Syinqith, Sentral Peradapan Islam di Benua Afrika yang Terlupakan

0

Harakah.idSeiring bergulirnya waktu, Islam berkembang pesat di Awkar pada abad ketujuh. Ketika itu, kerajaan Awkar makin makmur berkat perdagangan dengan bangsa Arab.

Syingith terletak di Afrika Barat atau sekarang menjadi bagian dari negara Republik Islam Mauritania. Ia merupakan negara kesebelas terbesar di Afrika dengan ibukotanya Nouakchot terletak di pantai Atlantik. 

Wilayah ini berbatasan dengan samudra Atlantik di barat, Maroko dan Sahara Barat di utara, Al-Jazair di timur laut, Mali di timur dan tenggara, dan Sinegal di barat daya. Mauretania, sebuah negeri telah berdiri ratusan tahun yang lalu pada abad ke-3 SM sampai abad ke-7 di ujung barat laut Afrika yang sekarang disebut Maroko.  

Sejarah berdirinya kota Syinqith

Kota Syinqith berada disebuah daratan disebut dengan  Dataran Adrar. Dataran Adrar merupakan  sebuah padang rumput yang luas di bagian barat Afrika berdiri ribuan tahun lamanya. Dataran Adrar menurut Antony G.  Pazzanita dalam bukunya berjudul Historial Dictionary of Mauritania dihuni para peternak dan pemburu yang hidup nomaden. 

Pada perkembangan selanjutnya wilayah dataran Adrar mengalami perubahan yang luar biasa. Setelah daerah tersebut dihuni oleh Sanhadja atau Iznagen abad ketiga. Iznagen terdiri atas beberapa suku Berber yang menetap di daerah Adrar selama puluhan tahun. Iznagen adalah penduduk asli Afrika utara. Mereka datang ke daerah ini yang menjadikannya kawasan kota perdagangan terhubung jalur perniagaan antara Gurun Sahara-Adrar. 

Dari kegiatan ekonomi yang dipusatkan Sahara dan Adrar inilah kebudayaan urban baru mulai terbentuk. Hamparan rumput berganti bangunan rumah penduduk yang megah dan bangunan lainnya menjadikan daerah ini kota metropolitan di zamannya. 

Sejak itulah geliat ekonomi di daratan Adrar mulai berkembang pesat apalagi daerah Afrika barat kaya akan garam dan emas. Hal ini mendorong para saudagar berbondong-bondong datang ke kawasan ini  membangun bisnis perdagangan. Mereka mulai merintis perdagangan jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Di saat para saudagar giat membangun bisnis perdagangan di kawasan Adrar. Di sisi lain ada kekuasaan diluar Iznagen yaitu kerajaan Awkar yang berusaha menguasai kawasan Adrar. Awkar mulai berekspansi dari selatan atau pesisir Teluk Gunea. Tidak diketahui pasti kapan kerajaan ini berdiri, namun raja-raja Awkar biasanya  bergelar dengan sebutan Ga’na. 

Perkembangan selanjutnya Awkar mengalami kemajuan yang cukup besar setelah kehadiran orang-orang Arab di barat Afrika. Penguasa kulit hitam yang tinggal di Afrika barat begitu  senang, karena orang Arab tersebut memperkenalkan transportasi baru yang dinamakan unta. Unta di daerah Afrika Barat banyak digunakan sebagai alat transportasi. 

Seiring bergulirnya waktu, Islam berkembang pesat di Awkar pada abad ketujuh. Ketika itu, kerajaan Awkar makin makmur berkat perdagangan dengan bangsa Arab. Kehadiran bangsa Arab membawa perubahan yang luar biasa. Perubahan terjadi, akibat mereka menerima budaya Arab yang masuk ke wilayahnya dengan damai dan tangan terbuka. Setelah Arab masuk ke wilayah Awkar muncul pusat peradapan bernuansa Islam di Afrika Barat. 

Tidak hanya lahir pusat peradapan Islam, melainkan juga muncul pula akulturasi budaya baru khas Awkar. Budaya Awkar demikian  kental dengan nuansa Islam terasa hingga ke Syinqith. Pengaruh Awkar tidak berlangsung lama di daratan Adrar. Kekuatan Awkar mulai melemah setelah Berber masuk ke wilayah ini menjelang abad ke-11. Anggota persekutuan Iznagen dari Sous kini Maroko sekaligus pemimpin Jazulah bernama Abdullah bin Yasin mendirikan Al-Murabithun. 

Al-Murabithun berdiri bersama suku-suku Berber di Afrika Utara hingga Afrika Barat. Kekuatan Al-Murabithun yang memang luar biasa tahun 1076 mampu menaklukan Syinqith dan sekitarnya. Sejak Al-Murabithun berkuasa di wilayah kota Syinqith . Kota ini tidak saja sebagai kota transit jalur perniagaan gurun Sahara, melainkan sentra peradapan Islam di Afrika Barat. Kekuasaan Al-Murabithun berlangsung hingga tahun 1147 , karena di tahun tersebut datang Dinasti Al-Muwahhidun. 

Al-Muwahhidun memusatkan kekuasaannya di Maroko dan sekitarnya. Dari peristiwa ini terlihat jelas kawasan Adrar tanpa dominasi politik oleh pihak tertentu.  Dalam hal ini apakah ada yang menguasai dan tidak kawasan Adrar tidak diketahui secara pasti. Atau dengan kata lain Syingith  berada di daerah kekuasaan siapa?Apakah berada di kedaulatan al-Muwahidun di utara atau kerajaan Awkar di selatan. 

Terkesan kota Syinqith tersebut terjepit diantara dua kekuasaan politik yang berbeda sejak abad ke-13. Perkembangan selanjutnya Awkar mulai dikuasai kerajaan Mali 1235-1670. Dinasti Muwahiddun mulai tergerus ekspansi Dinasti Mariniyyun 1244-1465 yang sama-sama berbangsa Berber. Namun saat itu tidak diketahui lebih lanjut, penguasa manakah yang mendominasi Syinqith? Meski demikian kota ini terus berkembang menjadi kota transit baik perdagangan di Trans-Sahara maupun para calon jemaah haji. 

Syinqith, pusat kajian dan Peradapan Islam

Syinqith berkembang pesat pada masa Muwahiddun dan abad ke-13. Masyarakat Syinqith mendirikan masjid Jami Al-Kabir dan masjid Wadan. Kedua masjid ini menjadi central peradaban  dan kajian Islam. Melihat lebih dekat gaya arsitektur kedua masjid tersebut menunjukan adanya unsur kebudayaan Berber terutama menara menjulang tinggi. Tidak hanya menaranya yang tinggi sebagai maskot kota Syinqith, namun beberapa hiasan indah menghiasi kedua masjid tersebut menjadi daya tarik tersendiri. 

Geliat peradaban Islam terus meningkat di kawasan ini ditandai dengan kebiasaan masyarakat setempat belajar membaca Al-Qur’an sejak dini. Mereka menerapkan disiplin tinggi dan setiap keluarga melakukan kegiatan belajar Al-Quran kepada anak-anak sejak usia dini dengan didampingi orang tuanya. 

Di luar rumah anak-anak mengikuti  kegiatan belajar ilmu pengetahuan Islam yang disampaikan para guru di masjid-masjid. Beberapa bidang  yang diajarkan mulai dari ilmu fiqh hingga ilmu hadis, fiqh. Tradisi ini telah mengakar di Syingth sejak abad pertengahan sampai sekarang dan tidak heran banyak tokoh Muslim terkemuka berasal dari kota ini. 

Syinqith situs warisan dunia

Tradisi tersebut telah mengakar sejak abad pertengahan sampai sekarang. Tidak heran banyak tokoh muslim terkemuka lahir dari kota ini. Perjalanan sejarah berikutnya  Syinqith terus berkembang sampai abad ke-16. Pada abad ke-16 inilah Syinqith telah memiliki begitu banyak koleksi ribuan buku yang tersimpan ratusan gedung  perpustakaan hingga Syinqith dijuluki  sebagai kota perpustakaan. 

Ketika mengunjungi kota Syinqith menjumpai beberapa deretan gedung perpustakaan kuno. Jumlah koleksi bukunya mencapai ribuan. Mayoritas koleksinya berkaitan dengan seni arsitektur hingga ilmu falak. Keberadaan perpustakaan dan ribuan koleksi buku menjadi daya tarik tersendiri bagi  wisata sejarah di kota ini. Jejak peradaban Islam di Syinqithi, Afrika Barat yang megah menghantarkan sebagai situs warisan dunia oleh Unesco. 

Syinqith terancam punah

Pada tahun 1910, Qadariyah Muhammas wafat. Perancis menguasai sebagian Barat Afrika Barat termasuk Mauritania. Semenjak itu, kebesaran Syinqith dengan peradaban Islamnya mulai hilang, punah  secara perlahan. Inilah awal kelam Kota Syinqith yang tidak mampu lagi mempertahankan status pusat peradaban Islam di kawasan gurun Sahara. 

Lebih memprihatinkan lagi gejala alam melanda kawasan ini tidak bisa dihindari. Kondisi tersebut tentu saja  mengancam keberadaan eksistensi ribuan manuskrip kuno di daerah itu. Ribuan manuskrip tersebut masih  tersimpan di rumah pribadi orang-orang Syinqith dengan  perawatan seadanya. Kawasan Mauritania sejak merdeka tahun 1960 pembangunan infrastruktur belum memadai menjadi masalah baru sampai hari ini.