Beranda Keislaman Akhlak Ternyata Gemar Melaknat Dilarang dalam Ajaran Islam, Inilah Penjelasannya

Ternyata Gemar Melaknat Dilarang dalam Ajaran Islam, Inilah Penjelasannya

Harakah.idTerkait mengapa laknat terhadap orang lain tak diperbolehkan, hal itu lantaran laknat merupakan sebuah ungkapan usiran yang menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Perilaku tersebut bukanlah sesuatu yang diperbolehkan.

Menyimak perbincangan yang terjadi di sosial media, tampak ringan sekali seseorang mengutuk perbuatan orang lain, atau bahkan melaknat pelakunya. Seakan-akan yang terjadi adalah sebagaimana yang dilihatnya saja. Begitu juga seakan-akan mengutuk orang yang dipandangnya berbuat salah adalah perbuatan yang sesuai dengan tuntunan agama.

Sialnya, kutukan-kutukan itu tak jarang justru meluncur dari bibir-bibir “penceramah” yang gemar menjelek-jelekkan orang yang berseberangan dengannya. Selevel di atasnya, hanya karena melihat perilaku buruk orang lain, ketika menyebut namanya, tiba-tiba diikuti dengan kalimat “la’natullah ‘alaih”. Begitu mudahnya ucapan laknat disematkan untuk orang lain, bahkan kepada orang yang masih memegang syahadat.

Sahabat Hudzaifah berkata, “Tidaklah suatu kaum itu saling melaknat, kecuali laknat itu juga pantas untuknya.” Dengan merenengui ucapan Hudzaifah bin Al-Yaman tersebut, tentu tidak akan mudah seorang muslim mengumbar bibir yang lebih baik untuk berzikir, tetapi disalahgunakan untuk melaknat golongan yang tak sejalan dengan keinginannya.

Terkait mengutuk dan saling melaknat, Nabi Muhammad Saw. bersabda;

لَيسَ المُؤمِنُ بِالطعانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الفَاحِشِ، وَلَا البَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah tukang cela, bukan juga tukang laknat, dan bukanorang yang suka berkata keji lagi kotor” (HR Tirmidzi)

لَا تَلَاعَنُوا بِلَعنَةِ اللّٰهَ، وَلَا بِغَضَبِهِ، وَلَا بِالنَّارِ

“Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, jangan pula ‎dengan kemurkaan-Nya, dan jangan (saling melaknat) ‎dengan neraka!” (HR Tirmidzi)

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa, gemar mengutuk atau melaknat orang lain, sejatinya bukanlah perilaku yang patut dimiliki orang seorang mukmin. Baik ditujukan kepada manusia, kepada benda mati, bahkan kepada hewan sekali pun. Mengungkapkan kutukan tetaplah perbuatan tercela.

Karena apabila kutukan begitu saja meluncur dari mulut manusia, niscaya kutukan lain pun akan meluncur kembali kepadanya. Akibatnya, perilaku saling mengutuk pun tak akan pernah usai. Termasuk juga mnngutuk benda mati. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Darda’, bahwa apabila seseorang mengutuk bumi, niscaya bumi pun akan kembali mengutuknya dengan ucapan, “la’anallahu a’shana lillahi”.

Terdapat suatu cerita yang terjadi antara Rasulullah, Abu Bakar dan seorang budak milik Abu Bakar. Suatu ketika, Abu Bakar sedang murka kepada salah seorang budak miliknya, sehingga keluarlah kata-kata kutukan dari Abu Bakar kepada budaknya. Rasulullah yang mendengar bahwa Abu Bakar mengutuk budaknya itu pun segera mengingatkan Abu Bakar. Mengakui kesalahan diperbuatnya, Abu Bakar kemudian memerdekakan budak yang dilaknatnya, tanpa syarat. Lantas Abu Bakar menghadap Rasulullah dan berjanji bahwa ia tak akan mengulanginya kembali.

Rasulullah memang tak begitu suka dengan orang yang suka melaknat. Hal ini dibuktikan ketika Rasulullah dalam suatu perjalanan, beliau mendengar seorang laki-laki anggota rombongan beliau yang ketahuan melaknat onta yang ditungganginya. Rasulullah pun bersabda, “Wahai Rajul, janganlah engkau berjalan bersama kita, jikalau engkau menunggangi onta yang terlaknat.”

Terkait mengapa laknat terhadap orang lain tak diperbolehkan, hal itu lantaran laknat merupakan sebuah ungkapan usiran yang menjauhkan seseorang dari Allah Swt. Perilaku tersebut bukanlah sesuatu yang diperbolehkan. Karena terdapat sebuah vonis sepihak terhadap orang lain, padahal sejatinya hanya Allah yang mengetahuinya.

Ketidakbolehan itu tentu ada pengecualinnya. Yaitu kecuali apabila yang disemati kutukan ialah orang-orang yang “jelas-jelas” memiliki sifat yang menjauhkannya dari Allah, seperti kekufuran. Itu pun harus diyakini bahwa bahwa yang dikutuk melakukan demikian, tetap dalam bingkai syariat, dan kutukan itu diniatkan karena Allah (lillahi ta’ala). Karena tak ada seorang pun yang tahu, siapa yang pantas dilaknat dan tidak ada yang berhak melaknat, kecuali Allah Swt.

Imam Al-Ghazali juga menyebutkan bahwa termasuk perbuatan yang hampir sampai pada tingkatan mengutuk orang lain ialah mendoakan keburukan atas orang lain. Meski pun doa tersebut disandarkan kepada Allah Swt. Misalnya, dengan mengucapkan doa “semoga Allah tak memberikanmu kesembuhan” atau “semoga Allah membuatmu celaka”. Hal itu termasuk perbuatan tercela yang mendekati perbuatan melaknat atau mengutuk orang lain.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...