Beranda Keislaman Akhlak Tak Hanya Berisi Materi Tatabahasa, Ilmu Nahwu Juga Mengajarkan Falsafah Kehidupan

Tak Hanya Berisi Materi Tatabahasa, Ilmu Nahwu Juga Mengajarkan Falsafah Kehidupan

Harakah.idIlmu Nahwu kita kenal sebagai ilmu tentang tatabahasa dan struktur Bahasa Arab. Tapi kenyataannya, dalam Nahwu ada juga pembelajaran mengenai falsafah kehidupan.

Ilmu Nahwu adalah satu di antara ilmu alat yang digunakan untuk memahami bahasa Arab. Secara otomatis ilmu nahwu menjadi faktor kunci dalam memahami makna Al-Qur’an, Hadits, dan beberapa karya Ulama’ yang menggunakan bahasa Arab. Mitos yang beredar di kalangan masyarakat adalah memahami Al-Qur’an, Hadits, dan karya-karya Ulama’ (konon disebut Kitab Kuning karena kertasnya berwarna kuning, tetapi sekarang banyak beredar kitab dengan kertas berwarna putih dan kitab elektronik. Mungkin akan terjadi pergeseran istilah. Dari kitab kuning bergeser ke istilah kitab putih atau kitab elektro) cukup memakai terjemahannya saja dan sudah banyak beredar di mana-mana.

Bagi penulis, persepsi seperti itu adalah mitos, karena faktanya adalah Al-Qur’an dapat dipahami secara utuh jika mengetahui asbabun nuzul dan tafsir setiap ayatnya, hadits dapat dimengerti secara sempurna jika mengetahui asbabul wurud dari setiap hadits yang disampaikan dan dilakukan oleh nabi Muhammad, dan kitab-kitab kuning para Ulama’ tidak semua telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Baiklah, pengumuman tentang urgensi ilmu nahwu tidak akan diperpanjang kali lebar, sebab tulisan ini memandang ilmu nahwu dari kacamata yang jarang digunakan oleh orang lain.

Baca Juga: Siapa dan Mana Lebih Unggul, Alfiyah Ibn Mu’thi Atau Alfiyah Ibn Malik?

Jika direnungi lebih saksama, ilmu nahwu tidak hanya menjelaskan ilmu tata bahasa Arab; tetapi juga mengandung ajaran tentang falsafah hidup. Mari kita mulai dari bab yang paling awal dalam ilmu nahwu, yakni bab Kalam. Arti kalam secara etimologi adalah ucapan/perkataan. Dalam ilmu Nahwu Kalam harus terdiri atas 4 hal, yakni lafadz, murokkab, mufid, dan wadho’.

Konsepsi kalam dalam ilmu Nahwu dapat dijadikan falsafah hidup, khususnya tentang tata cara manusia berbicara dengan orang lain di sekitarnya. Pepatah Arab menyebutkan bahwa keselamatan manusia bergantung pada caranya menjaga lisan. Sejalan dengan yang disebutkan dalam ilmu Nahwu, ucapan (kalam) yang dapat menyelamatkan manusia harus memenuhi 4 hal juga, yakni kalimat yang diucapkan harus lafadz, murokkab, mufid, dan wadho’.

Jika lafadz dalam ilmu Nahwu adalah ucapan yang menggunakan huruf hijaiyah (karena objek ilmu Nahwu adalah bahasa Arab, bukan bahasa Mandarin dst), maka arti lafadz dalam falsafah hidup adalah penggunaan kalimat/bahasa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di tempat kalimat/bahasa diucapkan. Penggunaan bahasa yang tidak memperhatikan situasi dan kondisi, dapat berakibat fatal terhadap diri sendiri.

Misalnya pemakaian kata ‘amis’ orang Sunda yang diucapkan di kota Surabaya (orang Jawa). ‘Amis’ dalam bahasa Sunda bermakna ‘manis’, sedangkan ‘amis’ dalam bahasa Jawa bermakna ‘anyir’. Tentu saja, pembaca yang budiman bisa menebak hal yang terjadi selanjutnya jika orang sunda ini berkata kepada orang Jawa bahwa masakannya amis pisan atau teh hangatnya amis pisan. Fatal, kan?

Syarat yang kedua adalah kalimat yang diucapkan harus murokkab (dalam ilmu Nahwu berarti minimal tersusun atas 2 kalimat), artinya manusia sebelum berbicara harus memikirkan ulang atas kalimat yang akan disampaikan atau minimal terdiri atas dua kali proses pemikiran. Pemikiran pertama adalah gagasan yang hendak disampaikan dan pemikiran yang kedua adalah aspek positif & negatif dari kalimat yang hendak diutarakan. Berpikir sebelum berbicara telah dianjurkan oleh nabi Muhammad lewat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Nabi Muhammad mengatakan “Janganlah mengucapkan perkataan yang membuat pengucapnya mencari-cari alasan untuk membenarkannya di kemudian hari”. Hadits ini mengajarkan kepada manusia untuk berpikir terlebih dahulu dalam berkata, sebelum api berubah menjadi abu. 

Baca Juga: Al-Amtsilah al-Tasrifiyyah, Kitab Kunci Untuk Bisa Membaca Kitab Kuning

Selain lafadz dan murokkab, setiap ucapan juga harus memenuhi unsur mufid. Arti mufid dalam ilmu Nahwu adalah mengandung faidah yang sempurna, sedangkan mufid sebagai falsafah hidup adalah setiap ucapan yang mengandung pesan kebijaksanaan atau memberikan manfaat kepada pendengarnya. Jika tidak ada nilai kebijaksanaan atau aspek kebermanfaatan dalam perkataan, maka nabi Muhammad menganjurkan untuk tidak berbicara alias diam. Hal ini terdapat dalam hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim yang berbunyi “Siapapun yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka Ia hendaklah berkata yang baik atau (jika tidak baik, hendaklah…) diam”.

Syarat terkahir yang harus dipenuhi oleh manusia jenis apapun ketika berbicara adalah wadho’. Tata bahasa Arab mengajarkan bahwa setiap kalam harus diucapkan oleh orang yang benar-benar memiliki akal (ada unsur kesengajaan), begitu pula perkataan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ucapan harus memiliki maksud atau tujuan. Perkataan yang tidak memiliki maksud dan tujuan (non-fungsional) dapat dianggap sama dengan suara kentut atau ucapan salam seekor burung beo. Teruntuk siapapun di antara kita yang merasa bosan mempelajari ilmu Nahwu karena materinya itu-itu saja, semoga tulisan ini dapat mengubah mindsetnya. Ilmu Nahwu tak melulu tentang rofa’, nashob, jer, atau jazem; tetapi juga menyangkut tentang kehidupan dan cara menghidupinya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...