Tan Malaka: Ketika Saya Berdiri di Depan Tuhan Saya adalah Seorang Muslim

0
19619
Tan Malaka: Ketika Saya Berdiri di Depan Tuhan Saya adalah Seorang Muslim

Harakah.idTan Malaka adalah sosok kontroversial. Tapi siapa sangka, meskipun menganut paham komunisme, Tan Malaka adalah seorang Muslim.

Pada awal abad ke-20, yang dianggap sebagai tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia, sekira tahun 1920-an, banyak kaum kiri terlahir dari latar belakang keluarga Muslim. Meski mereka penganut marxis, tapi keimanan mereka tentang Islam tidak ditinggalkan.

Begitu juga dengan Tan Malaka saat mencoba memadukan Islam dengan marxisme guna menentang kolonialisme dan kapitalisme. Terlepas dari catatan sejarah bahkan stigma seorang Komunis. Sesungguhnya Tan lahir dari keluarga Muslim.

“Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ibu Bapak saya keduanya taat dan takut kepada Allah dan jalankan sabda nabi,” kata Tan dalam Islam dalam Tinjauan Madilog.

Bagi Tan, privasinya sebagai seorang Muslim adalah ketika ia berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya marxisme adalah cara untuk melawan kapitalis. Singkatnya, ketika Serekat Islam lahir yang ditenggerai Pan-Islamisme, sesungguhnya Tan menaruh harapan kepada organisasi itu sebagai satu-satunya kendaraan politik Islam. Meski ideologi keduanya berbeda, tapi bagi Tan, cita-cita Republik Indonesia bisa saja terwujud. Walaupun saat itu imbasnya SI pada akhirnya terpecah golongan; putih dan merah.

Menurut Tan, keduanya sama-sama kaum tertindas di bumi sendiri. Jika gerakan komunis dan Islam terpecah sebetulnya bukan karena berbeda ideologi melainkan propaganda politik.

Dalam catatan sejarah Indonesia, aliansi Islam dan Komunis memang pernah ada. Tan dan Agus Salim adalah diantara tokoh dibalik munculnya sekutu Islam dan Komunis. Tan memang tokoh kharismatik sehingga dapat memikat golongan kaum merah saat itu. Bahkan, dukungan terhadap Islam untuk menentang penindasan dan keserakahan imperalis ditulis dalam Naar de Republiek Indonesie.

“Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis,” jelas Tan.

Pada tahun 1922, saat Kongres Komunis Internasioanal ke-4 adalah momen dimana Tan menyampaikan pidato berapi-api yang terdengar tabu bagi orang-orang Komunis maupun Muslim.

“Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami,” tegas Tan seperti dikutip Harry A. Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik.

Terkait pidato di atas, Harry A. Poeze; seorang peneliti Tan Malaka kurang lebih lebih 40 tahun melihat bahwa pidato Tan sebagai bentuk ajakan konsolidasi terhadap umat Islam. Kata Harry, Tan mengakui dirinya seorang Muslim juga menganggap Islam adalah agama Revolusioner yang dapat menjadi rujukan demi cita-cita lahirnya Republik Indonesia yang Sosialis.

Alhasil, ketika kita bicara tentang Tan Malaka dan Islam tentu sangat kompleks dan mempunyai perspektif berbeda terkait kehidupan Tan. Maka sikap benci atau suka, kritis atau apresiasif tentu akan kembali kepada pribadi masing-masing.

Sederhananya, nilai-nilai ajaran Tan yang dipuja-puja bagi “Maba” calon aktivis kampus adalah tradisi tahunan yang sudah umum terjadi. Artinya, penanaman ideologi Tan kepada siapapun jika itu baik maka dirawat. Namun, jika itu tidak baik, kritisilah dengan cara-cara literasi. Karena bagaimanapun juga pengetahuan tidak berhenti begitu saja melainkan terus berkembang.