fbpx
Beranda Khazanah Terkait Layak Tidaknya Jenazah Koruptor Disalati, Faktanya Nabi Pun Enggan Menyalatinya...

Terkait Layak Tidaknya Jenazah Koruptor Disalati, Faktanya Nabi Pun Enggan Menyalatinya…

Harakah.idDalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad suatu kali enggan menyalati salah seorang yang diduga melakukan penggelapan harta yang bukan miliknya.

Dalam sebuah riwayat, ada kisah mengenai korupsi;

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ ، أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تُوُفِّيَ يَوْمَ خَيْبَرَ ، فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ . فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذَلِكَ ، فَقَالَ : إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللهِ . فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ لاَ يُسَاوِي دِرْهَمَيْنِ

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa seorang sahabat Nabi tewas dalam perang Khaibar. Para sahabat melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Shalati jenazah kawan kalian.” Wajah orang-orang berubah karena penolakan Nabi tersebut. Lalu Nabi bersabda, “Kawan kalian telah melakukan pengkhianatan dalam perjuangan menegakkan agama Allah.” Kemudian kami meneliti harta rampasannya dan menemukan manik-manik buatan Yahudi yang harganya tidak lebih dari dua dirham”

Hadis ini lahir dari koteks Perang Parit [Khandaq]. Setelah berakhirya perang, kaum muslimin diperintahkan menyerang perkampungan Khaibar; sebuah perkampungan Yahudi yang cukup subur dan kaya. Ini disebabkan oleh pengkhianatan dan pengingkaran perjanjian karena suku Khaibar telah diam-diam mendukung pasukan Quraisy.

Pasukan Khaibar menyerah, dan penduduknya ditawan. Harta bendanya dirampas. Kemenangan di Khaibar membuat sebagian tentara gelap mata. Harta rampasan yang seharusnya diserahkan kepada pimpinan untuk dibagi sesuai ketentuan, disembuyikan. Celakanya, sang tentara harus tewas sebelum menikmati manik-manik yang tidak terlalu mahal itu. Melihat konteks shalat jenazah dalam perang Khaibar ini, sepertinya, tewasnya sang tentara setelah perang khaibar benar-benar usai. Karena, orang yang mati dalam medan perang harusnya tidak perlu dishalatkan. Kecuali jika kematiannya terjadi setelah perang usai.

Ketika para sahabat diminta menjadi imam dalam shalat jenazah, Nabi saw. menolak. Para sahabat keberatan. Karena alasan apa Nabi menolak? Nabi menjelaskan bahwa jenazah tersebut adalah pelaku penggelapan harta yang bukan haknya. Kemudian Nabi memerintahkan para sahabatnya yang lain untuk menshalati jenazah tersebut.

Menshalati jenazah pelaku dosa merupakan persoalan yang hangat dibicarakan ulama sejak dulu. Baik di lingkungan ahli ilmu kalam maupun ahli fikih. Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi enggan melakukan shalat jenazah. Seperti dalam kasus bunuh diri yang dilakukan seorang sahabatnya, kemudian ketika seorang sahabat mati dalam keadaan meninggalkan hutang, dan berikutnya saat seorang tentara muslim menggelapkan harta rampasan.

Beberapa penyusun kitab hadis membuat bab khusus tentang anjuran agar pemimpin tidak melakukan shalat jenazah atas beberapa orang dalam kasus-kasus tertentu. Terkait jenazah orang yang mati bunuh diri, Umar bin Abdul Aziz dan al-Auza’i berpendapat bahwa mereka tidak boleh dishalati karenda kedurhakaan mereka. Sedangkan kebanyakan ulama, seperti al-Hasan, al-Nakha’I, Qatadah, Malik Abu Hanifah dan al-Syafi’I berpendapat bahwa mereka tetap harus dishalati. Apa yang dilakukan Nabi bertujuan untuk menjerakan agar masyarakat tidak mengikuti perilaku orang bunuh diri tersebut.

Menurut al-Qadhi Iyadh, seluruh ulama berpendapat bahwa setiap muslim baik yang mati karena dipancung atau dirajam, mati bunuh diri dan anak hasil zina harus dishalati. Secara khusus untuk orang yang mati dipancung, imam Malik memfatwakan pemimpin negara tidak boleh menshalati dan orang-orang mulia dari suatu komunitas hendaknya tidak menshalati jenazah pelaku maksiat. Tujuannya untuk menjerakan mereka yang masih melakukan

Sedangkan terkait dengan pelaku penggelapan harta seperti disinggung hadis di atas, jelas bahwa alasan Nabi enggan menshalati jenazah tentara tersebut adalah penggelapan harta rampasan yang bukan haknya. Ibnu Abdil Barr dalam al-Tamhid menyatakan bahwa terdapat tujuan dalam kebijakan tersebut. Pertama, menjerakan orang-orang yang masih hidup agar tidak melakukan perbuatan serupa dan agar mereka yang masih melakukan segera menyudahinya. Kedua, sebagai sanksi bagi jenazah. Karena, shalat jenazah merupakan ekspresi kasih terhadap orang yang telah meninggal. Jika itu tidak dilakukan, berarti ada kemungkinan orang tersebut tidak dikasihi atau dikasihi hanya saja tidak ditampakkan oleh Nabi. Tentu hal ini kembali kepada yang hidup agar tidak meniru perilaku korup tersebut.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...