Beranda Gerakan Teroris Aman Abdurrahman Mengkafirkan Orang Tua Sendiri Karena Baca Shalawat Nariyah

Teroris Aman Abdurrahman Mengkafirkan Orang Tua Sendiri Karena Baca Shalawat Nariyah [1]

Harakah.id Aman Abdurrahman mencoba menjalankan keyakinannya secara konsisten. Termasuk ketika dia harus menganggap kedua orang tuanya sebagai orang-orang kafir.

Aman Abdurrahman menjadi nama yang populer di Indonesia. Ia dikenal sebagai gembong teroris. Kelompok binaannya yang bernama Jamaah Anshorut Daulah (JAD) aktif melakukan aksi terorisme sejak 2015. Kelompok ini terafiliasi dengan ISIS di Timur Tengah.

Aman Abdurrahman merupakan ideolog utama JAD. Sekalipun sebenarnya ia hanya menterjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi ketekunannya dalam menerjemahkan buku-buku karya ekstremis dari Timur Tengah membuahkan hasil dengan tumbuhnya pengikut yang fanatik di lingkarannya.

Salah satu ide utama yang disebarkan Aman Abdurrahman adalah tentang keharusan mengkafirkan individu atau kelompok yang dinilainya tidak memenuhi syarat keimanan sebagaimana yang diyakininya. Baginya, takfir atau pengkafiran merupakan rukun agama.

Aman Abdurrahman mensyaratkan dua hal agar seseorang dapat disebut Muslim. Dalam buku Seri Materi Tauhid, ia menulis, “Keimanan seseorang kepada Allah tidak akan bermanfaat tanpa menjauhi thaghut, karena Laa ilaaha illallaah itu mempunyai dua rukun. Yang pertama Laa ilaaha yang berarti jauhi thaghut, sedangkan yang kedua illallaah (kecuali Allah) maksudnya ibadahlah kalian hanya kepada Allah. Salah satunya tidak bisa berdiri tanpa yang lainnya.”

Jadi, memang takfir menjadi pokok ajaran Aman Abdurrahman. Persoalannya menjadi rumit karena kenyataannya, orang-orang yang dikafirkannya karena tidak memenuhi syarat keimanan yang diakuinya adalah orang-orang Islam. Baik mereka yang berada di pemerintahan maupun dari kalangan masyarakat sipil. Pemerintah menjadi objek pengkafiran karena menurutnya pemerintah adalah orang yang membuat hukum yang harusnya merupakan hak mutlak Tuhan.

Masyarakat sipil yang dikafirkannya adalah Muslim tradisional yang gemar berziarah ke makam para wali dan bertawasul dengan berbagai cara. Aman Abdurrahman menyebut mereka sebagai Quburiyun (penyembah kuburan). Sebuah istilah yang dimunculkan pertama kali oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, lalu dipopuler oleh para ulama Wahhabi generasi pertama untuk menyerang Kesultanan Turki Usmani yang didukung penuh kaum sufi.

Aman Abdurrahman mencoba menjalankan keyakinannya secara konsisten. Termasuk ketika dia harus menganggap kedua orang tuanya sebagai orang-orang kafir. Aman Abdurrahman menulis risalah kecil berjudul “Ayah, Ibu, Bergabunglah Bersama Kami.” Dalam buku kecil berjumlah 20 halaman itu menempatkan kedua orang tuanya sebagai orang kafir yang harus beriman sesuai dengan pahamnya.

Dalam paragraf-paragraf awal, Aman Abdurrahman menulis, “Ayah Ibu… itu tadi adalah inti dari “Dienul Islam.” Ini yang merupakan makna Laa ilaaha illallaah yang mana orang tidak menjadi muslim kecuali dengan merealisasikan hal itu. Semua rasul, inti dakwahnya adalah sama, yaitu beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut… Orang yang beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa namun tidak meninggalkan ibadah terhadap thaghut, maka dia tidak merealisasikan Laa ilaaha illallaah, sehingga dia bukan lagi orang muslim.”

Permis ini dilanjutkan dengan sebuah seruan. Aman Abdurrahman menulis, “Ayah Ibu… setelah uraian tadi, ananda ingin mengajak kalian untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekufuran yang masih saja kalian lakukan.”

Dia juga menulis, “Janganlah kalian meminta doa atau syafaat kepada orang yang sudah meninggal dunia, meskipun itu adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Dia menulis lagi, “Ayah Ibu… manfaat dan madharat, pemenuhan kebutuhan, penyelamatan dari bencana, dan pengkabulan do’a hanyalah di Tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bila itu diyakini dari selain Allah, maka itu adalah syirik akbar. Oleh karena itu jangan ikutikutan membaca shalawat Nariyyah (Munfarijah) yang dibuat-buat oleh kaum Quburiyyun karena isinya adalah syirik akbar, karena isinya banyak bertentangan dengan banyak ayat Allah dan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa Aman Abdurrahman merasa sudah berada di posisi yang benar. Sedangkan kedua orang tuanya berada dalam posisi salah, kafir dan musyrik. Apa saja yang menurut Aman Abdurrahman menjadi kesalahan dalam diri kedua orang tuanya? Ternyata adalah amalan yang sangat populer di kalangan Muslim tradisional seperti yang menjadi kebiasaan orang-orang NU.

Menurut Aman Abdurrahman, Shalawat Nariyah merupakan bacaan yang penuh dengan kemusyrikan. Bahkan berisi syirik akbar. Menurutnya, di dalamnya terkandung pernyataan yang bertentangan dengan Al-Quran dan hadis. Bacaan tersebut dibuat oleh kaum Quburiyun (penyembah kuburan).

Di sini, kita bisa melihat bahwa kedua orang tua Aman Abdurrahman agaknya adalah seorang Muslim tradisionalis. Hal ini diketahui oleh Aman Abdurrahman, karena memang Aman Abdurrahman pada masa kecilnya adalah seorang Muslim tradisionalis. Pernah mengaji dan belajar ilmu nahwu dan sharaf kepada kiai pesantren tradisional.

Artikel ini pernah dimuat di situs islami.co. Klik di sini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...