman dan diskusi membuat mereka semakin tertarik berguru kepadanya.

Metode pengajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad Khatib mampu melahirkan ulama-ulama terkemuka. Beberapa ulama yang pernah menjadi muridnya mulai dari KH Ahmad Dahlan hingga Syekh Muhammad Saleh. Syekh Ahmad Khatib menjadi seorang guru sampai akhir hayatnya. Ia meninggal dunia tahun 1916 di usia 56 tahun dimakamkan di kompleks Pemakaman Ma’la yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram. 

Artikel ini pernah terbit madrasahdigital.co dan plimbi.com

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...