Beranda Keislaman Hikmah Tak Hanya Fisik, Spiritualitas Juga Harus Dipersiapkan Guna Menyambut New Normal

Tak Hanya Fisik, Spiritualitas Juga Harus Dipersiapkan Guna Menyambut New Normal

Harakah.idMenjelang New Normal atau fase kelaziman baru pasca Covid-19, masyarakat dituntut untuk mempersiapkan banyak hal, termasuk pada aspek mentalitas dan spiritualitas.

Tantangan di depan mata adalah kebijakan akan hadirnya era new normal. WHO dan pemerintah Indonesia memaknainya sebagai era adaptasi terhadap pandemi Covid-19 dengan menjalankan protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran di semua sektor kehidupan.

Harapannya, era new normal akan membangkitkan semua sendi kehidupan dengan meminimalisasi risiko pandemi. Namun demikian di tahap awal era new normal kebangkitan khususnya sektor ekonomi belum serta merta akan kembali normal seperti sebelum pandemi. Masyarakat terdampak tetap membutuhkan uluran tangan, baik instan maupun pemberdayaan untuk kebangkitan.

Bulan suci Ramadan yang lalu telah mendidik muslim banyak hal, baik dalam hal kedisiplinan, pendidikan, ibadah, kedermawanan, dan lainnya. Selepas Ramadan dan memasuki bulan Syawwal menjadi momentum bagi muslim guna mengaktualisasikan bekal selama Ramadan bahkan meningkatkannya. 

Seluruh elemen penting memiliki kesamaan spirit menyongsong era new normal. Muaranya sama yaitu membangkitkan seluruh sendi kehidupan dengan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Era new normal membutuhkan kesiapan menghadapinya. Salah satu yang fundamental adalah kesiapan spiritual. Pasca-Ramadan menjadi momentum tepat guna mengoptimalkan bekal yang didapat selama Ramadan dan diaktualisasikan dalam kondisi new normal.

Sekilas Tentang Nilai Spiritual

Era new normal lahir karena kondisi pandemi yang sulit terprediksi selasainya. Pandemi Covid-19 sendiri merupakan bagian dari bencana kesehatan dan kemanusian. Cara pandang manusia beragama terhadap bencana. Pertama, cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Semua peristiwa alam yang terjadi dikembalikan kepada kehendak dan kekusaan Allah. Mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah sert amereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa juga sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.

Selain itu, bencana juga dijadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri  atau taubat agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Orang-orang ini tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.

Manusia semacam ini tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai bencana sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya.

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat

orang yang mengalami kusta atau lepra. Rasullah SAW bersabda, “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits ini, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Memulai Kesiapan Spiritual

Kesiapan spiritual dengan berbekal amalan Ramadan mesti diaktualisasikan dalam era new normal nanti. Salah satu yang masih membutuhkan sentuhan kebersamaan adalah penanggulangan dan membangkitkan bersama secara kemanusiaan.  

Sasaran program kemanusiaan tidak mengenal agama. Semua agama juga dipastikan memiliki perhatian dan mengajarkan kepedulian melalui agenda kemanusiaan. Untuk itu tidak ada salahnya bahkan akan lebih optimal jika antar komponen agama dan lainnya bergandengan tangan menunjukkan kebersamaan dalam solidaritas. Antar sesama penting tidak saling curiga.  

Korban terdampak membutuhkan murni uluran tangan kemanusiaan. Konsep keikhlasan penting dikedepankan dari para relawan. Apapun tanggapan dan tindakan warga terdampak pascapelaksanaan agenda kemanusiaan biarlah terjadi secara alamiah dan mesti dihormati.

Bencana selalu datang silih berganti jenis dan lokasinya. Untuk itu kemanusiaan mesti menjadi agenda tetap dan berkelanjutan. Bukan sekadar program insidentil dan spontanitas. Kemanusiaan merupakan bagian muamalah yang membuka lebar sinergi lintas keyakinan. Koordinasi dan komunikasi rutin mesti dijaga dan dilakukan guna menguatkan solidaritas sekaligus mengikis kecurigaan. Pemerintah, ororitas keagamaan, dan ormas mesti menjadi garda terdepan dalam menyiapkan aspek spiritual dan aktualisasinya di era new normal nanti.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...