Teologi Sekte Qadariyah dan Pergerakan Kelompok Oposisi Rezim Kekhalifahan Bani Umayyah

0
103
Teologi Sekte Qadariyah dan Pergerakan Kelompok Oposisi Rezim Kekhalifahan Bani Umayyah

Harakah.idSekte Qadariyah sekilas mungkin tampak sebagai aliran dalam teologi. Namun terlepas dari itu, ia adalah sikap dan satu bentuk gerakan kelompok oposisi yang berada di seberang rezim pemerintahan Bani Umayyah kala itu.

Salah satu aliran yang pernah berkembang dalam dunia Islam adalah aliran atau sekte Qadariyah. Aliran ini dikembangkan pada mulanya oleh Ma’bad Al-Juhani (w. 80 H.) dan Ghailan Al-Dimasyqi (w. 105 H.). Keduanya merupakan tokoh dari generasi tabi’in. Ma’bad Al-Juhani berkiprah di kota Basrah, Irak. Sedangkan Ghailan aktif di kota Damaskus, Suriah.

Kedua nama yang disebut di atas merupakan tokoh intelektual yang aktif terlibat dalam gerakan oposisi terhadap rezim pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Ma’bad Al-Juhani bergabung dengan Abdurrahman bin Asy’ats, Gubernur Sijistan. Jenderal Bani Umayyah, Al-Hajjaj, berhasil menaklukkan perlawanan bersenjata Abdurrahman dan Ma’bad. Ma’bad tewas di tangan Al-Hajjaj pada tahun 80 H. 

Ghailan Al-Dimasyqi yang hidup di kota pusat pemerintahan Dinasti Bani Umayyah, sempat menghentikan aktifitas penyebaran paham Qadariyahnya ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H.) memberinya peringatan. Setelah wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Ghailan kembali menyebarkan pahamnya. Pada era kepemimpinan Hisyam bin Abdul Malik, Ghailan diundang berdebat dengan tokoh terkemuka Al-Auza’i. Setelah perdebatan itu, Ghailan dijatuhi hukuman mati.

Baca Juga: Rumi Menengahi Paham Qadariyah dan Jabariyah

Ma’bad dan Ghailan menyebarkan gagasan yang sama bahwa manusia bertindak atas keinginan dan kemampuannya sendiri tanpa dikontrol takdir Tuhan. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang disebut takdir Tuhan. Manusia bebas meyakini dan melakukan suatu perbuatan, baik maupun buruk. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban manusia di akhirat kelak. Karena tidak ada takdir dalam pandangan mereka, Tuhan tidak merencanakan dan merancang sesuatu pun untuk kehidupan di alam semesta. Tuhan diyakini baru mengetahui suatu kejadian setelah terjadinya kejadian tersebut. Manusia menjadi baik atau buruk semua atas dasar pilihan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan kejahatan-kejahatan.

Imam Al-Auza’i mengatakan, “Yang pertama kali mencetuskan paham mengingkari takdir adalah Susan, seorang penduduk Irak. Ia awalnya adalah seorang Nasrani yang masuk Islam, namun kemudian kembali kepada agamanya semula. Ma’bad al-Juhani menimba paham ini darinya, kemudian Ghailan bin Muslim ad-Dimasyqi menimbanya dari Ma’bad.”

Paham dan sekte Qadariyah yang murni dapat dikatakan telah punah. Namun masih bisa dijumpai derivasinya pada masa sekarang, yaitu mereka tetap meyakini bahwa perbuatan makhluk adalah kemampuan dan ciptaan makhluk itu sendiri, meskipun kini menetapkan bahwa Allah sudah mengetahui segala perbuatan manusia tersebut sebelum terjadinya. 

Baca Juga: Waspadai Paham Jabariyah dan Qadariyah Saat Krisis Ekonomi di Masa Pandemi

Imam Al-Qurthubi berkata, “Paham ini telah sirna, dan kami tidak mengetahui salah seorang dari muta’akhirin (orang sekarang) yang berpaham dengannya. Adapun Al-Qadariyyah hari ini, mereka semua sepakat bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan hamba sebelum terjadi, namun mereka menyelisihi As-Salafush Shalih (yaitu) dengan menyatakan bahwa perbuatan hamba adalah hasil kemampuan dan ciptaan hamba itu sendiri.”