Tafsir Al-Quran Surat Al-Nur: 35, Cahaya Sebagai Metafora dan Fenomena Materi

0
1827

Harakah.id – Konsep cahaya yang disinggung di dalam QS. An-Nur : 35. Allah menciptakan matahari sebagai sumber cahaya yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.

Optika adalah salah satu cabang ilmu fisika yang menggambarkan mengenai perilaku dan sifat cahaya beserta interaksi cahaya dengan materi. Teori mengenai cahaya ini sudah ada sejak masa sebelum masehi.

Salah satunya adalah filsuf asal Yunani yaitu Empedocles (495 SM – 435 SM) yang mengemukakan suatu gagasan bahwa kita melihat benda karena cahaya yang mengalir dari mata kita dan menyentuh benda tersebut. Meskipun belum sempurna, hal ini menjadi dasar (fundamental) yang kemudian digunakan oleh para filsuf dan matematikawan Yunani seperti Plato untuk membangun beberapa teori cahaya, penglihatan, dan optik.

Plato (429 SM – 347 SM) mendukung pendapat Empedocles, dengan mengemukakan bahwa kita dapat melihat benda di sekeliling kita karena dari mata kita memancarkan sinar-sinar pengelihatan yang berbentuk kumis-kumis peraba. Apabila kumis-kumis peraba menyentuh benda, maka kita akhirnya dapat melihat benda tersebut.

Teori yang dikemukakan oleh Empedocles dan Plato banyak ditentang, salah satunya oleh Ilmuwan Islam yaitu Al-Haithami (965 – 1039 M). Dia melakukan kontribusi eksperimental dari tingkat tertinggi di optik. Dia mengungkapkan bahwa seberkas cahaya, dalam melewati media, mengambil jalan yang lebih mudah dan ‘lebih cepat’. Dia juga sempat menyinggung konsep inersia, yang akhirnya menjadi hukum pertama Newton tentang gerak.

Teori-teori tentang cahaya ini terus-menerus berkembang tidak terbatas. Teori tentang cahaya mulai berubah sejak awal tahun masehi. Banyak sekali gagasan dan eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan. Gagasan yang muncul ada yang saling mendukung gagasan lainnya ataupun secara menolak gagasan yang lain. Perseteruan teori cahaya sebagai gelombang dan cahaya sebagai partikel cukup terwakili oleh sosok kedua ilmuwan penggagasnya, yitu Huygens dan Newton. Namun konsep yang berlawanan ini segera luntur ketika gagasan Newton gagal menjelaskan fenomena yang dibuktikan oleh Young (1773 M – 1829 M) melalui eksperimennya. Meskipun gagasan Huygens lah yang lebih diterima pada saat itu, ilmu pengetahuan selalu berkembang dari masa ke masa. Segera setelah Planck dan Einstein serta de Broglie memperkenalkan fenomena kuantum, efek fotolistrik serta cahaya yang dipandang sebagai paket energi yang disebut foton tersebut, maka sejak saat itulah mulai dikenal istilah “dualisme gelombang-partikel pada cahaya”.

Demikian perjalanan mengenai konsep cahaya yang telah ada sejak jaman sebelum masehi, sampai ditemukannya teori-teori modern. Pembahasan cahaya ini akan terus bekembang, sehingga akan ditemukan lagi teori-teori baru, yang mungkin saja menguatkan teori lama atau bahkan menentang teori lainnya.

Sebagai Muslim yang percaya pada kitab sucinya, saya mencoba menelaah konsep cahaya dalam al-Quran. Hal ini karena saya penasaran bagaimana kitab saya berbicara tentang objek yang telah dibahas oleh para ilmuwan sejak era Yunani kuno. Berikut adalah hasil eksplorasi saya terhadap QS Al-Nur: 35. Allah Swt berfirman,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsir Al-Mishbah mengenai ayat tersebut. Cahaya di sini memiliki makna fisis/materiil dan juga bermakna maknawi. Jika dilihat dari segi maknawi, cahaya tersebut menunjukan terhadap kebenaran, keadilan, pengetahuan, keutamaan, petunjuk dan keimanan. Allah Swt menerangi langit dan bumi dengan bukti-bukti yang terkandung di dalam alam raya ini dan segala sesuatu yang menunjukkan wujud Allah serta mengajak untuk beriman kepada-Nya.

Allah memberikan salah satu perumpaan cahaya yang berasal dari lampu pijar. Di dalam Tafsir Al-Muyassar, kata nurun ‘ala nur memiliki makna bahwa pelita/lampu pijar itu mengeluarkan cahaya, kaca mengeluarkan cahaya, dan celah di dinding memantulkan cahaya. Cahaya berada di dalam kaca, lalu akan diteruskan melalui kaca tersebut merupakan salah satu sifat cahaya, yaitu transmisi. Lalu, cahaya yang dipantulkan oleh dinding merupakan sifat cahaya lainnya, yaitu refleksi. Mengapa bisa terjadi transmisi dan reflaksi cahaya? Salah satunya adalah karena adanya indeks bias tertentu pada kaca dan dinding tersebut. Salah satu indikasi yang menarik mengenai cahaya, yaitu cahaya di dalam ayat ini dijelaskan sebagai gelombang (lebih spesifiknya merupakan gelombang elektromagnetik), dengan adanya kedua sifat tersebut. Hal ini bersesuaian dengan Dualisme Partikel Gelombang, yang mana cahaya dapat bersifat sebagai cahaya dan juga sebagai partikel.

Selain itu, kata Allahu nurus samawati wal ardhi, di dalam tafsir tersebut dijelaskan, Allah menjadikan langit dan bumi bersinar dengan keistikamahan penghuni keduanya, dan dengan kesempurnaan pengaturan Allah dan hidayah-Nya. Tafsir tersebut hanya memberikan makna secara maknawi. Bagaimana jika kita tinjau secara materiil/fisis? Sumber cahaya utama di dalam semesta yang Allah ciptakan adalah matahari. Matahari memiliki energi yang sangat besar (±1000 watt/m2). Cahaya tersebut mulai dari visible light (cahaya tampak) yang bisa kita amati secara langsung, sampai cahaya yang tidak dapat kita lihat secara langsung, yaitu inframerah dan ultraviolet.

Dengan adanya cahaya tampak ini, kita dapat melihat benda di sekitar. Pembahasan mengenai alasan benda dapat terlihat ini sudah ada sejak jaman dulu sebelum masehi. Dan salah satu indikasi dari ayat ini, bahwa benda dapat terlihat karena dikenai oleh cahaya, lalu cahaya tersebut dipantulkan, sehingga kita dapat melihat benda-benda di sekitar. Bagaimana jika matahari tidak Allah cipatkan? Sudah tentu alam semesta ini akan menjadi gelap gulita. Secara fisis, Allah menyinari bumi dan langit dengan matahari. Matahari memiliki jarak rata-rata 149,6 juta kilometer dari bumi. Terdapat salah satu indikasi secara tersirat dari ayat tersebut, yaitu sinar matahari dapat sampai ke permukaan bumi, salah satu sifat dari cahaya, dimana cahaya dapat menjalar tanpa adanya medium (di luar angkasa tidak ada udara/ruang hampa). Dengan jarak yang sangat jauh sekali, cahaya matahari bisa sampai ke permukaan bumi dengan kecepatan cahaya sebesar 3 × 108 m/s.

Al-Quran tidak melulu hanya berbicara tentang ibadah saja, namun di dalamnya pun terdapat kandungan mengenai konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan. Begitupun dengan konsep cahaya yang disinggung di dalam QS. An-Nur : 35. Allah menciptakan matahari sebagai sumber cahaya yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Maka dari itu, mari kita lebih mentadaburi ayat-ayat semesta untuk lebih meningkatkan keimanan kita kepada sang Pencipta.