Beranda Khazanah Tidak Ada Harakat, Titik & Tanda Baca Pada Awal Pembukuan Al-Qur'an

Tidak Ada Harakat, Titik & Tanda Baca Pada Awal Pembukuan Al-Qur’an

Harakah.id – Pada masa awal sejarah pengumpulan dan pembukuan mushaf Al-Qur’an, tak ada tanda baca apapun yang dibubuhkan pada teks ayat-ayat Al-Qur’an. Tanda baca mushaf muncul dan dimodifikasi belakangan.

Tanda baca yang dimaksud adalah lambang atau simbol seperti baris fathah, tanwin, tasydid, hamzah, titik pada huruf ba, ta, tsa dan sebagainya yang umum kita jumpai pada mushaf Al-Qur’an saat ini.

Jadi, mushaf Al-Qur’an pada masa awal pengumpulannya semata-mata hanya berisi batang tubuh huruf tanpa disertai dengan tanda baca apapun. Kemudian, batang tubuh huruf-huruf Arab saat itu tentu saja memiliki gaya dan format yang mungkin agak berbeda dengan apa yang kita baca sekarang.

Proses pemformatan dan modifikasi tanda baca mushaf sendiri baru muncul belakangan. Proses tersebut terjadi dalam beberapa tahapan yang memakan waktu puluhan tahun, melibatkan beberapa nama ulama besar dan usaha yang tidak mudah. Tetapi semua itu dilakukan seluruhnya untuk memelihara dan menghindari kesalahan dalam pembacaan Al-Qur’an.

Pembubuhan tanda baca juga sebagai sarana untuk mempermudah kaum muslimim dalam membaca Al-Qur’an dengan benar, terutama semenjak agama Islam mulai tersebar secara masif ke daerah-daerah ‘ajam (non-Arab) yang tidak terbiasa berkomunikasi dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an itu diturunkan.

Pada pembahasan ini, kita akan membahas tiga tahapan pokok dalam sejarah pemberian tanda baca Al-Qur’an. Tiga tahapan tersebut menghasilkan format tanda baca yang berbeda dan melibatkan tokoh-tokoh ulama yang berbeda pula. Dalam hal ini, tahapan yang terjadi belakangan bisa dikatakan sebagai penyempurna dan perbaikan terhadap tahapan sebelumnya.

  1. Pemberian Nuqthah al-I’rab.

Nuqthah al-I’rab adalah tanda titik yang dibubuhkan pada akhir setiap kata dengan posisi tertentu untuk menunjukkan bunyi huruf terakhir dari sebuah kata. Perlu diingat, saat itu teks Al-Qur’an tidak dibubuhkan dengan titik apapun. Jadi, tidak ada tanda-tanda titik yang mengiringi huruf tertentu seperti huruf ba’, ta, tsa’ dan sebagainya.

Pemberian tanda baca Nuqthah Al-I’rab dipelopori oleh Abu Aswad al-Dua’ly, tokoh yang sama yang mempelopori perumusan kaidah-kaidah ilmu nahwu. Dalam hal ini Nuqthah al-I’rab juga sangat erat kaitannya dengan kajian nahwu.

Pemberian tanda titik sebagai rambu untuk menunjukkan bunyi huruf terakhir sebuah kata dilatarbelakangi oleh pengaruh besar dari bunyi akhir sebuah kata terhadap makna yang diberikannya dalam kalimat.

Dalam bahasa Arab, kita mengenal bahwa berbagai kosakata memungkinkan untuk dibaca dengan bunyi huruf akhir yang berbeda. Keadaan bunyi huruf terakhir itu sendiri ditentukan oleh gagasan atau kedudukan tertentu saat sebuah kata berada di dalam bangunan kalimat.

Secara sederhana, misalnya sebuah kata ketika berkedudukan sebagai subjek maka bunyi huruf akhirnya dibaca dhummah, lalu dalam kalimat yang berbeda, ketika ia berkedudukan sebagai objek bunyi huruf akhirnya menjadi fathah.

Keadaan di atas menyebabkan kesalahan pelafalan bunyi huruf akhir sebuah kata dalam Al-Qur’an akan berakibat fatal, ia akan menimbulkan kesalahan makna yang sangat besar. Hal inilah yang melatarbelakangi pemberian Nuqthah Al-I’rab menjadi gerakan awal dalam pemberian tanda baca Al-Qur’an.

Contoh kesalahan yang umum disebutkan terjadi adalah kesalahan dalam membaca sebuah ayat dalam surah Al-Taubah yang berbunyi sebagai berikut.

وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِ أَنَّ ٱللَّهَ بَرِيٓءٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ وَرَسُولُهُۥ

Artinya: Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

Perhatikan kata وَرَسُولُهُۥ di mana huruf terakhir dari kata رسول yaitu huruf ل dibaca dengan bunyi dhummah dengan memosisikannya sebagai athaf terhadap dhamir atau kata ganti yang terkandung pada kata بَرِيٓءٞ sehingga mengulang kembali gagasan dari kalimat sebelumya yaitu “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik, begitu juga Rasul-Nya juga berlepas diri dari orang musyrik”.

Kesalahan fatal akan terjadi jika melafalkan huruf ل menjadi baris kasrah, sehingga kata رسول diposisikan sebagai ‘athaf terhadap kata ٱلۡمُشۡرِكِينَ, jika demikian maka رسول mengandung gagasan yang sama dengan kata ٱلۡمُشۡرِكِينَ yaitu bermakna “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan juga berlepas diri dari rasulnya”.

Ini tentu saja menghasilkan pemaknaan yang keliru dan menyesatkan. Berangkat dari keadaan tersebut dapat kita pahami betapa urgentnya pemberian tanda untuk menunjukkan bunyi akhir dari sebuah kata.

Nuqthah al-I’rab sendiri bentuknya adalah titik yang mengiringi huruf terakhir dari sebuah kata. Jika akhir sebuah kata berbunyi fathah, maka titik dibubuhkan di atas huruf akhir. Jika akhir sebuah kata berbunyi dhummah, maka titik dibubuhkan di depan huruf akhir, jika akhir sebuah kata berbunyi kasrah, maka titik dibubuhkan di bawah huruf akhir.

Adapun jika akhir sebuah kata berbunyi sukun, maka tidak dibubuhkan titik apa-apa. Lalu jika akhir sebuah berbunyi tanwin, maka ditambahkan satu titik lagi di atas titik yang sudah ada, sehingga jika akhir kata berbunyi tanwin fathah, maka ditambah satu titik lagi di atas titik tanda bunyi fathah. Hal yang sama juga berlaku untu tanwin dhummah dan tanwin kasrah.

Baca Juga: Al-Amtsilah al-Tasrifiyyah, Kitab Kunci Untuk Bisa Membaca Kitab Kuning

Keberadaan titik-titik pada huruf terakhir setiap kata tersebut diharapkan dapat mencegah kekeliruan I’rab sebuah kata dalam Al-Qur’an yang mana dapat menimbulkan kesalah makna yang fatal. Titik tersebut menjadi satu-satunya tanda baca yang eksis pada saat itu. Adapun tanda baca lainnya belum ada.

2. Pemberian tanda baca Nuqthah Al-I’jam.

Fase atau tahapan ini terjadi pada masa kekhalifahan Abdul Malik Ibn Marwan (65-87 H). Nuqthah Al-I’jam merupakan tanda titik yang mengiringi huruf-huruf tertentu untuk membedakannya dengan huruf lain yang memiliki batang tubuh yang sama.

Keberadaan Nuqthah Al-I’rab sendiri belum cukup untuk membendung kekeliruan dalam pembacaan Alquran, terutama di kalangan non-Arab. Ia hanya meminimalisir kesalahan posisi I’rab sebuah kata dalam kalimat. Padahal saat itu ada banyak kekeliruan lain yang timbul disebabkan karena kesalahan dalam membaca huruf-huruf yang memiliki batang tubuh tulisan yang sama.

Huruf-huruf yang dimaksud misalnya huruf ب ، ت ، ث sebelum adanya pemberian titik Nuqthah Al-I’jam ketiga huruf tersebut tertulis dengan tulisan yang sama persis, mengingat ketiganya memiliki batang tubuh yang sama. Bahkan saat ketiganya berada pada pertengahan kata, huruf-huruf terseput juga serupa dengan huruf nun dan huruf ya’. Yaitu hanya berupa satu gigi tegak ke atas.

Kesamaan batang tubuh juga dimiliki banyak pasangan huruf hijaiyah lainnya, kita mengenal ada banyak pasangan huruf yang memilki batang tubuh yang serupa dan hanya dibedakan dengan tanda titk dengan jumlah dan pada posisi tertentu.padahal, saat itu titik-titik tersebut belum ada.

Tokoh ulama yan berperan dalam pemberian Nuqthah Al-I’jam adalah Nashr Ibn ‘Ashim (W 90 H) dan Yahya Ibn Ya’mur (W sebelum 90 H). Keduanya memberikan format berupa titik dengan jumlah dan posisi tertentu untuk menunjukkan perbedaan antara beberapa huruf yang memiliki batang tubuh yang sama.

Misalnya, huruf ba’ ditandai dengan satu titik dibawah, huruf ta’ ditandai dengan dua titik di atas, huruf tsa’ ditandai dengan tiga titik di atas, huruf nun ditandai dengan satu titik di atas dan huruf ya’ ditandai dengan dua titik dibawah. Hal yang sama juga berlaku pada pasangan huruf dengan batang tubuh sama lainnya.

Sampai sejauh ini keberadan tanda baca Nuqthah Al-I’rab dan Nuqthah Al-I’jam dapat meminimalisir kesalahan bacaan posisi I’rab sebuah kata dan kesalahan dalam membedakan huruf dengan batang tubuh yang sama. Namun tentu saja dua jenis tanda baca tersebut masih menyisakan potensi kesalahan bacaan yang sangat banyak.

Misalnya, kesalahan dlam membunyikan huruf di awal dan di pertengahan kata, kesalahan melafalkan huruf hamzah sebagai huruf yang saat itu belum memiliki tanda khusus seperti tanda hamzah sekarang dan berbagai kesalahan lainnya, sehingga sejauh ini, pemberian tanda baca Al-Qur’an masih menyisakan pekerjaan besar untuk tahapan selanjutnya.

3. Pemberian Tanda Baca Ahmad Khalil Al-Farahidy

Ahmad Khalil al-Farahidy merupakan tokoh yang menciptakan gebrakan besar dalam sejarah pemberian tanda baca Al-Qur’an. Beliau merumuskan berbagai hal untuk meyelesaikan berbagai problem dalam pembacaan Al-Qur’an dan menyempurnakan format tanda baca pada masa sebelumnya, berbagai tanda baca tersebut masih bertahan dan dipergunakan sampai sekarang.

Artinya, berbagai tanda baca yang kita kenal sekarang adalah buah fikir dan kerja keras Ahmad Khalil al-Farahidy dan beberapa ulama yang membantu beliau.

Keberadan tanda baca Nuqthah Al-I’rab dan Nuqthah Al-I’jam menyisakan satu problem baru, yaitu, adanya tumpang tindih keberadaan titik. Keadaan ini terjadi jika adanya Nuqthah Al-I’jam pada akhir kata yang bercampur dengan Nuqthah Al-I’rab.

Hal ini misalnya terjadi jika ada huruf ba’ pada akhir kata yang berbunyi kasrah, maka huruf ba’ tersebut akan diberikan satu titik dibawahnya sebagai Nuqthah Al-I’rab karena ia berbunyi kasrah, pada saat yang sama ia juga harus diberikan satu titik di bawahnya sebagai Nuqthah Al-I’jam untuk membedakannya dengan huruf lain dengan batang tubuh serupa.

Pada akhirnya saat itu Nuqthah Al-I’rab dihilangkan dan diganti dengan format tanda baca yang lebih fleksibel, simpel dan efisien.

Untuk melambangkan bunyi sebuah huruf, Al-Farahidy membuat tanda baca tertentu yang saat ini kita kenal dengan baris atau harakat, yaitu tanda dhummah (ُ) yang diambil dari huruf Waw Yang diperkecil, tanda fathah (َ) yang diambil dari huruf alif yang direbahkan secara diagonal dan diperkecil dan tanda kasrah (ِ) yang diambil dari kepala huruf Ya’ yang diperkecil.

Ketiga lambang atau baris tersebut dapat diaplikasikan pada huruf apapun dalam posisi apapun, baik di awal, pertengahn maupun di akhir kata. Sehingga dapat mencegah kesalahan bunyi setiap huruf dalam Alquran tidak hanya pada huruf terakhir dari sebuah kata.

Masih ada banyak Pemberian tanda baca lainnya selain ketiga baris di atas yang digagas pada masa Al-Farahidy. Di antaranya seperti tanda sukun (ْ) untuk menunjukkan bunyi mati , tanda tanwin untuk menunjukkan bunyi nun mati yang tidak terlihat, tanda tasydid (ّ) untuk menunjukkan bunyi dua huruf sama yang digabungkan, tanda tasdid tersebut diambil dari gigi huruf ش , selanjutnya ada tanda hamzah (ء) yang diambil dari kepala huruf ع, tanda hamzah washal (آ) yang diambil dari kepala huruf ص, beberapa tanda huruf kecil untuk melambangkan adanya alif, waw, atau huruf Ya’ yang tidak ditulis dalam tulisa, tanda mad shilah di depan ha dhamir, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Mengenal Kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu, Menguak Makna Filosofi Syariat

Beragam tanda baca tersebut tetap bertahan dan dipergunakan hingga sekarang. Terdapat kajian ilmu khusus yang mempelajari aturan dan kaidah pemberian tanda baca Al-Qur’an yaitu ilmu Dhabth Al-Qura’n. Kaidah-kaidah tersebut mengacu pada pemberian tanda baca di masa Al-Farahidy.

Berbagai tanda baca tersebut dan kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya merupakan pembahasan yang sangat luas dan perlu dibahas secara khusus masing-masing untuk setiap tanda baca. Pembahasan di sini hanya menjelaskan sekilas proses perkembangan dan tahapan sejarah pemberian tanda baca Alquran hingga seperti yang kita lihat saat ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian tanda baca Al-Qur’an adalah sesuatu yang penting dan sangat rumit. Ia berasal dari usaha para ulama yang menguras pikiran untuk menciptakan dan merumuskan hal tersebut. Semua itu dilakukan untuk menghindari kesalahan dan memelihara ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak terbayang betapa sulitnya membaca ayat Alquran khusunya di luar bangsa Arab jika tidak ada pembubuhan tanda baca seperti yang kita kenal sekarang.

Baca Juga: Gambaran 7 Nama dan Siksa Neraka dalam Al-Qur’an dan Hadis
Baca Juga: Apakah Semua Ayat Al-Qur’an Mengandung Delik Hukum Atau Hanya Sebagiannya Saja, Ulama Masih Beda Pendapat

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...