fbpx
Beranda Headline Tarik Ulur Hermeneutika Tafsir al-Quran, Antara yang Menerima dan yang Menolak

Tarik Ulur Hermeneutika Tafsir al-Quran, Antara yang Menerima dan yang Menolak

Harakah.idHermeneutika Tafsir al-Quran dianggap sebagai satu pendekatan baru dalam penafsiran al-Quran. Namun keberadaan mahluk baru ini memunculkan polemik; ada yang menolak dan ada yang menerima.

Problematika yang muncul pada masa sekarang dengan masa lalu pada saat al-Qur’an diturunkan tentu sudah sangat jauh berbeda. Hal tersebut melahirkan tuntutan agar al-Qur’an dapat berperan dan berfungsi dengan baik sebagai pedoman dan petunjuk hidup untuk umat manusia, terutama di zaman kontemporer ini. Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan yang apabila kita membacanya akan bernilai ibadah, lebih luas dari pada itu al-Qur’an harus dipahami maksud dan maknanya, serta mengungkap isi kandungan di dalamnya.

Berbagai upaya dan metode penafsiran telah banyak diciptakan dan dikembangkan oleh ulama-ulama islam demi terwujudnya pemahaman terhadap isi kandungan al-Qur’an. Dengan demikian mampu menghadirkan al-Qur’an sebagai kitab petunjuk yang cocok dan sesuai pada setiap tempat dan waktu.

Salah satu metode penafsiran yang muncul di era kontemporer ini adalah Hermeneutika Tafsir al-Quran. Namun metode ini banyak menuai kritik pedas karena dianggap berasal dari luar keilmuan khazanah islam. Namun tak sedikit pula yang mendukung metode Hermeneutika ini.

Kalangan yang menolak Hermeneutika beranggapan bahwa Hermeneutika berasal dari Barat, sebuah metode kritik yang digunakan orang-orang kafir. Jika kita menggunakan Hermeneutika itu sama saja kita telah mengikuti langkah orang-orang kafir, terlebih dalam hal ini digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an maka akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dzalim. Pada awalnya metode tersebut digunakaan sebgaia metode kritik terhadap Bibel. Isi Bibel dianggap problematis, berbeda dengan al-Qur’an yang diyakini kesakralannya. 

nucare-qurban

Para tokoh yang menolak merasa bahwa metode ini menyalahi metode penafsiran yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu. Hal tersebut dikarenakan metode Hermeneutika hanya akan mengantarkan pembacaan dan pemahaman kitab suci dengan cara menundukkannya pada sejarah, ruang, dan waktu yang terbatas. Mereka menganggap metode ini tidak sejalan dengan konsep tafsir dan takwil dalam khazanah islam. Selain itu mereka juga meyakini bila Hermeneutika diterapkan dalam proses memahami al-Qur’an dapat merusak tatanan keilmuan islam bahkan merusak aqidah islam.

Menurut Adian Husaini (Husaini: 2006), terdapat setidaknya tiga problem besar yang akan muncul jika Hermeneutika ini diterapkan dalam tafsir al-Qur’an. Pertama, Hermeneutika menghendaki sikap yang kritis dan bahkan cenderung curiga. Sebuah teks bagi seorang hermeneut tidak bisa lepas dari kepentingan-kepentingan tertentu, baik dari si pembuat teks maupun budaya masyarakat pada saat teks itu dilahirkan. Kedua, Hermeneutika cenderung memandang teks sebagai produk budaya (manusia), dan abai terhadap hal-hal yang sifatnya transenden (ilahiyyah). Ketiga, aliran Hermeneutika sangat plural, karenanya kebenaran tafsir ini menjadi sangat relatif. Adian juga menyatakan bahwa perbedaan worldview (pandangan) antara Islam dan Barat juga melatar belakangi kompleksitas Hermeneutika bila diaplikasikan dalam studi Islam. Di sisi lain karena perbedaan worldview di mana Hermeneutika lekat dengan teologi kristen protestan.  

Salah satu dampak dari hermeneutika tafsir al-Quran jika diterapkan untuk menafsirkan al-Qur’an adalah penyelisihan terhadap kaidah-kaidah umum Islam, merelatifkan batasan antara ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, usȗl dan furu’, qat’iyyah dan dzaniyyah, mencerca ulama Islam, dekonstruksi konsep wahyu yaitu menggugat otentisitas al-Qur’an sebagai kitab yang terlindungi lafadz dan maknanya, dan juga akan mereduksi sisi kerasulan Sang Penyampai Wahyu Muhammad hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat dengan kekeliruan dan hawa nafsu (Shalahudin: 2007). 

Para penentang Hermeneutika memiliki alasan tersendiri mengapa mereka menolak metode tersebut seperti yang sudah dipaparkan di atas. Begitu juga dengan para pendukung Hermeneutika memiliki alasan yang sangat logis mengapa mereka menerima metode tersebut. Sebelum lanjut kepada pembahasan, penulis akan menyatakan alasan dasar dukungan terhadap Hermeneutika. Metode penafsiran Hermeneutika bukan bertujuan untuk mengubah al-Qur’an atau menghilangkan keskralitasannya, tetapi justru metode ini membawa penyegaran terhadap al-Qur’an karena menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan realitas saat ini serta mampu menjawab problematika yang muncul di dalamnya.

Menurut Fadzlur Rahman,  sangat penting mengaplikasikan Hermeneutika dalam studi al-Qur’an, khususnya dalam penafsiran untuk menangkap makna dan pesan moral secara komprehensif, sehingga tercipta keterkaitan antara konteks ayat yang satu dengan konteks ayat yang lain. Dalam rangka memahami al Qur‟an, ia menawarkan metodologi Hermeneutika doble movement (gerak ganda penafsiran) dalam rangka untuk melahirkan objektivitas dalam interpretasi.

Tokoh lain yang mendukung yaitu Muhammad Arkoun, menurutnya umat Islam harus melakukan analisis kritis terhadap implikasi kondisi darurat, terutama dalam aspek ekonomi, sosial dan politik. Konsep tersebut menjadi gagasan Hermeneutikanya yaitu dengan metode kritik historis-analisis arkiologis. 

Suatu hal yang perlu ditegaskan adalah Hermeneutika bukan pengganti tafsir atau pun takwil. Justru Hermeneutika bisa menjadi mitra bagi keduanya. Sebab tafsir dan takwil hanya mampu menggali “sebagian pesan Tuhan” yang ada di dalam al-Qur’an. Sementara Hermeneutika mampu membantu mengungkap pesan Tuhan yang tidak terjangkau oleh Tafsir dan Takwil. Dengan demikian dimensi Ilahi al-Qur’an tetap terpelihara dan pada saat yang sama pesan manusiawi nya bisa digali (Wijaya: 2011). Selain itu mampu menyelaraskan hasil interpretasi dengan masa sekarang, mampu menimbang sisi kontekstualitas, dan menjawab problematika realitas manusia.

Seorang tokoh ulama, Quraish Shihab, juga memberikan pandangannya terhadap hal ini. Menurutnya jika Hermeneutika dipahami dengan penjelasan tentang maksud firman-firman Tuhan atau teks kitab suci, tidaklah keliru bila dikatakan bahwa sebenarnya Hermeneutika ini telah dikenal oleh ulama Islam, jauh sebelum istilah ini muncul dan berkembang di Barat dan sebagian bahasan dari Hermeneutika yang muncul dewasa ini telah dikenal oleh ulama sebelumnya (Shihab: 2009)

Menurut hemat penulis, menolak Hermeneutika hanya karena ia berasal dari Barat bukan merupakan alasan yang bijaksana. Karena banyak metode-metode dalam Hermeneutika yang bisa diterapkan dalam studi islam. Dalam menjawab kritik tersebut Shairon Syamsuddin memberikan pandangannya bahwa keraguan ini bisa diatasi dengan argumentasi bahwa meskipun al-Qur’an diyakini oleh sebagian besar umat Islam sebagai wahyu Allah yang verbatim, sementara Bibel diyakini umat Kristiani sebagai wahyu Tuhan dalam bentuk inspirasi, namun bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan Ilahi kepada manusia adalah bahasa manusia yang bisa diteliti, baik melalui Hermeneutika maupun ilmu tafsir (Syamsuddin: 2009)

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dipahami bahwa meskipun banyak kritik dan penolakan dari banyak tokoh terhadap metode Hermeneutika ini tetap sebetulnya mereka memiliki maksud yang sama dengan yang menerima metode ini. Mereka sama-sama ingin mengungkap makna dan isi kandungan dalam al-Qur’an serta memfungsikannya ke dalam realitas sosial masa kini sehingga mewujudkan kitab suci al-Qur’an yang shalih likulli zaman wa makan. 

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...