Terorisme Bukan Jihad! Inilah Hadis Nabi yang Menjelaskan Jihad Sebenarnya

0
123

Harakah.id Di sini dengan jelas kita bisa membedakan antara jihad dan terorisme.

Terorisme bukan jihad. Banyak kalangan di luar sana yang salah mengartikan antaran jihad dan teroris. Bahkan di beberapa kalangan non-Muslim ada yang menganggap bahwa sebagian orang Islam merupakan pelaku yang menyebarkan terorisme keseluruh dunia dengan menerapkan konsep jihad. Seringkali ada kesalahan yang perlu diklarifikasi, terutama terkait dengan arti jihad dalam Islam.

Arti perang atau jihad dalam Islam, yang banyak ditulis oleh para sarjana Barat, cenderung membingungkan istilah antara terorisme dengan jihad. Mungkin karena timbul dari rasa kebencian dan kurangnya empati, jadi hal itu semua dilakukan.

Bahkan terdapat banyak kasus-kasus aksi teroris baik didalam negara maupun diluar negara yang melibatkan tokoh Muslim, sehingga menguatkan opini mereka yang menganggap jihad merupakan bagian dari terorisme. Padahal, jihad bukanlah terorisme.

Penafsiran kata jihad yang salah telah melahirkan berbagai opini negatif tentang agama Islam, seolah-olah Islam mengajarkan atau mendorong umatnya untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan teror. Pendapat seperti itu harus diantisipasi oleh umat Islam dalam menjalankan keutamaan yang telah diperintahkan Allah untuk kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia. Maka dari itu penting bagi kita mengkaji lebih dalam mengenai apa itu jihad sebenarnya.

Kata jihad (جهاد) dalam kamus al-Munawwir, diartikan dengan “perjuangan”. Kata ini seringkali dirangkai dengan frasa fi sabilillah. Kata “jihad” juga diadopsi ke dalam bahasa Indonesia, yang mana jihad diartikan dengan berbagai arti, yaitu: perjuangan, kemampuan, kesulitan, dan perang. Penggunaan kata jihad juga dapat dimaksudkan untuk menunjukkan identitas kepribadian muslim/ mukmin, bahkan derivasi kata jihad dapat digunakan untuk maksud atau dalam artian negatif, yaitu dengan makna “berusaha mempengaruhi” atau “memprovokasi” untuk tujuan negatif.

Pemaknaan jihad juga banyak disebutkan dalam hadits dengan berbagai konteks, di antaranya adalah jihad terhadap orang musyrik, jihad terhadap orang zalim, jihad dalam membantu fakir miskin, dan jihad dalam rangka berbakti pada orang tua, dan lainnya.

Salah satu satu dari hadits-hadits tersebut ialah:

 عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ.

Dari Anas dari Nabi , beliau bersabda, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, tangan dan lisan kalian.” (HR. An-Nasa’i)

Jika dipahami secara tekstual, hadits di atas berisikan perintah untuk memerangi orang-orang musyrik, baik dengan menggunakan harta, tangan atau lisan. Namun jika dipahami lebih mendalam, hadits tersebut sebenarnya mengandung makna jihad ialah membela Islam atau kaum Muslim dapat dilakukan dengan dengan cara: 1). Harta, yaitu berjihad dengan cara membayar zakat, infak, sedekah dan wakaf, 2). Jiwa, yaitu berjihad dengan menggunakan fisik dan tenaga, 3). Lisan, berjihad dengan menggunakan pemikiran, tulisan dan ucapan.

Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ.

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi bersabda, “Orang yang memberi kecukupan kepada para janda dan orang-orang miskin, maka ia seperti halnya seorang mujahid di jalan Allah atau seorang yang berdiri menunaikan qiyamullail dan berpuasa di siang harinya.” (HR. al-Bukhari)

Kedua hadis tersebut membicarakan tentang jihad yang memberikan isyarat bahwa bentuk jihad tidak hanya mengenai peperangan mengangkat senjata. Melainkan jihad juga merupakan sebuah ibadah yang berorientasi pada kemaslahatan manusia. Di sini dengan jelas kita bisa membedakan antara jihad dan terorisme. Terorisme bukan jihad.

Sedangkan terorisme yang dimaksudkan adalah perbuatan menebar ketakutan dan rasa tidak nyaman di tengah masyarakat, bahkan membunuh nyawa orang-orang yang tidak bersalah, termasuk orang muslim, maka perbuatan ini tentunya sangat bertolak belakang dengan esensi dan konsep jihad. Maka, disini kita bisa memahami bahwa makna jihad sangat jauh dari makna teroris. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits:

عَنْ ابْنِ سِيرِينَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Dari Ibnu Sirin Aku mendengar Abu Hurairah berkata; Abu Qasim ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada saudaranya, maka malaikat akan melaknatinya hingga ia menurunkannya kembali. Walaupun dia saudara sebapak atau saudara seibu. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ dengan Hadits yang serupa. (HR. Muslim)

Demikian ulasan singkat “Terorisme Bukan Jihad! Inilah Hadis Nabi yang Menjelaskan Jihad Sebenarnya.” Semoga bermanfaat.

Artikel kiriman dari Sri Hartati, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta