Beranda Rekomendasi Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya…

Ada dua tipe manusia di dunia, mereka yang beriman dan mereka yang kufur. Setiap dari yang beriman dan kufur akan mendapatkan balasan, yang beriman mendapatkan pahala (reward) dan yang kufur mendapat hukuman (punishment). Pembalasan tersebut selain akan didapatkan saat di akhirat nanti, terkadang juga diberikan langsung saat di dunia. Semua itu terserah kehendak prerogatif Allah subhanahu wa taala.

Dalam tulisan kali ini penulis hendak membincang tipe manusia yang pertama, yakni orang yang beriman. Dalam Islam dikenal rukun iman ada enam, yaitu iman kepada; (1) Allah swt; (2) Malaikat; (3) Kitab-kitab Allah; (4) Para utusan; (5) Hari kiamat, dan; (6) Qada dan qadar. Seluruhnya wajib diketahui diyakini oleh seorang muslim, bilamana ada satu saja tidak diimani, maka sangat diragukan keimanannya. Hendaknya sebagai sesama muslim mengingatkan mereka yang semula imannya belum sempurna, dibantu hingga imannya semakin tebal, kuat dan sempurna.

Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 97 menjelaskan seseorang baik laki-laki atau perempuan yang berbuat baik maka ia adalah termasuk orang yang beriman. Kehidupannya diberi kemudahan dan keberkahan, selain itu juga mendapat imbalan yang tidak terkira dari Tuhan. Ayat tersebut berbunyi,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh—baik laki-laki maupun perempuan— dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan”. (Surah An-Nahl [16]: 97)

Menurut perspektif tafsir, Al-Qusyairi dalam tafsirnya mengartikan amal saleh adalah amal yang diterima. Diterimanya amal tersebut lantaran telah menjalankan perintah-perintah Allah. Lafaz “مَنْ عَمِلَ صَالِحًا” maksudnya amal yang dilakukan sekarang (di dunia). Adapun lafaz “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً” artinya pemberian yang akan didapatkan nanti (di akhirat). Semua kebaikan selama di dunia berhak mendapat limpahannya di akhirat, pasalnya amal saleh tidak bisa dilakukan tanpa didasari dengan iman. Karena itulah Allah berkata “وَهُوَ مُؤْمِنٌ”.

Sebagian ahli tafsir berpendapat lain perihal mukmin, bahwa keimanannya terhadap Allah karena mendapat keutamaan dari Allah (min fadlillah) bukan dari amal saleh yang ia lakukan. Pendapat lain mengatakan amal saleh yang dilakukan berasal dari taufik, ketetapan dan prakarsa Allah.

Lanjut Al-Qusyairi, huruf fa pada lafaz “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً” dalam Surah An-Nahl tersebut bermakna sebagai akibat. Dan wau pada lafaz “وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ” sebagai huruf aposisi (athaf). Lafaz yang awal berarti balasan akan terjadi segera (di dunia), kemudian lafaz yang kedua berarti balasan terjadi secara tunda (di akhirat). Lalu selanjutnya, apa yang itu kehidupan yang baik? Sejatinya, kehidupan yang baik tidak bisa jika hanya dipahami dengan ucapan atau kata-kata, ia hanya bisa dipahami dengan rasa.

Mengenai maknanya, sebagian dari beberapa kaum mengatakan, kehidupan yang baik adalah berupa rasa kenikmatan dalam beribadah, kanaah, rida, maknanya dirahasiakan, serta jiwanya didekatkan dengan Allah. Keseluruhannya adalah benar, dan dari masing-masing tadi memang layak diberikan kepada hamba Allah yang beriman.

Dikatakan lagi menurut para aulia Allah, bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tidak ada kebutuhan apa-apa, permintaan aneh-aneh, ingin ini dan itu, serta tuntutan apapun. Perbedaannya adalah jika seseorang memiliki hasrat biasanya ia akan membuat pengajuan, sedangkan yang tidak memiliki hasrat maka ia tidak menginginkan sesuatu apapun. (Lathaif Al-Isyarat/2/319-320)

Dalam tafsir lain, As-Sam’ani melalui kitabnya memberikan beberapa pendapat terkait “kehidupan yang baik” dari beberapa riwayat berikut;

1. Dari Ibnu Abbas bahwa kehidupan yang baik adalah rezeki yang halal.

2. Mujahid dan Ikrimah mengartikannya sebagai kanaah. Seperti dalam doa Nabi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، {فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً} [النحل: 97] قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو وَيَقُولُ: “اللَّهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ”

Ya Allah, jadikanlah aku orang yang qana’ah terhadap rezeki yang Engkau beri, dan berkahilah, serta gantilah apa yang luput dariku dengan sesuatu yang lebih baik”. (HR. Hakim) (Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain/2/388)

3. Hasan Al-Bashri menyatakan kehidupan yang baik di surga. Sedangkan menurut Al-Hasan, tidak ada kehidupan yang baik di dunia, yang ada tak lain hanya kesusahan. Kebaikan hanya bagai angin lewat.

4. Said ibn Jubair menuturkan maksud kehidupan yang baik adalah rezeki sehari-hari. Ada yang mengatakan rezekinya berupa kenikmatan dalam beribadah dan memakan sesuatu halal.  

5. Pendapat lain mengatakan kehidupan manusia di suatu daerah sehingga mereka diberi kecukupan dan kesehatan. Dikatakan juga mutlak tercukupi dan sehat. (Tafsir As-Sam’ani/3/199-200)

Seorang mufasir kontemporer sekaligus mantan grand syekh Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thantawi dalam tafsirnya mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang baik mencakup keseluruhan dari itu semua”, seperti yang dijelaskan dalam hadis yang dikeluarkan oleh Ahmad berikut, 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ “

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dan diberikan rizki yang cukup, dan ia merasa cukup dengan apapun yang diberikan Allah kepadanya. (HR. Ahmad) (Musnad Al-Imam Ahmad ibn Hanbal/11/134)

Ath-Thantawi dalam tafsirnya juga mengutip pendapat Az-Zamakhsyari pemilik tafsir Al-Kasyaf, “Maksud kehidupan yang baik adalah di dunia. Dilihat dari zahirnya lafaz ‘وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ’ yakni janji Allah pahala di dunia dan akhirat”, sesuai dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 148 berikut, 

فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 148) (At-Tafsir Al-Wasith lil Qur’an Al-Karim/8/231-232)

Sudah laiknya seorang mukmin senantiasa tetap beramal saleh baik dalam keadaan mudah atau sedang kesulitan, dengan demikian kehidupannya akan bertambah menjadi semakin baik. Jika sedang mudah maka ia baik-baik saja, namun saat kesulitan hendaknya ia memperbaiki hidupnya dengan menginstal rasa kanaah dan rida terhadap pemberian dari Allah swt.

Wallahu a’lam.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...