fbpx
Beranda Ramadhan Tata Cara Membayar Zakat Fitrah dengan Uang Menurut Mazhab Hanafi

Tata Cara Membayar Zakat Fitrah dengan Uang Menurut Mazhab Hanafi

Harakah.id – Persoalan yang sering terjadi adalah masyarakat mengikuti pendapat dalam mazhab Hanafi tentang kebolehan bayar zakat fitrah dengan uang, tetapi tidak disertai dengan dasar pengetahuan yang lengkap tentang cara bayar zakat dengan uang berdasar mazhab tersebut.

Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban dalam Islam. Ia menjadi wajib ketika memasuki satu Syawal atau di akhir bulan Ramadhan. Dalam mazhab Syafi’i, yang diikuti mayoritas umat Islam Indonesia, zakat fitrah adalah dengan mengeluarkan bahan makanan pokok yaitu beras. Tetapi belakangan berkembang fenomena membayar zakat fitrah dengan uang.

Dalam pandangan mazhab Syafi’i membayar zakat fitrah dengan uang tidak sah. Lalu, bagaimana solusinya? Jika seseorang ingin membayar zakat fitrah dengan uang, maka ia harus bertaklid kepada ulama yang membolehkannya, yaitu mazhab Hanafi.

Persoalan yang sering terjadi adalah masyarakat mengikuti pendapat dalam mazhab Hanafi tentang kebolehan bayar zakat fitrah dengan uang, tetapi tidak disertai dengan dasar pengetahuan yang lengkap tentang cara bayar zakat dengan uang berdasar mazhab tersebut. Padahal, hal ini penting karena terkait keabsahan zakat fitrah yang ditunaikan.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, dijelaskan tentang pandangan mazhab Hanafi tentang masalah ini. Berikut penjelasannya.

الموسوعة الفقهية الكويتية (23/ 343)
ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُجْزِئُ إِخْرَاجُ زَكَاةِ الْفِطْرِ الْقِيمَةُ مِنَ النُّقُودِ وَهُوَ الأْفْضَل، أَوِ الْعُرُوضِ، لَكِنْ إِنْ أَخْرَجَ مِنَ الْبُرِّ أَوْ دَقِيقِهِ أَوْ سَوِيقِهِ أَجْزَأَهُ نِصْفُ صَاعٍ، وَإِنْ أَخْرَجَ مِنَ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ أَوِ الزَّبِيبِ فَصَاعٌ، لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَال: كَانَ النَّاسُ يُخْرِجُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ تَمْرٍ أَوْ سُلْتٍ أَوْ زَبِيبٍ. قَال ابْنُ عُمَرَ: فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ، وَكَثُرَتِ الْحِنْطَةُ جَعَل عُمَرُ نِصْفَ صَاعِ حِنْطَةٍ، مَكَانَ صَاعٍ مِنْ تِلْكَ الأْشْيَاءِ.

Para ulama mazhab Hanafi berpendapat boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Ia lebih afdhal. Atau harta perniagaan. Tetapi ketika seseorang mengeluarkan zakat fitrah dengan burr, daqiq, sawiq, maka cukup mengeluarkan sebanyak setengah sha’. Jika mengeluarkan dalam bentuk sya’ir, tamr, atau zabib, maka satu sha’. Karena ada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dia berkata, “Masyarakat mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW sebanyak satu sha’ Sya’ir, tamr, sulti, atau zabib.” Ibnu Umar berkata, “Ketika Umar memerintah, dan hinthah melimpah, Umar mewajibkan setengah sha’ hinthah sebagai ganti dari semua jenis makanan tadi.”

Melalui penjelasan ini dapat dipahami bahwa ulama mazhab Hanafi membolehkan membayar zakat fitrah dengan senilai harga makanan pokok. Tetapi belum dijelaskan berapa ukuran bahan pokok yang dinilai dengan uang ini.

الموسوعة الفقهية الكويتية (23/ 343)
ثُمَّ قَال الْحَنَفِيَّةُ: مَا سِوَى هَذِهِ الأْشْيَاءِ الأْرْبَعَةِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا مِنَ الْحُبُوبِ كَالْعَدَسِ وَالأْرْزِ، أَوْ غَيْرِ الْحُبُوبِ كَاللَّبَنِ وَالْجُبْنِ وَاللَّحْمِ وَالْعُرُوضِ، فَتُعْتَبَرُ قِيمَتُهُ بِقِيمَةِ الأْشْيَاءِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا، فَإِذَا أَرَادَ الْمُتَصَدِّقُ أَنْ يُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَدَسِ مَثَلاً، فَيُقَوِّمُ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ، فَإِذَا كَانَتْ قِيمَةُ نِصْفِ الصَّاعِ ثَمَانِيَةَ قُرُوشٍ مَثَلاً، أَخْرَجَ مِنَ الْعَدَسِ مَا قِيمَتُهُ ثَمَانِيَةُ قُرُوشٍ مَثَلاً، وَمِنَ الأْرْزِ وَاللَّبَنِ وَالْجُبْنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الأْشْيَاءِ الَّتِي لَمْ يَنُصَّ عَلَيْهَا الشَّارِعُ، يُخْرِجُ مِنَ الْعَدَسِ مَا يُعَادِل قِيمَتَهُ

Kemudian para ulama mazhab Hanafi berkata, selain empat jenis bahan pokok yang ditegaskan dalam teks hadis, seperti kacang adas dan beras –dari jenis biji-bijian, dan seperti susu, keju, daging, dan harga perniagaan –dari jenis non biji-bijian, maka harganya dihitung dengan harga bahan makanan pokok yang disebut dalam teks hadis. Ketika seorang yang hendak membayar zakat ingin mengeluarkan zakat fitrah dari kacang adas, misalnya, maka dia menghitung dulu harga setengah sha’ burr. Ketika harga setengah sha’ burr adalah delapan Qurusy, misalnya, maka dia mengeluarkan zakat senilai delapan Qurusy harga kacang adas. Dan jika seseorang ingin mengeluarkan zakat dengan beras, susu, keju dan lainnya yang tidak disebut dalam teks hadis, maka dia mengeluarkan seharga kacang adas.

Dari sini sekilas tampak rumit membayar zakat dengan uang. Tidak semudah yang dibayangkan oleh sebagian kalangan di Indonesia. Berdasarkan keterangan ini, ketika hendak mengeluarkan zakat dalam bentuk uang, orang harus tahu dulu berapa harga bahan makanan pokok khas Timur Tengah seperti gandum-ganduman dan kurma. Setelah tahu harganya, baru dihitung berapa nilainya jika dikeluarkan dalam bentuk beras. Baru dikeluarkan dalam bentuk uang senilai beras. Sederhananya, kita harus tahu harga satu sha’ gandum, lalu mengkonversinya menjadi ukuran beras, dapat berapa kilogram beras dengan uang satu sha’ gandum itu, baru setelah itu zakat dibayarkan dengan harga beras.

Pertanyaannya, berapa harga satu sha’ gandum hari ini? Apakah panitia zakat di negeri ini pernah bertanya dan menghitungnya sebelum membuka pengumuman menerima zakat fitrah dengan uang? Nah, di sini tanggung jawab panitia zakat jadi lebih besar.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...