Beranda Gerakan Teks Jadi Berhala, Simbol Jadi Tuhan; Fenomena Puritanisme Dalam Naskah Suluk Malang...

Teks Jadi Berhala, Simbol Jadi Tuhan; Fenomena Puritanisme Dalam Naskah Suluk Malang Sumirang

Harakah.idSuluk Malang Sumirang, sebagaimana layaknya naskah suluk lainnya, mempertontonkan sebuah realitas keagamaan yang terjadi di Nusantara abad 19. Salah satu di antaranya adalah kemunculan kaum puritan dan fundamentalis.

“… Akathah wong ngrempelu/ tata lapal kang den-rasani/ sembayang lan puasa/ kang tansah den-gunggung/ den-senggih anyelamena/ sumbalinga awuwuh andurbalani/ akeh dadi brahala”

Suluk Malang Sumirang

Suluk Malang Sumirang adalah naskah suluk yang berisi konten-konten keagamaan dan tasawwuf. Sebagaimana layaknya naskah suluk dan serat tasawwuf lainnya, Suluk Malang Sumirang berisi tipuan-tipuan tekstual yang memaksa pembaca untuk melihat jauh ke dalam dan memperkirakan makna apa yang dimaksudkan.

Menurut Ahmad Baso, gaya pasemon memang menjadi ciri khas naskah-naskah sufi seperti suluk dan serat. Beberapa di antaranya bahkan mengambil gaya penyampaian yang “saru” dan penuh dengan sensualitas. Kali ini secara khusus saya akan mengambil fragmen materi dalam Suluk Malang Sumirang terkait kritiknya terhadap kelompok agama model dhaluwang-mangsi.

Baca Juga: Sejak Kapan Istilah Harakah Menjadi Konsep dan Cita-cita Gerakan Kebangkitan Islam?

Dalam cuplikan teks Suluk Malang Sumirang yang saya cantumkan di awal, terlihat jelas upaya Malang Sumirang menunjukkan konteks praktek keagamaan yang terjadi saat itu. Teks menjadi Tuhan dan segala-galanya. Satu cara beragama yang kalau tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan Hadis berarti bukan “agama”. Bagi Malang Sumirang, praktek semacam ini tak kalah purba dan jahiliyahnya dengan praktek keberagamaan yang dilakukan para penyembah berhala. Teks adalah berhala mereka yang tak bernyawa.

“10… Akathah wong ngrempelu/ tata lapal kang den-rasani/ sembayang lan puasa/ kang tansah den-gunggung/ den-senggih anyelamena/ sumbalinga awuwuh andurbalani/ akeh dadi brahala.”

“… Banyak orang omong kosong/ makna harfiah yang diperhatikan/ sembahyang dan puasa/ yang senantiasa dihitung/ dianggap dengan itu menjadikannya Islam/ padahal itu dapat membahayakan/ sebab bisa menjadi berhala.”

Baca Juga: Sejarah Lengkap Salafi-Jihadi: Aktivisme Ikhwanul Muslimin dan Puritanisme Wahabi [1]

Coba perhatikan bagaimana kritik yang dilancarkan Malang Sumirang. Sembahyang, puasa dan ritual lainnya dalam Islam adalah omong kosong belaka ketika ia dianggap satu-satunya unsur yang menjadikan seseorang dikatakan Islam. Sembahyang hanya dipahami secara terminologis, tanpa ada usaha untuk menangkap nilai-nilai halus di balik regulasi yang dimaktubkan agama. Pada akhirnya, sembahyang menjadi tuhannya yang dia jadikan sesembahan dan inti keislamannya.

Pada akhirnya:

“13. Brahalane den gendhong den indhit/ malah kabotan dening dandanan/ tur wruh jatining awake/ ing karsa tanpa guru/ ngamungaken unining tulis/ anutur bawaning liyan/ kajatene dheweke nora den-lingling/ teka pijer mimilang.”

“Berhalanya digendong dan ditenteng/ malah terbebani atribut tampilan/ buta akan kesejatian dirinya/ kehendak diambilnya tanpa guru/ mengutamakan bunyinya teks/ mengekor kebiasaan orang lain/ kesejatian dirinya sendiri tiada diawasi/ asal bisa mengajar.”

Dari pemahaman puritan-tekstual itulah kemudian berhala yang menjadi Tuhan barunya kini mewujud satu cara beragama yang menuhankan citra dan tampilan. Ketika teks agama dipahami dari sisi kulitnya saja, maka apa yang dapat ditangkap seseorang dari doktrin yang ada tidak akan jauh dari tangkapan yang beraroma atribut dan perhiasan. Dari puritanisme berbasis teks, lahirlah agenda instrumentalisasi agama yang menjadi lahan bagi banyak sekali agenda-agenda  kapitalistis.

Maka jangan heran ketika sebuah praktik keagamaan yang paling puritan dalam Islam justru merupakan model keberagamaan yang paling memungkinkan untuk bersanding dengan agenda kapitalisme dan oligarki. Meskipun keduanya nampak sangat berbeda; puritanisme mengandaikan penolakan terhadap seluruh bentuk modernisme, dan kapitalisme yang notabene adalah dinamo modernisasi, namun keduanya sejalan dalam hal bagaimana menilai sesuatu dari sudut pandang untung dan rugi.

Artinya, fenomena keberagamaan yang kini menjadi komoditas, sudah diramalkan dan dijelaskan secara pasemon oleh Wali Songo dan orang-orang pesantren melalui naskah Serat dan Suluk. Kita bisa menyaksikan bersama bagaimana umroh dan haji menjadi trend yang memikat hati kaum muslimin; seakan-akan belum lengkap islamnya jika belum pernah menginjak tanah suci Makkah berkali-kali.

Baca Juga: Sejarah Lengkap Perkembangan Aliran Salafi Jihadi di Indonesia

Dan juga tidak mengherankan bila kita menemukan banyak sekali ustadz-ustadz televisi yang melejit tanpa dibekali oleh ilmu pengetahuan yang mumpuni. Ketika salah seorang ustadz di salah satu stasiun televisi mengatakan bahwa “di surga penuh dengan pesta seks dan untuk itulah kita beragama”, maka sejak abad 18 para Wali sudah memperingatkan hal itu.

Di sisi yang lain, pemahaman atau keberpijakan yang terlalu berlebihan pada teks (taking text too seriously) akan melahirkan radikalisme dan sikap intoleransi yang sangat tinggi terhadap segala bentuk keperbedaan yang terjadi.

“14. Doa gung alit kang den-ajrihi/ ujar kupar kapir kang den-gulang/ kalal karam kang den-ane/ sembayange tan surut/ puasane den ati-ati/ tan ayun kaselapan/ karingkes ing ukum/ kaya uga tumekaa/ sembah puji sembayange rina wengi/ pengrasane wus nata.”

“15. Daluwange ana rong pedati/ dene mangsine rong genthong ana/ nora nana wekasane/ den-alir dipun urut/ anggung gawe pating barigi/ arebut mumuradan/ tan ana kang mundur/ kupur kinupurken samya/ dangu-dangu salang gepyok ing kulambi/ dadi pinisah katah.”

“14. Dosa besar dan kecil yang ditakuti/ kata kufar kafir yang hanya dipelajari/ halal halam yang dijaga/ sembayang tidak berhenti/ puasaya tertib dikerjakan/ tidak ingin melalaikan/ sibuk terjebak aturan/ seperti berharap segera tiba/ bersembayang siang-malam/ anggapannya sudah benar (Islam)”

“15. Kertasnya dua pedati/ tintanya dua gentong/ tidak ada batasannya/ diikuti dan dituruti/ terburu-buru dalam segala sesuatu/ Berebut tafsir/ tidak ada yang mengalah/ saling mengkafirkan/ lama-lama bertikai/ dilerai banyak orang.”

Suluk Malang Sumirang lagi-lagi menggunakan diksi “dluwang” atau “daluwang” dan “mangsi” untuk mendukung teks “tata lapal kang den-rasani”. Secara interteks, cara berbahasa Suluk Malang Sumirang terkait pembahasan dan problem yang sama, mirip dengan cara berbahasa Serat Gatholoco yang juga menggunakan kata “dluwang” dan “mangsi”.

Kertas dan tinta adalah dua unsur utama dari penulisan teks. Tentu tidak sulit bagi kita untuk menangkap bahwa yang dikritik Malang Sumirang maupun Gathocolo bukanlah teks doktrinal dalam Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis. Namun keduanya lebih mengarahkan kritik pada logika kelompok puritan dalam berkomunikasi dan memahami teks agama itu sendiri.

Kutipan yang saya suguhkan di atas adalah uraian lanjutan dari Malang Sumirang tentang konsekuensi dan beberapa ciri dari orang yang dalam beragama terlalu kuat berpijak pada teks; dalam arti ia tidak menerima unsur agama apapun selain agama yang berasal dari teks, yang disuarakan langsung dari aksara-aksara yang termaktub dalam teks tersebut.

Akibatnya, ketika mereka melihat satu praktek yang tidak sesuai dengan teks yang mereka baca, sontak mereka kaget dan langsung menjustifikasi bahwa praktek tersebut “sesat”, “bid’ah” dan “kafir”. Selain komoditas dan fenomena Islam madzhab tampilan sebelumnya, praktek saling mengafirkan juga terjadi dan menjadi biang bagi segala bentuk sikap intoleransi yang pada akhirnya berujung pada brutalisme dan radikalisme. Seluruhnya bertalian dan saling bersinggungan.

Lalu bagaimana seharusnya agama diperlakukan? Kutipan berikut ini mungkin layak kita jadikan penutup kritik Malang Sumirang terhadap gaya beragama kaum dhaluwang-mangsi sebelumnya sekaligus jadi bahan renungan di tengah menguatnya pola berpikir salafi-tekstualistik hari ini:

“11. Pangrengeningsun  duk rare lalit/ nora Islam dening wong sembahyang/ tan Islam dene pangangge/ tan Islam dening waktu/ datan Islam dening kulambi/ tan Islam dening tapa/ ing pangrengeningsun/ ewuh tegese wong Islam/ datan Islam dening anampik amilih/ ing kalal lawan karam.”

“Pengertianku ketika kecil/ bukan Islam kecuali sembahyang/ bukan Islam kecuali atribut/ bukan Islam kecuali waktu/ bukan Islam kecuali busana/ bukan Islam kecuali tapa/ dalam pengertianku ini/ tidak gampang menjadi Islam/ bukanlah Islam kecuali memilah-milih/ antara yang halal dan haram.”

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...