fbpx
Beranda Headline Tiang Pancang Nusantara Itu Kini Telah Tiada…

Tiang Pancang Nusantara Itu Kini Telah Tiada…

- Advertisement -

Mbah Moen adalah baja. Sayu matanya menyimpan nuansa dan sejuta haibah yang bisa melemahkan lawan. Usia senja tampaknya tak mengikis taring dalam setiap desingan suaranya. Teriakannya masih lantang. Waktu mungkin mampu mengunyah badan manusia, tapi tidak dengan karakter, gagasan dan kemurnian jiwa. Kiai yang lahir kala diktum Sumpah Pemuda disuarakan itu masih setia dengan jiwa mudanya. Tidak ada hal apapun yang mampu menghalanginya untuk tetap berdiri kala Indonesia Raya dikumandangkan.

Mbah Moen adalah akar. Ketika yang lain masih sibuk memperdebatkan titik pertemuan antara keislaman dan keindonesiaan, Mbah Moen adalah orang yang sudah menunjukkan keteriringan tersebut dalam laku dan tindakannya. Di manapun, kapanpun dan kepada siapapun Mbah Moen selalu mewariskan keteduhan dalam beragama. Di manapun, kapanpun dan kepada siapapun, Mbah Moen selalu menularkan kecintaan yang sangat besar kepada bangsa dan negara. Mbah Moen adalah orang tua yang selalu ada dan senantiasa mengasuh kebhinekaan kita.

Mbah Moen adalah sungai. Sebagai seorang Kiai, mengaji adalah salah satu alasan mengapa ia ada. Ratusan guru, puluhan pesantren dan ribuan kitab telah diarungi dan menjadi ruang pengembaraannya. Mbah Moen adalah orang yang tidak pernah menemukan titik akhir dalam perantauannya menuju Ilmu Allah. Dalam setiap kesempatan yang dimilikinya, Mbah Moen selalu menekankan bahwa mengaji dan belajar adalah niscaya bagi mereka yang diberi karunia pikiran dan kesempatan untuk mencecap manisnya “tahu” dan “paham”.

Mbah Moen adalah ikan. Ia tidak menjadi asin hanya karena air tempatnya berenang mengandung garam. Sebagai politikus ulung, Mbah Moen tidak dibentuk, tapi membentuk. Kehati-hatian adalah karakter yang selalu ada di kantong jasnya. Waspada dan selalu menata orientasi adalah dasi yang setiap saat selalu dikenakannya. Politik bukanlah tujuan, ia hanya jalan dan media untuk membawa kemashlahatan, menjadi postulat yang membentuk visi politik Mbah Moen. Hingga akhir hayatnya, sentuhan-sentuhan kepentingan politik sama sekali tidak menggoyahkan Mbah Moen. Di tengah keributan dan bisingnya politik kepentingan, Mbah Moen hanya bersila dan setia dengan senyum di wajahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mbah Moen adalah embun. Rumahnya senantiasa menjadi “pagi” bagi manusia-manusia yang terjebak dalam kehidupan yang semakin terik dan “siang” karena panasnya dunia dan ambisi. Mbah Moen selalu menjadi sumber inspirasi. Kaulnya adalah obat, senyumannya adalah solusi dan tangannya adalah saluran berkah. Agama yang disampaikan Mbah Moen adalah agama dalam bentuknya yang paling indah. Kehadirannya seringkali adalah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dalam pikiran manusia-manusia yang berebut menatap wajahnya.

Mbah Moen adalah padi. Ilmu tidak melahirkan keangkuhan, ia justru melahirkan kerendahan hati. Mbah Moen adalah gambaran bagaimana etika dan ahlak selalu lebih utama dibandingkan ilmu. Ahlak menjaga kemurnian ilmu dari kecenderungan untuk merendahkan orang lain. Ahlak menjaga ilmu dari kesombongan dan perasaan merasa “lebih” dari orang lain. Maka mendidik bagi Mbah Moen sejatinya adalah proses menanamkan dan memupuk nilai-nilai ahlak nan adiluhung. Mbah Moen mengkritik para guru yang terlalu memaksakan muridnya menjadi pintar. Paham dan pintar adalah urusan Tuhan. Tugas guru adalah menyampaikan ilmu, mendidik, memberikan tauladan dan mendoakan. Mbah Moen mengajarkan, bahwa benih yang berkualitas lahir dari kemurnian.

Mbah Moen adalah perantau yang selalu mengharapkan pulang. Mbah Moen adalah orang yang paling tidak kuasa membendung air matanya kala nama Nabi diperdengarkan. Mbah Moen selalu berharap kembali di waktu, kondisi dan tempat yang didambakannya. Tibalah saat Sang Kekasih yang selalu dirindukan mengabulkan permintaannya. Mbah Moen kembali di tempat dan waktu yang telah dipilihnya sendiri, dalam keadaan yang membuat seluruh alam semesta iri sekaligus nestapa.

Mbah Moen adalah tiang. Perginya tidak hanya menyisakan duka, namun juga kebimbangan dan kebingungan. Mbah Moen meninggalkan posisi dan peran yang tidak bisa diisi sembarang orang. Dalam jangka waktu yang cukup lama, Mbah Moen telah meninggalkan ketidakseimbangan dan kelumpuhan yang sukar dikembalikan. Mbah Moen adalah tiang pancang, tempat manusia memapah tujuan sekaligus menilik panutan. Kini Mbah Moen telah pergi dalam damai, meninggalkan kita yang masih sibuk bertikai dan bertengkar.

Lahul Fatihah…

 

 

Hilmy Firdausy

Santri

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...