Beranda Sajian Utama Sejarah Lengkap Peran Dan Kontribusi Khadijah Binti Khuwaylid Dalam Menyukseskan Dakwah Nabi...

Sejarah Lengkap Peran Dan Kontribusi Khadijah Binti Khuwaylid Dalam Menyukseskan Dakwah Nabi Muhammad

Harakah.idPeran dan kontribusi Khadijah tentu saja tidak bisa disepelekan. Sebagai istri Nabi dan muslimah pertama yang memeluk Islam, Khadijah punya peranan penting dalam suksesnya dakwah Nabi di fase-fase selanjutnya.

Salah satu tahapan penting dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah fase ketika Nabi Muhammad SAW. menikah dengan Khadijah binti Khuwaylid. Pernikahan pertama yang dilakukan Nabi di masa mudanya ini secara tidak langsung menjadi salah satu faktor penting yang menentukan bagi kejadian-kejadian yang akan dialami Nabi Muhammad SAW. di fase-fase setelahnya; diangkatnya Muhammad sebagai Rasul, turunnya wahyu yang pertama dan ujian berupa penolakan-penolakan yang secara beruntun diperlihatkan oleh masyarakat Arab Mekkah.

Selain itu, peran dan kontribusi Khadijah juga penting dalam konteks ekonomi dakwah Nabi. Dakwah yang Nabi Muhammad SAW lakukan tentu butuh biaya. Baik itu untuk keperluan primer seputar sandang, pangan dan papan, maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya yang diperlukan dalam proses dakwah. Sebagai seorang saudagar kaya yang memiliki perusahaan perdaganga sukses di Mekkah, Nabi Muhammad SAW. memiliki semacam sokongan dana tak terbatas yang membuatnya tenang dalam menangkap wahyu ketuhanan dan menyebarkannya kepada orang lain.

Kekuatan ekonomi Khadijah juga berdampak pada posisinya di lingkungan Arab Mekkah. Tidak ada orang yang dengan seenaknya menganggu Nabi Muhammad SAW dan Khadijah. Selain karena keduanya berasal dari trah leluhur Arab Quraisy jempolan dan merupakan bagian dari suku paling kuat di Mekkah, independensi ekonomis yang mereka miliki menjadikan posisi keduanya kuat secara kultural dan politik.

Baca Juga: Inilah Nama Anak Tiri Nabi Muhammad SAW, Putra Sayyidah Khadijah

Masyarakat Arab memang terkenal sebagai suku pedangan, salah seorang di antaranya adalah Khadijah. Ada rahasia mengapa Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai seorang pedagang dan menikahkannya dengan seorang saudagar. Sebagaimana yang akan kita ulas nanti, dunia perdagangan dan perniagaan sebenarnya merupakan dunia tempat Nabi Muhammad SAW. membangun jaringan, relasi dan mengumpulkan informasi, bukan hanya terkait kondisi Arab dan sekitarnya, tapi juga negeri-negeri jauh di luar daratan Arab.

nucare-qurban

Semuanya turut membentuk Nabi Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul (sekaligus seorang presiden, panglima perang dan negarawan) yang sukses dan berparadigma luas. Dunia perdagangan, dengan sekelumit problem yang muncul di dalamnya, juga melatih Nabi Muhammad SAW. untuk menjadi sosok yang kejujuran dan kesabarannya tidak perlu ditanyakan lagi. Maka, sebelum ke sana, meniti tahapan sejarah di mana Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah kami kira menjadi satu tahapan yang tidak boleh diabaikan dalam setiap pembacaan terhadap sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Sosok Khadijah Sang Pengusaha Perempuan Sukses

Sebelum berbicara soal peran dan kontribusi Khadijah, baiknya kita mengenal terlebih dahulu siapa beliau.

Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwaylid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr. Istri pertama Nabi Muhammad dan salah satu orang yang masuk Islam pertama serta menyertai perjuangan awal Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

Khadijah hidup dalam sebuah masyarakat yang tidak ramah terhadap perempuan. Ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk dipahami terlebih dahulu dari kebiasaan hidup masyarakat Arab jahiliyah yang kemudian menimbulkan problematika yang tak sederhana ketika Islam datang. Kunci pertama adalah sistem ekonomi yang terbentuk dari masyarakat Arab yang tribal dan bersuku-suku, kunci kedua berupa aturan tak terlulis pernikahan yang mereka berlakukan sebagai kelanjutan dari yang pertama.

Sistem ekonomi masyarakat Arab yang bersuku-suku adalah ekonomi kolektif yang menisbikan hak kepemilikan individu dalam sebuah kelompok. Dalam artian, harta seorang anggota suku sejatinya merupakan harta kelompok atau suku di mana dia tinggal. Oleh karena itu masyarakat Arab lebih kental dalam kesukuannya dibandingkan dengan darah kekeluargaannya. Dan oleh karena itu juga keberadaan suku adalah unsur yang paling krusial dalam dinamika kehidupan masyarakat Arab.

Sistem ekonomi semacam ini kemudian memaksa mereka untuk membentuk sistem perkawinan sebagai ajang memperkuat dan mentali-eratkan dua suku yang berbeda. Aliansi semacam ini tentu penting dan menentukan bagi sistem masyarakat tribal. Ia akan memperkuat sebuah suku di semua sektornya: ekonomi, politik dan kebudayaan. Karena itu masyarakat Arab secara tidak langsung mensyaratkan bahwa pernikahan yang ada mesti perkawinan non muhrimnya. Haram menikah dengan muhrimnya sendiri. Di samping itu mereka juga mengharuskan perkawinan dengan kerabat atau suku jauh dibandingkan yang dekat. Dua syarat ini secara telanjang menggambarkan kepada kita maksud dan tujuan awal perkawinan dalam masyarakat Arab.

Baca Juga: Apakah Keluarga Percaya Muhammad Menjadi Nabi? Cerita Tentang Kecerdasan Khadijah

Namun sistem semacam ini tak selamanya lancar. Banyak sekali persoalan yang ditimbulkan, salah satunya adalah problem perwarisan. Dan tak jarang masalah ini memantik sebuah peperangan. Ilustrasinya begini. Ketika seorang laki-laki suku A mengawini perempuan suku B, maka ada keniscayaan hukum yang mengatur. Yaitu ketika ayah perempuan suku B meninggal, lantas dirinya mendapatkan harta waris berupa hewan gembala misalnya, maka harta tersebut secara tidak langsung akan menjadi milik si laki-laki suku A sebagai suaminya. Namun kesimpulan hukum yang sama tidak terjadi saat yang meninggal adalah ayah laki-laki suku A, maka si perempuan dari suku B tidak mendapatkan bagian.

Ketimpangan semacam ini tentu sangat merugikan suku B secara kolektif dan sebaliknya, ia menguntungkan suku A. Permasalahan belum berakhir. Bagaimana jika si laki-laki melakukan poligami? Sedangkan tradisi semacam ini lumrah dan menjadi kebiasaan masyarakat pada waktu itu. Tak diragukan lagi suku A si laki-laki akan meraup keuntungan ekonomi yang sangat besar. Ini yang lalu menjadi alasan mengapa masyarakat Arab seringkali tidak suka ketika melahirkan bayi perempuan lantas menguburkannya hidup-hidup.

Dengan adanya problem semacam ini, masyarakat Arab lalu membuat aturan tidak memberikan harta waris kepada perempuan. Karena jika tidak, maka yang dipertaruhkan adalah eksistensi seluruh anggota suku berikut keseimbangan perekonomian serta posisi sosial-politik mereka.

Dari sini, terlihat secara samar bagaimana posisi perempuan di dunia Arab Mekkah saat itu. Tidak memiliki posisi, baik secara politis, sosial maupun kultural. Perempuan tak lebih dari sekedar properti dan komoditas, yang diperjual belikan dan saling dipertukarkan seperti unta, sapi dan kambing. Maka perempuan independen bisa dibilang merupakan sesuatu yang mustahil untuk konteks kehidupan masyarakat Arab saat itu.

Sekali lagi, mustahil dan tidak banyak perempuan yang sukses dalam dunia perdagangan dan bisnis; dua hal yang menjadi ciri khas pekerjaan kaum Arab Quraisy seperti Khadijah binti Khuwaylid. Seorang janda kembang dengan paras wajah yang cantik, bernasab mulia, memiliki kedudukan yang kuat dalam struktur sosial suku Quraisy dan kaya raya. Sudah banyak kaum dan laki-laki yang berlomba-lomba berupaya untuk mendapatkan hati Khadijah. Namun semuanya gagal tanpa hasil.

Kekayaan dan perusahaan dagang Khadijah sebenarnya tidak ia usahakan sendiri. Perempuan dalam lingkungan sosial Arab Mekkah memang minor. Para saudagar perdagangan mayoritas adalah laki-laki. Perdagangan dan kekayaan Khadijah tidak terlepas dari dua mantan suaminya, yang pernah Khadijah nikahi sebelum menikahi Nabi Muhammad. Dari kedua suaminya itulah Khadijah mewarisi kekayaan dan usaha perdagangan yang terus dia kembangkan.

Atiq Bin ’Aidz adalah nama laki-laki pertama yang Khadijah nikahi sewaktu muda. Namun, suaminya itu tidak hidup lama dan wafat dengan meninggalkan kekayaan yang melimpah. Setelah itu, Khadijah menikah lagi dengan seorang pedagang dari Bani Tamim bernama Hindun Bin Banas. Mirip dengan suami pertamanya, Hindun tidak hidup lama. Dia meninggalkan Khadijah dengan harta yang sangat banyak. Dengan kekayaan dua mantan suaminya dan usaha perdagangan yang ditinggalkan, Khadijah bertekad melanjukan usaha tersebut. Perdagangannya ternyata sukses dan semakin menjadikannya wanita yang kaya raya. Konon, Khadijah mempunyai lebih dari 80.000 unta yang tersebar di berbagai tempat.

Ibn Hisyam menggambarkan bahwa usaha yang dibangun oleh Khadijah benar-benar sudah mapan. Perusahaan perdagangan yang memperkerjakan banyak karyawan laki-laki, yang memiliki relasi perdagangan dengan negeri-negeri lain, adalah beberapa ciri yang menunjukkan bahwa perdagangan Khadijah termasuk salah satu yang paling sukses waktu itu. Kafilah-kafilah perdagangan Khadijah menyebar ke berbagai negeri tetangga dan rajin mengadakan perjalanan.

Selain merupakan trah keturunan bangsawan dan leluhur orang Quraisy, kondisi ekonomi yang mapan juga turut membawa Khadijah ke sebuah posisi yang tidak pernah dialami oleh perempuan-perempuan Quraisy lainnya. Khadijah adalah perempuan yang berdikari, independen, tidak tergantung pada laki-laki manapun. Dunia perdagangan membawanya ke sebuah posisi yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh perempuan Arab Mekkah pada waktu itu.

Dari ulasan tersebut, kita bisa melihat bahwa Khadijah binti Khuwaylid adalah perempuan langka di zamannya, yang menduduki posisi tidak sebagaimana yang biasanya terjadi.

Baca Juga: Hanya Khadijah yang Mampu Menenangkan Nabi di Malam-Malam Pertama Turunnya Mandat Kerasulan

Nabi Muhammad SAW. Memimpin Kafilah Dagang Khadijah

Awal mula kisah cinta Nabi Muhammad SAW. dan Khadijah dimulai dari gerobak-gerobak perdagangan yang bisa digunakan oleh kafilah-kafilah perdagangan. Di waktu itu, masyhur di kalangan orang Arab Mekkah nama seorang pemuda bernama Muhammad. Kejujuran dan kemuliaan ahlaknya diakui dan menjadi buah bibir. Hingga pada akhirnya ia sampai di telinga Khadijah. Yang kemudian menjadikan dorongan baginya untuk menguji dengan mengutus anak muda bernama Muhammad ini memimpin kafilah perdagangannya ke Syam.

Untuk merekam apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibn Hisyam, Khadijah juga mengutus salah seorang asisten kepercayaannya bernama Maysaroh. Tugas utama Maysaroh dalam kafilah perdagangan yang dipimpin oleh Nabi ke Syam adalah merekam sekaligus melaporkan setiap kejadian dan peristiwa yang dilakukan serta dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Singkat cerita, berangkatlah Nabi Muhammad SAW., Maysaroh berserta rombongan kafilah perdagangan ke Syam.

Setibanya di Syam, Nabi Muhammad SAW. duduk di bawah sebuah pohon hanya sekedar untuk beristirahat sebelum membuka lapak dagangannya. Tiba-tiba, ada seorang Rahib yang datang bertanya kepada Maysaroh, “siapa yang duduk di bawah pohon itu?” Maysaroh menjawab ala kadarnya, “dia laki-laki Quraiys yang berasal dari Tanah Haram” Setelah diam sejenak, sang Rahim menimpali jawaban Maysaroh, “dia bukan manusia biasa. Dia adalah Nabi!”

Kejujuran Nabi dalam berdagang tidak perlu diragukan lagi. Barang dagangan yang dibawanya dari Mekkah dengan cepat terjual habis dan memperoleh keuntungan yang besar. Setelah mendapatkan pengalaman pernyataan seorang Rahib di Syam, Maysaroh, menurut Ibn Hisyam, lagi-lagi mendapatkan penampakan yang tidak biasa dia lihat.

Ketika perjalanan pulang menuju Mekkah, kebetulan cuaca sedang terik-teriknya. Seolah-olah matahari hanya berjarak beberapa jengkal dari kepala. Maysaroh yang merasa kepanasan lalu melihat dua malaikat yang menaungi Nabi Muhammad yang tengah menaiki untanya. Nabi Muhammad tidak terlihat kepanasan seperti anggota rombongan yang lain. Untuk kesenian kalinya, lagi-lagi, Maysaroh menyaksikan sesuatu yang tidak biasa dari diri Muhammad.

Setelah tiba di Mekkah, langsung saja Maysaroh melaporkan apa yang dilihat dan dialaminya selama berada dalam rombongan kafilah perdagangan yang dipimpin oleh Muhammad kepada Khadijah. Maysaroh melaporkan kejadian yang dialaminya ketika bertemu dengan seorang Rahib yang menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang Nabi. Maysaroh juga mengisahkan bagaimana malaikat menaunginya dari terik dan panas matahari ketika berada dalam perjalanan pulang menuju Mekkah. Mendengar apa yang diceritakan oleh Maysaroh, sontak Khadijah kaget. Lambat laun, sedikit demi sedikit mulai tumbuh rasa kagum yang kelak akan berbunga dan melahirkan rasa cinta kepada Muhammad.

Kekaguman dan kebahagiaan Khadijah bukan hanya karena keuntungan yang didapat dari perdagangan yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sangat besar. Kebahagiaan Khadijah juga lahir dari penantian yang selama ini dialaminya; mencari sesosok laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Pelan-pelan, gambaran itu terlihat dalam diri Nabi Muhammad SAW dengan seluruh sifat-sifat terpuji yang diperlihatkannya dan masyhur di kalangan orang Arab Mekkah.

Nabi Muhammad SAW. Menikahi Khadijah

Karena buncahan perasaan yang tak mampu dibendungnya lagi, Khadijah, setelah sekian lama memendam rasa kepada Muhammad, pada akhirnya datang dan mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada laki-laki yang dikaguminya itu. Kejujuran yang diperlihatkan Muhammad, kemuliaan akhlak dan komitmennya dalam menjaga amanah mengaburkan selisih usia yang terpaut di antara mereka berdua.

Dalam versi cerita yang lain, meskipun bagian ini tidak disuguhkan oleh Ibn Hisyam, Khadijah mengungkapkan perasaannya kepada sahabatnya yang bernama Nufaisah. Melalui sahabatnya ini juga, apa yang dirasakan oleh Khadijah disampaikan kepada Nabi Muhammad. Awalnya Nabi agak ragu karena memang dirinya masih muda dan tidak memiliki kemapanan ekonomi untuk menikahi perempuan sekelas Khadijah. Setelah keraguan Nabi tersampaikan kepada Khadijah dan Khadijah tidak mempermasalahkan hal itu, barulah Nabi berkosultasi kepada keluarga dan para pamannya.

Setelah konsultasi kepada keluarganya, tidak memakan waktu yang lama, Nabi Muhammad beserta Hamzah bin Abdul Muthalib, salah seorang pamannya, langsung datang ke rumah Khadijah dan menghadap Khuwaylid bin Asad. Ada juga versi yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad berangkat bersama Abu Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib menghadap paman Khadijah bernama Amru bin Asad untuk menyampaikan lamaran.

Menurut Ibn Hisyam, Nabi menikahi Khadijah saat usianya menginjak 25 tahun. Nabi Muhammad memberikan mahar pernikahan berupa 20 ekor unta muda; mahar yang tergolong tinggi untuk seorang pemuda berusia 25 tahun.

Khadijah adalah istri satu-satunya yang dinikahi oleh Nabi Muhammad sampai wafatnya. Kesetiaan dan kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada istri pertamanya itu, dalam beberapa kasus, seringkali membuat Aisyah cemburu. Bagaimana tidak, perempuan kaya raya bermartabat tinggi yang rela menikahi seorang anak muda yang kelak akan banyak dimusuhi oleh orang Arab Mekkah. Perempuan yang setia ada di samping Nabi Muhammad dalam setiap segmen perjuangan yang beliau lakukan. Perempuan pertama yang masuk Islam dan mengakui risalah kerasulan Nabi Muhammad. Perempuan kuat yang dengan sabar mengantarkan makanan ketika Nabi Muhammad bertahannus di Gua Hira. Maka maklum ketika kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada Khadijah tidak ada duanya.

Maka kata Nabi, selain Maryam, Khadijah binti Khuwaylid merupakan sebaik-baiknya perempuan Arab;

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ حَدَّثَنَا النَّضْرُ عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

Dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwaylid, Nabi Muhammad SAW melahirkan beberapa putra-puteri, yakni: al-Qasim, al-Thayyib, al-Thahir, Ruqayyah, Zaynab, Ummi Kultsum, Fathimah. Putera Nabi Muhammad seluruhnya meninggal sebelum risalah kenabian. Sedangkan seluruh puterinya masuk Islam dan mengakui risalah kerasulan ayahandanya tersebut.

Khadijah dan Dakwah Islam

Peran dan kontribusi Khadijah dalam menyukseskan dakwah Nabi Muhammad sangatlah besar. Terutama di masa-masa awal Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah SWT sebagaimana yang terekam dalam hadis masyhur berikut ini:

 عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ}فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

Dalam hadis turunnya wahyu yang pertama ini, kita bisa mencatat beberapa peran dan kontribusi Khadijah binti Khuwaylid:

Pertama, sebelum turunnya wahyu, Nabi Muhammad SAW telah melakukan semedi atau tahannus selama beberapa hari. Khadijah adalah satu-satunya yang menyediakan akomodasi Nabi Muhammad; mulai dari mengantarkan makanan dan pakaian. Di malam hari, ketika orang Quraisy terlelap dalam tidurnya, tanpa menggunakan obor atau alat penerangan lainnya karena khawatir akan diketahui musuh-musuh Nabi, Khadijah berangkat sendirian mendaki bukit Hira’ sembari membawa beberapa perlengkapan dan makanan untuk Nabi Muhammad SAW.

Kedua, peran dan kontribusi Khadijah terlihat dari kematangannya ketika menenangkan Nabi Muhammad kala wahyu pertama turun. Nabi Muhammad SAW pulang dalam keadaan panik, menggigil dan berkeringat. Nabi Muhammad meminta selimut kepada Khadijah. Khadijah dengan tenang menyediakan seluruh permintaan Nabi Muhammad. Kematangan dan ketenangan Khadijah dengan cepat membawa ketenangan pada diri Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, kecerdasan dan kepekaan Khadijah dengan langsung membawa Nabi Muhammad kepada Waraqah bin Naufal merupakan keputusan yang brilian untuk satu hal yang mendesak dan harus cepat diselesaikan. Lagi-lagi, keputusan semacam ini tidak akan lahir dari ketergesa-gesaan. Keputusan semacam ini lahir dari kematangan yang dipadukan dengan kepekaan dan ketenangan.

Di masa-masa setelah turunnya wahyu, baik ketika Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah secara diam-diam maupun ketika beliau berdakwah secara terang-terangan, Khadijah selalu ada dan siap untuk menjadi mem-back up segala keperluan Nabi Muhammad. Sokongan ekonomi, emosi dan sumbangsih pikiran dilakukan oleh Khadijah demi suksesnya dakwah sang Rasul. Di fase-fase ini, peran dan kontribusi Khadijah benar-benar terasa dan menjadi tonggak jalannya dakwah.

Khadijah, Perdagangan dan Perannya Membentuk Muhammad

Perkenalan Nabi Muhammad SAW dengan dunia perdagangan dimulai sejak beliau ikut serta dalam setiap perjalanan dagang pamannya Abu Thalib. Di usia 12 tahun, tercatat Nabi sudah ikut dalam kafilah perdagangan Abu Thalib ke Syam. Maka pengetahuan tentang berdagang dan lain sebagainya telah menjadi pelajaran yang dikonsumsi Nabi sejak dini.

Pengalaman tersebut semakin matang ketika Nabi Muhammad dipercaya oleh Khadijah menjadi pimpinan kafilah perdagangannya menuju Syam. Apa yang selama ini dipelajari oleh Nabi Muhammad, mendapatkan momentum aplikasinya ketika beliau sendiri yang benar-benar memimpin rombongan pedagang di bawah perusahaan Khadijah.

Ada banyak hal yang didapatkan Nabi Muhammad SAW dari profesi-profesi yang pernah beliau lakukan. Berdagang dan menggembala. Dua pekerjaan yang beliau lakukan bukan hanya untuk mencari uang, namun juga melatih mentalitas dan daya berpikir guna menghadapi situasi yang lebih besar.

Said Ramadhan al-Buthi menyebutkan ada tiga hikmah dan pelajaran di balik profesi yang digeluti Nabi Muhammad SAW yang secara tidak langsung turut membentu kepribadian dan cara berpikir beliau;

Pertama, berdagang dan menggembala melatih karakter Nabi Muhammad SAW. Dalam menggembala dan berdagang Nabi Muhammad SAW melatih kesabarannya, kejujurannya dan komitmennya terhadap tanggung jawab yang dipikulnya.

Kedua, pasar dan gembala adalah miniatur kehidupan tempat Nabi Muhammad berlatih menghadapi ragam karakter manusia. Ketika menggembala, Nabi Muhammad mengurusi kambing dan sapi; dua mahluk yang tidak memiliki akal sebagaimana manusia dan melatih dirinya untuk bisa mengatur serta mengarahkan mereka.

Di dalam berdagang, di pasar dan tempat-tempat lainnya, Nabi Muhammad SAW menyaksikan tabiat, kebiasaan dan ragam kepribadian manusia. Pengetahuan tentang sifat asli manusia kelak membantu Nabi Muhammad dalam merumuskan satu metode dakwah yang tepat.

Ketiga, sebagai seorang pendakwah, Nabi Muhammad Saw harus menunjukkan independensinya. Pendakwah yang benar-benar ingin mengajak kepada kebaikan adalah pendakwah yang tidak bisa disogok, tidak bisa dibayar dan tidak bisa dipengaruhi oleh apapun.

Jalan kebenaran yang ditempuhnya adalah jalan yang tidak bisa ditawar-tawar. Maka bekerja, baik itu ketika menjadi penggembala maupun ketika menjadi pedagang, membuat Nabi Muhammad menjadi sosok yang mandiri dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Independensi inilah yang nanti banyak menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar serius dalam mendakwahkan Islam. Tawaran menggiurkan yang beliau terima dari musuh-musuhnya agar berhenti mendakwahkan Islam, beliau tolak mentah-mentah.

Itulah kilasan sejarah mengenai peran dan kontribusi Khadijah binti Khuwaylid dalam suksesnya dakwah Nabi Muhammad SAW.

REKOMENDASI

Kapan Istilah Sufi dan Tasawuf Muncul Dalam Konteks Keilmuan Islam? Ini Sejarahnya…

Harakah.id - Sufi dan tasawuf, menurut Ibnu Khaldun, secara istilah memang belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Islam pada abad...

Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Harakah.id - Orientalisme, Barat dan Islam adalah variabel kunci dari artikel yang Said tulis di tahun 1980 ini. Namun tampaknya apa...

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...