Taliban, Afghanistan, dan Prahara yang Tak Kunjung Berakhir

0
83

Harakah.idPerseteruan kembali memanas antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Pasca penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan.

Perseteruan kembali memanas antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Pasca penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan. Konflik tak terhindarkan dari kedua kubu. Kelompok Taliban bersikukuh dan bertindak opresif. Taliban juga mulai merebut dan menguasai kembali beberapa wilayah di negara tersebut. Kelompok tersebut tidak mengharapkan perdamaian, kesejahteraan ataupun kemajuan. Oleh karena itu, dalam hal ini presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengeluarkan pernyataan atas kesalahan keputusan Amerika Serikat yang telah menarik pasukannya dari Afghanistan. Sementara itu, penarikan pasukan militer AS direncanakan bakal selesai pada akhir Agustus ini.

Proses negosiasi dan dialog juga telah dilakukan untuk menyepakati perdamaian antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Diskusi dalam rangka proses damai antara Taliban dan Afghanistan sebenarnya telah dimulai tahun lalu di ibu kota Qatar, Doha, namun tak membuahkan hasil sama sekali. Kelompok Taliban tidak bergerak sama sekali dalam upaya perdamaian, bahkan situasi keamanan yang tambah memburuk akibat perseteruan yang tak kunjung selesai tersebut.

Presiden Ghani juga menyebutkan bahwa para militan tidak memutuskan hubungan dengan kelompok teroris. Bahkan, kelompok tersebut telah meningkatkan berbagai upaya serangan atas perempuan dan aktivis masyarakat sipil di Afghanistan. Seharusnya Taliban dan pemerintah Afghanistan saling menerima dan berdamai demi terciptanya kehidupan yang damai di Afghanistan.

Perseteruan

Kelompok Taliban telah melakukan serangan di tiga ibu kota provinsi dalam kurun semalam saja. Kota-kota tersebut yakni Lashkargah, Kandahar, dan Herat. Serangan yang terjadi membuat ribuan warga sipil melarikan diri. Hal itu pun membuat pemerintah Afghanistan untuk berupaya dalam melakukan penghentian perebutan kota-kota tersebut. Sementara itu, jatuhnya Lashkargah ke tangan pihak Taliban. Tentu akan membuat pemerintah Afghanistan akan khawatir. Hal itu juga menjadi janji yang telah diucapkan pemerintah bahwa mereka akan melakukan berbagai cara dalam upaya mempertahankan ibu kota provinsi.

Tidak hanya itu, pertempuran juga terjadi di provinsi Kandahar. Bandara Kandahar juga menjadi target penyerangan Taliban yang terjadi pada Minggu kemarin (1/8/2021) malam. Taliban melancarkan roket dan merusak landasan pacu, serta mengakibatkan penerbangan terhenti selama beberapa jam akibat insiden tersebut.

Gejolak konflik antara Taliban dan pemerintah Afghanistan kali ini juga menjadi rentetan perseteruan yang terjadi antara kedua kubu yang belum terselesaikan. Momen penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan membuat Taliban melakukan usaha serangan secara intensif ke berbagai wilayah di Afghanistan.

Jika merunut pada dialog yang telah terjadi antara Taliban dan AS, mereka telah menyepakati beberapa kesepatan damai. Pihak AS menarik pasukan militernya adalah salah satu poin yang tercantum dalam perjanjian damai. Taliban menolak melakukan pembicaraan damai jika pasukan militer AS tidak hengkang dari Afghanistan. Untuk itu, AS pun menarik pasukan militernya agar proses perdamaian antara Taliban dan pemerintah Afghanistan dapat disepakati.

Masa Depan Afghanistan

Perseteruan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan akan terus memanas. Jika kedua kubu tidak ada yang memediasi dan inisiasi dari kedua kubu untuk melakukan dialog dan proses damai. Namun, tampaknya perseteruan keduanya akan terus memanas dalam beberapa hari kedepan. Apalagi beberapa hari sebelumnya, kedua kubu terlibat pertempuran selama dua hari dan serangan roket yang dilakukan oleh Taliban membuat bandara Kandahar tidak mampu beroperasi beberapa jam akibat serangan tersebut.

Isu perdamaian antara Taliban dan pemerintah Afghanistan juga menjadi bagian keterlibatan Indonesia dalam berupaya mendamaikan kedua kubu. Pihak pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga telah mengirimkan delegasi dalam proses perdamaian. Indonesia juga mengundang Taliban dan pemerintah Afghanistan dalam mendiskusikan masa depan perdamaian antara keduanya. Untuk itu, Indonesia terus berupaya dan mendorong terjadinya perdamaian. Hal ini juga menjadi tugas dan tanggungjawab pemerintah Indonesia sebagaimana tercantum dalam konstitusi untuk ikut serta dan berkontribusi dalam perdamaian dunia. Indonesia melakukan berbagai mediasi dan usaha agar kedua kubu bisa berdamai dan Afghanistan mampu keluar dari gejolak konflik yang berkepanjangan tersebut.

Sementara itu, Rusia, AS, China dan Pakistan berencana bakal mengadakan pertemuan dalam membahas perkembangan terakhir mengenai konflik Taliban dan pemerintah Afghanistan. Selain itu, keempat negara tersebut juga akan membahas bagaimana solusi dan upaya dalam perdamaian kedua kubu. Terlebih tujuan awal dari upaya diskusi tersebut juga terkait genjatan senjata yang harus segera dilakukan untuk meredam konflik yang tidak kunjung mereda.

Taliban dan pemerintah Afghanistan juga harus menunjukkan kemauan yang sama dalam mencapai genjatan senjata dan melakukan dialog secara intensif untuk membahas proses perdamaian. Afghanistan akan terus mengalami perseteruan dan konflik yang tak akan pernah usai, jika kedua kubu tak mampu menyepakati perdamaian. Meski dengan berbagai upaya dan inisiasi, serta mediasi yang dilakukan oleh berbagai negara dunia untuk membawa Afghanistan lebih aman, stabil, dan damai.