Tanggapan MUI Soal Insiden Pembubaran Pengajian Ustaz Firanda di Aceh

0
803
tanggapan mui soal pembubaran pengajian firanda oleh warga aceh

Harakah.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menanggapi insiden pembubaran jemaah pengajian Ustaz Firanda Andirja di Aceh. Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Kiai Cholil Nafis, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal di luar hukum.

“Saya berharap pada masyarakat agar tidak melakukan tindakan-tindakan di luar konstitusi, di luar undang-undang peraturan kita,” ujar Cholil saat dihubungi kumparan, Sabtu (14/6).

“Jadi kalau ada hal-hal yang tidak setuju, maka bisa dilakukan dengan koordinasi dengan aparat, dengan penegak hukum dan pihak keamanan, karena khawatir nanti menjadi pemicu antar pendukung sehingga bisa menimbulkan hal yang fatal hadirnya keamanan setelah terjadi kericuhan,” imbuhnya.

Insiden ini terjadi di Masjid Al-Fitrah, Keutapang II, Banda Aceh, Kamis (13/6) malam. Massa meminta pengajian Ustaz Firanda yang sedang berlangsung agar dibubarkan karena dinilai berpahaman wahabi dan tak sejalan dengan aliran Ahlulsunnah Waljamaah (Aswaja).

Sebagian dari massa yang tak sanggup membendung emosi bahkan tersulut keributan kecil hingga saling melempar sandal. Setelah dua jam, keributan baru bisa diredakan.

Ke depannya, Cholil berharap kasus penolakan dakwah seperti ini tak lagi terulang. Dia juga meminta para ustaz di indonesia tetap mengedepankan pluralitas beragama dan keorganisasian.

“Ini bisa mejadi bahan muhasabah bagi para dai agar lebih berhati-hati untuk menyampaikan dakwah, tahu situasi dan kondisi, karena dakwah itu tidak hanya menyampaikan kebenaran, tapi ada metode dan media penyampaian kebenaran, itu harus disesuaikan dengan local wisdom kearifan lokal,” tuturnya.

“Oleh karena itu, mungkin inilah jadi evaluasi bagi Ustaz Firanda di dalam menyampaikan statement-statement-nya sehingga mungkin cocok bagi kelompoknya, tapi bagi kelompok lain tersinggung, oleh karena itu, hal-hal yang sifatnya khilafiyah (perbedaan pendapat), furu’iyah, itu bisa disampaikan dengan lebih santun, lebih beradab,” ujar Cholil.

Selengkapnya baca: kumparan.com