Beranda Kabar Tahap Pertama, NU Care Serahkan Rp 2,2 Miliar Dana Koin Muktamar ke...

Tahap Pertama, NU Care Serahkan Rp 2,2 Miliar Dana Koin Muktamar ke PBNU

Harakah.idNU Care-LAZISNU Serahkan Dana Tahap Pertama Koin Muktamar Senilai Rp 2,2 Miliar ke PBNU

Jakarta Persiapan Muktamar ke-34 NU sudah mulai dilakukan. Termasuk perencanaan pembiayaan yang diharapkan berasal dari kemandirian Nahdliyin, melalui gerakan Koin Muktamar. Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU, yang bertugas menghimpun dan mengelola dana dari program tersebut, telah menyerahkan dana tahap pertama senilai Rp 2.287.615.020 kepada PBNU, pada Selasa (2/11/2021).

Alhamdulillah, hari ini kami dari PP NU Care-LAZISNU menyerahkan secara simbolis tahap pertama dana Koin Muktamar. Ini (dana) dihimpun pada periode akhir 2019 sampai 2020,” kata Ketua PP NU Care-LAZISNU, Muhammad Wahib, di lantai 2 Gedung PBNU Jakarta Pusat, saat penyerahan dana Koin Muktamar kepada PBNU, yang diterima oleh Bendahara Umum PBNU, H Bina Suhendra.

Wahib menyampaikan, dana Koin Muktamar yang diserahkan tersebut adalah akumulasi sementara dari penghimpunan secara tunai, lewat rekening bank, dan via digital di halaman campaign nucare.id/program/koinmuktamar.

Dirinya juga menjelaskan bahwa gerakan atau program Koin Muktamar sempat terhenti karena musibah pandemi Covid-19.

“Di pertengahan jalan, ternyata kita terkendala musibah Covid-19, sehingga praktis program Koin Muktamar terhenti. Nah, ini pengumpulan dana yang sudah ada di kami. Saat ini, program tersebut masih berjalan di beberapa daerah dan secara digital di Pusat. Akan kami susulkan (serahkan dana) di tahap selanjutnya,” ucap Wahib.

Terkait model gerakan Koin Muktamar, Wahib menyebut tetap menggunakan model-model ala NU dan mengadopsi model baru secara digital.

Almuhafadhoh ‘alal qodimisshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Kita tetap menggunakan model-model ala NU, yaitu koin (kotak infak) NU di berbagai cabang. Juga wal akhdzu bil jadidil ashlah, penghimpunan Koin Muktamar secara digital,” katanya.

Menurut Wahib, penghimpunan Koin Muktamar dapat dilakukan melalui NU Care-LAZISNU di masing-masing cabang atau daerah, atau melalui Jaringan Pengelola Zakat, Infak dan Sedekah (JPZIS) NU.

“Itu nanti akan dikelola terlebih dahulu oleh sahabat-sahabat di cabang, dan nanti dikirimkan ke kami di Pusat. Yang kedua melalui digital, kita semua bisa membantu menyemarakkan dan membangun kemandirian Muktamar yaitu dengan menggunakan payment (pembayaran) secara digital, melalui tautan nucare.id/program/koinmuktamar,” paparnya.

Senada, Bendahara Umum PBNU, H Bina Suhendra pun menyatakan bahwa program koin tersebut adalah satu tahap pertama membangun kembali kemandirian Nahdliyin.

“Termasuk penghimpunan yang dilakukan secara digital. Maka dengan teknologi ini, kita harus maju. Supaya orang-orang bisa dimudahkan dalam menyumbang, termasuk iuran Koin Muktamar,” ungkapnya.

Bendum PBNU menegaskan, Nahdliyin tidak boleh meragukan kekuatan dan kebesaran NU sebagai jama’ah dan jam’iyyah.

“Kita tidak boleh underestimate (meremehkan) kekuatan dan kebesaran NU. Gus Mus juga pernah bilang kepada saya, kita harus kembali ke jam’iyyah. Kembali ke kemandirian. Pertama saya masuk di Bendahara Umum PBNU, visi saya satu, NU mandiri. Itu dibahas juga saat Pleno di Yogyakarta,” tegasnya.

Perihal penggunaan dananya, ia melanjutkan, rencananya akan disalurkan melalui bendahara atau Panitia Muktamar.

“Akan disalurkan melalui bendahara panitia, dan akan disetujui oleh Panitia Muktamar. Ini (akan) ketat sekali. Kita jaga betul (penggunaan dana), mulai dari nominal lima ribu rupiah, 20 ribu, 100 ribu. Karena ini amanah, dan kita diaudit,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya, PBNU pun telah menyerahkan dana ke Panitia Lokal senilai Rp 1 miliar, untuk persiapan infrastruktur tempat pelaksanaan Muktamar pada 23-25 Desember 2021 di Provinsi Lampung.

Pewarta: Wahyu Noerhadi

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...