Beranda Headline Tiang Pancang Nusantara Itu Kini Telah Tiada…

Tiang Pancang Nusantara Itu Kini Telah Tiada…

Mbah Moen adalah baja. Sayu matanya menyimpan nuansa dan sejuta haibah yang bisa melemahkan lawan. Usia senja tampaknya tak mengikis taring dalam setiap desingan suaranya. Teriakannya masih lantang. Waktu mungkin mampu mengunyah badan manusia, tapi tidak dengan karakter, gagasan dan kemurnian jiwa. Kiai yang lahir kala diktum Sumpah Pemuda disuarakan itu masih setia dengan jiwa mudanya. Tidak ada hal apapun yang mampu menghalanginya untuk tetap berdiri kala Indonesia Raya dikumandangkan.

Mbah Moen adalah akar. Ketika yang lain masih sibuk memperdebatkan titik pertemuan antara keislaman dan keindonesiaan, Mbah Moen adalah orang yang sudah menunjukkan keteriringan tersebut dalam laku dan tindakannya. Di manapun, kapanpun dan kepada siapapun Mbah Moen selalu mewariskan keteduhan dalam beragama. Di manapun, kapanpun dan kepada siapapun, Mbah Moen selalu menularkan kecintaan yang sangat besar kepada bangsa dan negara. Mbah Moen adalah orang tua yang selalu ada dan senantiasa mengasuh kebhinekaan kita.

Mbah Moen adalah sungai. Sebagai seorang Kiai, mengaji adalah salah satu alasan mengapa ia ada. Ratusan guru, puluhan pesantren dan ribuan kitab telah diarungi dan menjadi ruang pengembaraannya. Mbah Moen adalah orang yang tidak pernah menemukan titik akhir dalam perantauannya menuju Ilmu Allah. Dalam setiap kesempatan yang dimilikinya, Mbah Moen selalu menekankan bahwa mengaji dan belajar adalah niscaya bagi mereka yang diberi karunia pikiran dan kesempatan untuk mencecap manisnya “tahu” dan “paham”.

Mbah Moen adalah ikan. Ia tidak menjadi asin hanya karena air tempatnya berenang mengandung garam. Sebagai politikus ulung, Mbah Moen tidak dibentuk, tapi membentuk. Kehati-hatian adalah karakter yang selalu ada di kantong jasnya. Waspada dan selalu menata orientasi adalah dasi yang setiap saat selalu dikenakannya. Politik bukanlah tujuan, ia hanya jalan dan media untuk membawa kemashlahatan, menjadi postulat yang membentuk visi politik Mbah Moen. Hingga akhir hayatnya, sentuhan-sentuhan kepentingan politik sama sekali tidak menggoyahkan Mbah Moen. Di tengah keributan dan bisingnya politik kepentingan, Mbah Moen hanya bersila dan setia dengan senyum di wajahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mbah Moen adalah embun. Rumahnya senantiasa menjadi “pagi” bagi manusia-manusia yang terjebak dalam kehidupan yang semakin terik dan “siang” karena panasnya dunia dan ambisi. Mbah Moen selalu menjadi sumber inspirasi. Kaulnya adalah obat, senyumannya adalah solusi dan tangannya adalah saluran berkah. Agama yang disampaikan Mbah Moen adalah agama dalam bentuknya yang paling indah. Kehadirannya seringkali adalah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dalam pikiran manusia-manusia yang berebut menatap wajahnya.

Mbah Moen adalah padi. Ilmu tidak melahirkan keangkuhan, ia justru melahirkan kerendahan hati. Mbah Moen adalah gambaran bagaimana etika dan ahlak selalu lebih utama dibandingkan ilmu. Ahlak menjaga kemurnian ilmu dari kecenderungan untuk merendahkan orang lain. Ahlak menjaga ilmu dari kesombongan dan perasaan merasa “lebih” dari orang lain. Maka mendidik bagi Mbah Moen sejatinya adalah proses menanamkan dan memupuk nilai-nilai ahlak nan adiluhung. Mbah Moen mengkritik para guru yang terlalu memaksakan muridnya menjadi pintar. Paham dan pintar adalah urusan Tuhan. Tugas guru adalah menyampaikan ilmu, mendidik, memberikan tauladan dan mendoakan. Mbah Moen mengajarkan, bahwa benih yang berkualitas lahir dari kemurnian.

Mbah Moen adalah perantau yang selalu mengharapkan pulang. Mbah Moen adalah orang yang paling tidak kuasa membendung air matanya kala nama Nabi diperdengarkan. Mbah Moen selalu berharap kembali di waktu, kondisi dan tempat yang didambakannya. Tibalah saat Sang Kekasih yang selalu dirindukan mengabulkan permintaannya. Mbah Moen kembali di tempat dan waktu yang telah dipilihnya sendiri, dalam keadaan yang membuat seluruh alam semesta iri sekaligus nestapa.

Mbah Moen adalah tiang. Perginya tidak hanya menyisakan duka, namun juga kebimbangan dan kebingungan. Mbah Moen meninggalkan posisi dan peran yang tidak bisa diisi sembarang orang. Dalam jangka waktu yang cukup lama, Mbah Moen telah meninggalkan ketidakseimbangan dan kelumpuhan yang sukar dikembalikan. Mbah Moen adalah tiang pancang, tempat manusia memapah tujuan sekaligus menilik panutan. Kini Mbah Moen telah pergi dalam damai, meninggalkan kita yang masih sibuk bertikai dan bertengkar.

Lahul Fatihah…

 

 

Hilmy Firdausy

Santri

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...