Beranda Headline The Satanic Verses, "Rushdie Affair" dan Ketakutan-Ketakutan Ayatollah: Sebuah Catatan Dari Hamid...

The Satanic Verses, “Rushdie Affair” dan Ketakutan-Ketakutan Ayatollah: Sebuah Catatan Dari Hamid Dabashi

Harakah.id“Rushdie Affair” yang ditandai oleh keluarnya fatwa mati terhadap Salman Rushdie dari Ayatollah Khomeini, bukan saja merupakan tanda bagi kembalinya represi politik dalam karya sastra. Lebih dari itu, kejadian tersebut menggambarkan pergolakan di tubuh Iran dan kursi Ayatollah yang mulai bergoyang. Sebuah ulasan ciamik dari Hamid Dabashi…

The Satanic Verses mungkin menjadi salah satu karya sastra yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah kita bercerita. Ia dikenal, bukan hanya sebagai salah satu novel berkualitas, tapi juga sebagai medan perang antar kepentingan politik global yang melibatkan Barat-Timur. Ia tidak lagi menjadi sebuah novel. tepat setelah Ayatollah mengumumkan fatwa kematian Rushdie, The Satanic Verses berubah menjadi manifesto, baik untuk kelompok yang berupaya memperkuat militansi doktrinal, maupun kelompok yang getol menyuarakan islamophobia.

Berikut adalah catatan Hamid Dabashi, seorang pascakolonialis Iran, tentang betapa mudahnya setan politik masuk, menghimpit dan dengan seketika mengubah wajah sebuah karya sastra, bahkan sebelum karya tersebut dibaca frasa per frasa.

__________________________________

Siapa yang masih ingat, atau mau untuk mengingat, atau menaruh kepedulian kepada “Salman Rushdie Affair”?

Tiga puluhan tahun yang lalu, pada Hari Valentine, 14 Februari 1989, almarhum Ayatollah Khomeini, yang saat itu adalah menjadi pemimpin tertinggi Iran, mengeluarkan keputusan agama, sebuah fatwa yang mengutuk kematian terhadap seorang novelis Inggris-India bernama Salman Rushdie.

Jauh sebelum fatwa tersebut menyeruak, nama Salman Rushdie mungkin hanya dikenal di kalangan komunitas pecinta sastra Asia Selatan. Ia dikagumi sebagai seorang novelis berbakat kelahiran Mumbai yang memiliki kem’ucampuan menciptakan prosa-prosa tajam sekaligus memiliki selera humor yang “cukup jahat”. Ya, Rushdie telah mewariskan kepada dunia karya-karya sastra permata, seperti Miight’s Children (1981) dan Shame (1983).

Satu hal yang memicu kemarahan Ayatollah, dan kemarahan banyak Muslim lain, terutama di Pakistan, adalah novel terbaru Rushdie yang baru terbit dengan judul The Satanic Verses.

Buku itu ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Ayatollah sebenarnya tidak bisa membaca Bahasa Inggris. Dia bereaksi terhadap reaksi orang lain yang juga tidak membaca novelnya.

Itu semua adalah komedi teror!

The Satanic Verses Hanyalah Sebuah Novel

Dalam peristiwa yang terjadi 32 tahun lalu, waktu memainkan peranan kunci. Satanic Verses pertama kali diterbitkan di Inggris pada akhir September 1988, satu bulan pasca Ayatollah Khomeini enggan menyetujui upaya untuk mengakhiri bencana Perang Iran-Irak.

Pada saat itu, pemerintahannya terguncang oleh penemuan satu skema di mana Iran menerima kiriman senjata dari Amerika Serikat – atau “Setan Besar” sebagaimana ayatollah secara terbuka menyebutnya – sebagai imbalan atas bantuannya dalam mengamankan proses pembebasan seorang Sandera Amerika yang ditawan klien Iran, yakni Hizbullah.

Sejak “Iran-Contra Affair” yang menggulir pada tahun 1986, seperti yang lebih terkenal di AS, sampai akhir perang Iran-Irak (1980-1988), Khomeini secara politis sudah dikalahkan dan sangat membutuhkan dalih untuk menciptakan langkah selanjutnya.

Eksekusi massal para tahanan politik pada tahun 1986 atas perintah langsung Khomeini, pembersihan universitas di masa revolusi, dan rekayasa Hizbullah di Lebanon sejak invasi Israel tahun 1982, adalah agenda-agenda yang memang diperlukan tetapi tidak cukup. Khomeini ingin menjamin kelangsungan teokrasi yang dia dirikan dan dia punya alasan untuk mengkhawatirkan masa depannya.

Mehdi Hashemi, seorang penghubung Iran yang membantu mengungkap Iran-Contra Affair pada tahun 1986, adalah sekutu dekat Ayatollah Hussein Ali Montazeri, pewaris Ayatollah Khomeini, adalah satu sosok yang membuat marah Khomeini karena penentangannya terhadap agenda eksekusi masal. Pangkatnya pun lalu diturunkan karena dianggap melanggar diktum ketaatan.

Dengan kata lain, pada Februari 1989, pemimpin tertinggi Iran itu sangat sibuk menjamin kelangsungan Republik Islam yang telah dia dirikan. Dia merasa perlu untuk memerintahkan penyusunan ulang konstitusi dengan cara yang memungkinkan pengikut setianya, Ali Khamenei (pemimpin tertinggi Iran saat ini), yang bahkan kualifikasinya sama sekali tidak mendekati sosok Montazeri, untuk menjadi penerus dan pewarisnya. Khomeini membutuhkan tabir asap lagi, seperti Krisis Penyanderaan Amerika 1979-1981, yang memungkinkannya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dengan memusnahkan saingan politiknya.

Satanic Verses karya Rushdie muncul pada waktu yang tepat. Ia datang entah dari mana, tapi Ayatollah akan membawanya ke sebuah tempat lain yang berbeda.

Menurut sebagian Muslim, delik penghinaan [terhadap Islam] muncul di beberapa bagian tertentu dalam novel tersebut. November 1988, bersamaan dengan letusan demonstrasi, buku itu dilarang di Pakistan. Demonstrasi juga diadakan oleh komunitas eskpatriat Asia Selatan yang ada di Inggris. Karena kereta musik internasional mulai ditabuh, Khomeini pun dengan sigap melompati dan menungganginya.

Tepat pada Hari Valentine 1989, dia mengeluarkan fatwa (opini hukum atau keputusan yang diturunkan oleh otoritas agama Islam) yang memerintahkan eksekusi mati terhadap Salman Rushdie. Penulis malang itu pun bersembunyi. Protes global muncul menyasar pandangan picik Khomeini atas buku Rushdie.

Ketika kemarahan Barat semakin nyaring, Ayatollah dengan cepat mendorong pembentukan majelis konstitusional untuk merevisi konstitusi Republik Islamnya dan mempersiapkan Khamenei untuk menggantikannya. Dia tahu dia tidak punya banyak waktu tersisa.

Dalam banyak hal penting, “Salman Rushdie Affair” menandai dimulainya kebangkitan Islamofobia di AS dan Eropa, mempengaruhi jutaan komunitas Muslim, khususnya para pengungsi yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka.

Rushdie sendiri menjadi pelaku utama dalam mengobarkan kebencian terhadap Islam dan Muslim. Ketika Ayatollah Khomeini menjadi pemimpin bagi kelompok militan Muslim yang fanatik, Rushdie mempunyai posisi yang sama dengan para imperialis liberal Islamofob seperti Bill Maher, Christopher Hitchens dan Sam Harris, berikut komunitas Muslim yang secara tidak sengaja terjebak di antara keduanya.

Khomeini telah melepaskan racun kepada Rushdie. Rushide pun kini dihadapkan pada fakta bahwa adalah jutaan Muslim yang tengah hidup dalam kondisi bahaya di seluruh dunia. Sembari melarikan diri dari fatwa Khomeini, Rushdie juga bergegas masuk kembali ke dalam novelnya sendiri dan menjadi salah satu karakter yang dia ciptakan. Dia lalu mendorong Salahuddin Chamchawala untuk keluar dari buku dan menggantikannya di dunia nyata.

Kematian Sebuah Novel

Para pakar teori kritis seperti Jose Ortega y Gasset, Walter Benjamin, dan Roland Barthes telah menulis gagasan serta ide mengenai fenomena kematian novel sebagai sebuah genre. Masa kejayaan genre novel di abad ke-18 dan ke-19 di Eropa, kini mungkin tak bisa kita lihat, atau kita baca lagi.

Tetapi para ahli teori sastra Eropa tampaknya tidak pernah membayangkan akan mengira kalau para novelis pascakolonial seperti Chinua Achebe, Assia Djebar, Gabriel Garcia Marquez, Arundhati Roy, Chimamanda Ngozi Adichie, Ngugi wa Thiong’o, Jamaica Kincaid, atau Salman Rushdie akan menemukan kembali genre tersebut.

Buku-buku Rushdie sebelumnya, Midnight Children dan Shame, yang membahas hal-hal prinsipil dari negara pascakolonial, adalah bacaan yang menyenangkan. Dan bagi kita yang cukup beruntung untuk membacanya sebelum badai “fatwa mati” dimulai (antara September 1988 dan Februari 1989), The Satanic Verses juga terbukti menjadi salah satu novel yang luar biasa. Ia adalah mahakarya yang bercerita tentang komunitas imigran pascakolonial yang pindah ke metropolis tempat para penyiksa mereka tinggal.

Tapi sehari setelah fatwa Ayatollah keluar, tak ada lagi yang bisa membacanya sebagai sebuah novel. Kaum Islamofobia punya kepentingan dengannya, begitu pula para Islamis militan.

The Satanic Verses adalah korban pertama dari Salman Rushdie Affair sekaligus novel terakhir yang akan ditulis Salman Rushdie – tidak peduli berapa banyak novel lagi yang akan dia terbitkan. Setelah Februari 1989, buku itu tidak lagi dibaca melalui entitasnya sendiri. Ia menjadi alegori, ikon, kepastian mati – orang-orang non-Muslim menggunakannya untuk menjelaskan atau menyamarkan kebencian anti-Muslim mereka, dan orang Muslim menggunakannya untuk mencela “Barat” yang bermain dalam plot melawan dunia Muslim.

Tidak ada lagi ruang di mana manusia waras dapat duduk dan membaca The Satanic Verses berdasarnya nilainya, sembari membentuk opini dengan satu atau lain cara, lalu melanjutkan hidupnya. Dunia menuntut posisi politik terhadap sebuah karya sastra yang baru saja “dibunuh”. Dengan kata lain, The Satanic Verses mati sebagai sebuah novel, dan dihidupkan kembali sebagai sebuah manisfesto.

Dan seperti karyanya, Rushdie pun bernasib sama. Dia terus menulis dan menerbitkan bukunya satu demi satu. Tapi tidak akan aada satu kata pun dalam karya-karnyanya setelah ini yang akan lepas dari prisma “skandal Rushdie dan Satanic Verses” sebab fatwa mati Ayatollah. Ini tentu bukan hanya soal “kematian sang pengarang”, tetapi juga “kematian sang fiksi”, berikut “kematian momentum” di mana, kapan, dan bagaimanapun Rushdie berusaha untuk didengar dengan berbicara atas nama lidahnya sendiri.

Tapi dunia bergerak, begitu pula cara sebuah genre menanggapi realitas kehidupan yang berubah. Ketika Rushdie tidak lagi dibaca sebagai novelis, hal itu yang membuat Aravind Adiga tampil ke permukaan dengan The White Tiger-nya (2008). Sebuah karya yang indah dan kuat, yang memperlihatkan tentang apa yang sempat hilang dari hidup kita, yakni tentang sosok novelis hebat yang sempat tinggal dalam diri Rushdie, kini berenkarnasi dalam sosok yang lebih muda, potensial, membumi dan punya kekuatan yang lebih besar.

Sementara Rushdie telah memulai pengembaraannya dari situs kolonial India dan Pakistan dan pindah ke kontur kekacauan imigran di Eropa, Adiga akan membawa kita kembali ke kekacauan ibu kota predator yang kini mengglobal di antara India dan Cina, serta membuatnya tidak dapat lagi dibedakan dari kekosongan amorf metropolis itu sendiri.

Siapa yang kini masih mau mengikuti warisan jalan Salman Rushdie atau apa yang terus ia tulis? Mungkin hanya penulis sejarah langka yang muncul dari mimpi dan keputusasaan kita seperti Pankaj Mishra dan kesabarannya yang punya kemampuan untuk peduli pada apa yang dikatakan oleh si pengarang The Satanic Verses yang hilang itu kepada dunia, bahwa kini ia telah beralih dari bahaya sesaat dan janji tak terbatasnya.

Artikel Dabashi yang berjudul asli “The Salman Rushdie Affair: Thirty Years and A Novelist Later” ini telah dimuat di Aljazeera.com. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hilmy Firdausy.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...