fbpx
Beranda Keislaman Akidah Tradisi Bertawassul Sudah Ada Sejak Zaman Ulama Salaf, Ini Buktinya...

Tradisi Bertawassul Sudah Ada Sejak Zaman Ulama Salaf, Ini Buktinya…

Harakah.id – Pada zaman ini sebagian umat Islam dibingungkan tentang boleh tidaknya tawassul. Padahal tawassul sudah menjadi amalan rutin kebanyakan kaum muslimin. Entah dari kalangan pondok pesantren, para Habaib maupun di majelis-majelis dzikir.

Akan tetapi baru-baru ini muncul pertanyaan kembali, apakah tawasul ada dalam syariat? Apakah sudah ada di jaman Nabi Muhammad SAW? Apakah ada perintahnya? Apakah ada dalilnya? Bahkan ahli tawassul sering diberi label “Ahlul Bid’ah”, apakah benar demikian?

Tawassul sendiri dilihat dari tinjauan bahasa artinya perantara. Sementara menurut istilah, tawassul adalah pendekatan diri kepada Allah SWT dengan wasilah (perantara). Baik berupa amal sholeh, nama dan sifat Allah, ataupun zat dan jah (derajat) orang sholeh seperti para nabi, wali dan selainnya.

Tawassul bisa dimaknai wasilah yang berarti segala sesuatu yang dapat menjadi sebab sampainya pada tujuan. Jadi yang dimaksud tawassul di sini adalah memohon datangnya suatu kemanfaatan atau terhindarnya suatu bahaya kepada Allah dengan menyebut nama nabi atau wali untuk menghormati keduanya.

nucare-qurban

Di antara macam-macam tawassul yang masih dipertanyakan adalah tawassul dengan menyebut orang-orang sholeh atau keistimewaan mereka di sisi Allah SWT. Mayoritas ulama mengakui keabsahannya secara mutlak, berdasarkan dalil Al-Qur’an, Hadits dan praktik tawassul para shahabat Nabi. Adapun dalilnya sebagai berikut:

Al-Quran

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”(QS. al-Maidah:35)

Kata “perantara” berarti setiap hal yang Allah jadikan sebagai sebab kedekatan kepada-Nya dan sebagai media dalam pemenuhan kebutuhan dari-Nya. Prinsip sesuatu dapat dijadikan wasilah adalah sesuatu yang diberi kedudukan dan kemuliaan oleh Allah.

Karenanya, wasilah yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup berbagai model wasilah, segala sesuatu yang memiliki kemuliaan di sisi Allah, seperti para nabi dan shalihin, baik sepanjang masa hidup dan setelah kematiannya, atau wasilah lain, seperti amal shaleh, derajat agung para nabi dan wali, dan selainnya. Jika salah satu wasilah tersebut tidak diperbolehkan, mestinya harus ada dalil yang membatasinya (Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, Mafahim Yajib an Tushahah, 118.)

Hadits

Dari ‘Usman bin Hunaif R.A., beliau berkata; “Aku mendengar Rasulullah saw saat ada seorang lelaki buta datang mengadukan matanya yang tidak berfungsi kepadanya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah saw, aku tidak punya pemandu dan sangat payah.

Beliau bersabda: ‘Pergilah ke tempat wudhu, berwudhu, salatlah dua raka’at, kemudian berdoalah (dengan redaksi): ‘Wahai Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu, dengan (menyebut) Nabi-Mu Muhammad saw, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Tuhan-Mu dengan menyebutmu, karenanya mataku bisa berfungsi kembali. Ya Allah terimalah syafaatnya bagiku, dan tolonglah diriku dalam kesembuhanku.’

‘Utsman berkata: ‘Demi Allah kami belum sempat berpisah dan perbincangan kami belum begitu lama sampai lelaki itu datang (ke tempat kami) dan sungguh seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali’.” (HR. Al-Hakim, Al-Tirmidzi dan Al-Baihaqi. Shahih)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan tawasul dengan menyebut zat beliau semasa hidupnya. Hal ini terbukti dalam doa tersebut disebutkan redaksi: “Wahai Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu, dengan (menyebut) Nabi-Mu Muhammad SAW, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sungguh aku menghadap kepada Tuhan-Mu dengan menyebutmu.”

Contoh Dari Para Sahabat

Dari sahabat Anas, ia mengatakan: Pada zaman Umar bin Khaththab pernah terjadi musim paceklik, ketika shalat minta hujan Umar bertawassul kepada paman Rosulullah, Abbas bin Abdul Muththalib:

kemudian umar berkata Ya Tuhan, dulu kami mohon kepada-Mu dengan tawassul kepada nabi-Mu, maka engkaupun menurunkan hujan kepada kami,dan kita (sekarang) memohon kepadamu dengan tawassul kepada paman nabimu turunkanlah hujan kepada kami,Allah pun menurunkan hujan kepada mereka.(HR. Al-Bukhari)

Dari hadis tersebut, dapat difahami bahwa tawassul merupakan wasilah atau sarana terkabulnya sebuah hajat bagi seorang hamba. Bertawassul kepada Nabi atau para wali hanyalah sebagai sebab terkabulnya suatu doa atau hajat. Baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Perlu kita ketahui yang mengabulkan bukan beliau-beliau akan tetapi yang mengabulkan tetap Allah SWT. Hanya saja para nabi, wali dan orang-orang sholeh menjadi lantaran atau wasilah. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa tawassul itu musyrik karena minta kepada orang atau makhluk Allah, itu hanyalah fitnah yang tidak berdasar sama sekali.

Dengan demikian, bertawassul dapat dianalogikan dengan seseorang yang sedang sakit datang ke dokter dan meminum obat supaya diberikan kesembuhan oleh Allah. Ia tetap berkeyakinan bahwa yang menciptakan kesembuhan adalah Allah.

Sedang obat hanyalah sebagai sebab munculnya kesembuhan. Oleh karena itu, jika obat itu merupakan contoh dari sebab ‘adi (yaitu sebab yang bersifat alamiyah), maka tawassul merupakan sebab syar’i (yaitu sebab – sebab yang memang diperkenankan oleh syara’).

Kemudian ada pertanyaan, apakah para ulama salaf terdahulu juga melakukan tawassul? Jawabnya, Iya. Dengan bukti sebagai berikut:

Kisah Sufyan bin ‘Uyainah (198 H/813 M)

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: ada dua laki-laki saleh yang dapat menurunkan hujan dengan cara bertawassul dengan mereka, yaitu ibnu ‘Ajlan dan Yaid bin Yazid bin Jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/781-855 M) dalam kitab al-‘Illal wa Ma’rifah al-Rijal, Juz I, hal. 163-164.

Kisah Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M)

Ketika berziarah ke Madinah dan berdiri hadapan makam Rasulullah SAW beliau berkata,

“Hai orang yang termulya diantara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dengan ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu-satunya harapan Abu Hanifah.

Kisah ini disebutkan oleh Sayyid Muhammad al-Maliki Al-Hasani dalam kitab al-Ziarah al-Nabawiyyah, (Mekah: Maktabah al-Auqaf wa al-Syu’un, tth), hal. 56)

Kisah Imam Al- Syafi’I (150-204 H/767-819 M)

Hal ini dapat juga dilihat dari pernyataan beliau, sebagai berikut.

Dari Ali bin Maimun, beliau berkata: Aku telah mendengar imam Al-Syafi’i berkata: Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari.

Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan shalat dua rakaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku segera terkabulkan.

Kisah ini disebutkan oleh al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali al-Baghdadi dalam Tarikh al-Baghdad Juz I hal. 123 dengan sanad yang shahih.

Semoga kita bisa mengikuti Nabi SAW dan para Salafus Sholih terutama dalam hal bertawassul. Sudah tidak ada yang namanya permasalahan atau fitnah yang mengatakan bahwa tawassul adalah bid’ah akidah, semoga kita dikumpulkan dengan kekasih kita Nabi Muhammad SAW dan para Sholihin. Amiin. (Nurron Kholifatul Ardhi).

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...