Syifa’ Binti Harits: Guru Perempuan Pertama dalam Islam

0
80

Harakah.idSyifa’ Harits, guru perempuan pertama dalam Islam. Kemampuan dan kegigihannya mengajarkan baca-tulis menjadi pondasi penting bagi perkembangan Islam selanjutnya.

Perempuan pada masa Arab pra-Islam merupakan kelompok yang sangat rawan diperlakukan tidak adil. Al-Qur’an berbicara terbuka tentang hal tersebut. Namun, setelah Islam muncul, struktur sosial tersebut mulai mengalami perubahan. Perempuan tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Pada awal periode Islam, tercatat nama-nama perempuan yang memiliki kiprah dalam ruang publik dan diakui. Sebutlah Siti Khadijah, Siti ‘Aisyah, Siti Fatimah az-Zahro, dan beberapa deretan nama-nama perempuan yang tidak asing di telinga kita.

Apabila di Nusantara kita mengenal R. A. Kartini, sosok yang menaruh keprihatinan kepada nasib masyarakat pribumi hingga akhirnya mempelopori berdirinya institusi pendidikan mandiri untuk membangunkan masyarakat dari tidurnya, pada masa hidupnya Nabi Muhammad kita menemukan sosok tangguh dan patut diperhitungkan. Ia disebutnya sebagai mu’allimah al-ula fi al-islam atau “guru perempuan pertama dalam sejarah Islam”. Ia adalah Syifa’ binti Harits.

Nama lengkapnya adalah Syifa’ binti ‘Abdullah bin ‘Abdu Syams bin Khalaf bin Ka’ab al-Qurasyiyah al-’Adawiyyah. Beliau menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah dan dianugerahi putra bernama Sulaiman bin Abu Hatsmah. Untuk itu, Syifa’ juga kerap disebut Ummu Sulaiman yang bermakna ibunda Sulaiman. Syifa’ bin Harits masuk Islam ketika Nabi masih berada di Makkah.

Akibat sistem budaya yang menindas, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menunjukan kemampuan yang dimilikinya. Terlebih, sistem budaya yang merugikan kelompok tertentu tersebut juga bisa membunuh ketertarikan seseorang untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.

Kelebihan yang dimiliki oleh Syifa’ adalah mampu baca-tulis, ruqyah, di samping kecerdasan dan pemikirannya yang dalam nan teliti. Kelebihan-kelebihan ini tidak hanya diakui oleh sahabat-sahabat biasa, sahabat Umar bin Khaththab dan Nabi Muhammad termasuk sosok yang mengagumi kemampuan Syifa’.

Sebagaimana sudah banyak kita ketahui, masyarakat Arab bukan tipe orang yang tertarik dengan budaya tulis-menulis bahkan membaca. Bagi mereka, hafalan adalah budaya yang sudah mengakar lama. Budaya yang terakhir inilah ciri khas mereka pada waktu itu. Tidak heran, mengapa jumlah sahabat Nabi yang memiliki skill dan diminta untuk menulis wahyu berjumlah lebih sedikit daripada yang hanya sekedar menghafal diluar kepala.

Beliau begitu giat untuk mengajar di kalangan perempuan. Beliau banyak mengurai tentang keagungan alam raya dan makhluk-makhluk Tuhan. Beliau juga termasuk sosok yang giat untuk belajar, baik al-Qur’an maupun hadits Nabi. Beliau juga pandai mengurai makna-makna kedua referensi utama agama tersebut. Ia termasuk sosok yang sangat memahami arti hidup dan jihad. Hingga akhirnya, beliau tercatat sebagai sosok perempuan yang berpengaruh, disamping kemuliaan akhlak dan budi pekertinya.

Kemampuan dan kegigihan Syifa’ mengajarkan baca-tulis menjadi pondasi penting bagi perkembangan Islam selanjutnya. Kita hanya bisa membayangkan, bagaimana seandainya tidak ada sosok yang mampu dan mau belajar membaca dan menulis serta tidak ada yang mau menuliskan al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi.

Ruqyah adalah salah satu bentuk pengobatan pada waktu itu. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan bahwa ruqyah adalah mengobati orang sakit dengan berdoa memohon kebaikan dan kesehatannya. Sementara do’a yang biasa digunakan oleh Syifa’ ketika meruqyah adalah:

اللَّهُمَّ ربَّ النَّاسِ ، أَذْهِب الْبَأسَ ، واشْفِ ، أَنْتَ الشَّافي لا شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفاءً لا يُغَادِرُ سقَماً

“Ya Allah, yang menguasai manusia, semoga Engkau menghilangkan kesusahan dan menyembuhkan, Engkau adalah Dzat yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (yang datang) dari-Mu, yakni kesembuhan yang tidak disusul dengan penyakit”.

Umar bin Khaththab terkenal sebagai sosok sahabat Nabi yang tegas nan cerdas. Banyak kebijakan-kebijakan baru yang beliau tawarkan terutama ketika beliau menjabat sebagai khalifah, meneruskan tugas Abu Bakar. Kecerdasan Umar tidak menutup mata untuk mendengarkan dan meminta pertimbangan dengan sahabat lainnya. Syifa’ adalah salah satu sahabat Nabi yang kerap dimintai pandangan-pandangannya terkait masalah umat islam. Begitupun sebaliknya, Syifa’ juga tidak pernah sungkan untuk belajar kepada sosok yang kerap dipanggil amirul mu’minin ini.

Guru Istri Rasulullah
Sebagaimana telah disebutkan, asy-Syifa memiliki kebiasaan untuk mengajarkan para perempuan pada waktu itu, terutama terkait baca-tulis. Kemampuan dan kelebihan Syifa’ bahkan diakui oleh Nabi Muhammad. ‘Ali ‘Abdul Fatah dalam A’lam al-Mubdi’in min ‘Ulamâ’ al-’Arab wa al-Muslimin menyebutkan dengan:

وَكَانَ رَسُولَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ يَعتَرِفُ بِقَدرِ الشِّفَاءِ بِنتِ الحَارِثِ فِي عِلمِهَا وَفِكرِهَا وَدَورِهَا التَّنوِيرِي، فَطَلَبَ مِنهَا اَن تُعَلِّمَ حَفصَةَ الكِتَابَةَ

Secara bebas, pernyataan ‘Abdul Fatah dapat diartikan sebagai berikut, Rasulullah Saw. mengakui kualitas ilmu, pemikiran, dan kerja-kerja Syifa’ yang begitu mencerahkan. Untuk itu, Nabi memintanya supaya berkenan untuk mengajar Hafshah menulis.

Kecintaan Syifa’ kepada agama barunya dan Rasulullah begitu dalam. Permintaan ini adalah penghormatan dan tidak ia sia-siakan. Bahkan, Syifa’ tidak hanya mengajari tulis-menulis, lebih lanjut beliau diminta untuk mengajari Hafshah, ummil mu’minin, untuk mengajari cara-cara meruqyah, sebagaimana dapat kita saksikan dalam pernyataan Nabi dibawah ini:

أَلَا تَعلَمِينَ هذِهِ رُقيَةَ النَّملَةِ كَمَا عَلَّمتِيهَا الكِتَابَةَ

“Sebaiknya engkau mengajari perempuan ini (Ruqayyah) tentang ruqyah sebagaimana engkau ajari dia tentang tulis-menulis”.

Nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak memperlakukan perempuan sebagaimana yang berlaku dalam tradisi Arab pra-Islam. Melihat sosok dan perjuangan yang telah dilakukan oleh Syifa’ binti Harits, perempuan menjadi sosok pencerah bagi peradaban Islam selanjutnya. Kemuliaan Syifa’ yang diakui oleh masyarakat pada waktu itu bukan lahir dari permasalahan darah. Ia mendapat pengakuan publik karena kedalaman ilmu, akhlak yang mempesona, dan kerja-kerja yang sangat bermanfaat bagi khalayak umum. Tidak salah apabila Syifa’ disebut sebagai guru perempuan pertama dalam Islam (mu’allimah al-ula fi al-islam). Beliau adalah teladan mulia, baik bagi laki-laki maupun perempuan.