fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Tidak Ada Kata Sinonim dalam al-Quran, Prinsip Metode dan Hermeneutika Tafsir ala...

Tidak Ada Kata Sinonim dalam al-Quran, Prinsip Metode dan Hermeneutika Tafsir ala Muhammad Syahrur

Harakah.id – Tidak ada kata sinonim dalam al-Quran, adalah salah satu kesimpulan yang ditawarkan Muhammad Syahrur. Selain itu, masih ada empat konsep kunci dalam metode penafsiran Muhammad Syahrur. Lima prinsip yang menjiwai tawarannya mengenai hermeneutika tafsir al-Quran kontemporer.

- Advertisement -

Titik awal yang ditempuh Syahrur untuk merekonseptualisasi pandangannya terhadap al-Qur’an ialah dengan membongkar sebuah anggapan bahwa lafal “al-Kitab”, “al-Huda”, “al-Furqan” dan lainnya merupakan nama lain dari kitab al-Qur’an. Bagi Syahrur, kalimat-kalimat tersebut memiliki ruang makna khusus yang membedakan antara satu dengan yang lain.

Asumsi ini berangkat dari teori anti-sinonimitas yang memang sejak awal ditagah Syahrur sebagai teori pembacaan. Melalui teori ini, Syahrur hendak memperlihatkan differensiasi makna, yang pada tahap selanjutnya akan memperlihatkan maksud khusus dari masing-masing kata tersebut. Dengan kata lain, Syahrur yakin bahwa tidak ada kata sinonim dalam al-Quran.

Baca Juga: Benarkah Ada Ayat Al-Quran Yang Menyebut Bangsa Jin Lebih Mulia Dibanding Manusia? Apa Alasannya?

Berangkat dari pemahaman semantik semacam itu, Syahrur lalu membedakan term “al-Qur’an” dan “al-Kitab”. Al-Kitab menurut Syahrur adalah term yang paling cocok untuk digunakan sebagai istilah yang mewakili sehimpunan wahyu yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam al-Kitab sendiri, Syahrur membaginya tipologi wahyu ke dalam dua jenis; wahyu atau al-Kitab yang mengarah kepada persoalan-persoalan ibadah, mu’amalah dan etika (ayat muhkamat), dan al-Kitab yang ditujukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan alam, sejarah, kisah-kisah dan lain sebagainya. Untuk yang pertama, Syahrur membahasakannya dengan “Umm al-Kitab”, sedangkan yang kedua Syahrur menyebutnya “al-Qur’an” dan “Sab’u al-Matsani”.

Syahrur mendasarkan temuannya mengenai kategorisasi konsep al-Kitab sebagai himpunan ayat mutasyabihat dan al-Kitab sebagai Umm al-Kitab atau sehimpunan ayat muhkamat kepada Surat al-Baqarah ayat 2 dan 185. Syahrur menulis:

Kembali kepada firman Allah SWT di awal Surat al-Baqarah, ‘itulah al-kitab tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa’ dan firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah ‘bulan Ramadan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari huda dan furqan.’  Kita perhatikan ketika [al-Qur’an] menyebut kata “al-Kitab”, hal itu mengarah kepada makna[nya sebagai] petunjuk bagi orang yang bertakwa. Hal itu dikarenakan adanya muatan nilai ketakwaan berupa hukum-hukum, ibadah, mu’amalah dan akhlak. Namun ketika [al-Qur’an] menyebut kata al-Qur’an, yang dilanjutkan dengan ungkapan “petunjuk bagi manusia”, hal itu mencakup orang yang betakwa maupun yang tidak. Semua orang bertakwa adalah manusia, tapi tidak semua manusia bertakwa. Dari sinilah muncul keharusan untuk membedakan antara al-Kitab dan al-Qur’an.” (Syahrur, 1990: 57)

Wujud tema ayat-ayat dalam kategori kitab nubuwwah ini adalah ayat mutasyabihat. Namun, Syahrur memiliki definisi sendiri mengenai ayat atau kitab mutasyabihat. Ia membaginya menjadi dua:

Pertama, al-juz’u althabit (bagian yang tetap dan tidak pernah mengalami perubahan). Ayat dalam mushaf yang bertemakan kaidah-kaidah umum yang mengatur semua alam, mulai dari penciptaannya hingga kiamat masuk dalam kategori ini. Dalam pandangan ulama pun demikian, perdebatan mengenai deskripsi akhirat masih menjadi bahan permasalahan teologis.

Baca Juga: Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Kedua, al-juz’u al-mutaghayyirat (bagian yang dapat berubah). Ayat dalam mushaf yang membahas peristiwa-peristiwa alam yang spesifik seperti perubahan angin, bencana alam, serta peristiwa-peristiwa historis lainnya masuk dalam kategori ini. Bagi Syahrur, ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini (mutasyabihat) terbuka untuk ditakwilkan sesuai dengan perkembangan ilmu.

Dari indikator semacam ini, Muhammad Syahrur menyimpulkan bahwa ada dua tipe wahyu yang menggambarkan dua tipe ayat al-Qur’an dan dua tipe tugas serta status Nabi Muhammad SAW; wahyu nubuwwah dan wahyu risalah. Wahyu nubuwwah memberi mandat kepada Muhammad sebagai seorang Nabi, sedangkan wahyu risalah memberi mandat kepada Muhammad sebagai seorang Rasul. 

“Dan karena Rasulullah SAW adalah seorang rasul sekaligus Nabi, maka kitab—wahyu—yang diwahyukan kepadanya mencakup risalah dan nubuwwah sekaligus. Risalah adalah kumpulan pemberitahuan yang mewajibkan manusia dan terikat dengannya seperti: ibadah, mu’amalah, akhlak, halal-haram yakni sebagai taklif (kewajiban yang dipertanggung jawabkan). Sedangkan nubuwwah yakni kumpulan penjelasan-penjelasan yang memuat pemberitahuan kawniyah, sejarah dan permasalahan haq-bathil.” Karena itu, maka al-kitab memuat dua kitab pokok: pertama adalah kitab nubuwwah yang memuat penjelasan atas hakikat kejadian obyektif dan membedakan haq dan bathil atau hakikat dan keraguan, yang kedua adalah kitab risalah yang meliputi kaidah-kaidah tabiat kemanusiaan dan membedakan halal-haram.” (Syahrur, 1990: 56)

Dari penjelasannya tersebut, Syahrur akhirnya berpendapat bahwa jika bagian risalah yang pertama dan kedua (ibadah dan akhlak) bukanlah lahan untuk berijtihad, maka tidak demikian halnya bagian ketiga (hukum). Dalam ayat hukum, Syahrur memiliki teori interpretasi sendiri, yang dikenal dengan teori batas (nazariyat al-hudud). Inilah teori yang membuat banyak orang geger dan terkaget-kaget karena banyak sekali kesimpulan unik yang Syahrur hasilnya melalui teorinya tersebut.

Baca Juga: Buah Tin, Zaitun dan Bukit Sinai; Tiga Hal yang Allah Bersumpah Atasnya

Dengan meramu pemikiran sebelumnya seperti Abu al-Farisi, Ibn al-Jinni dan Imam al-Jurjani, prinsip metodologi Syahrur bisa disimpulkan sebagai berikut:

  1. Ada keterkaitan antara ucapan, pemikiran dan fungsi bahasa sebagai alat untuk menyampaikan gagasan.
  2. Pemikiran manusia tidak tumbuh secara langsung dan sempurna, tetapi melalui perkembangan dari pengetahuan yang bersifat inderawi dan personifikasi, kemudian menjadi pengetahuan yang bersifat abstrak.
  3. Mengingkari adanya taraduf (sinonim), sebab masing-masing kata mempunyai makna sesuai dengan konteks ketika kata tersebut disampaikan. Tidak ada kata sinonim dalam al-Quran.
  4. Memahami dengan tartil. Artinya, untuk memaknai sebuah ayat atau teks, seseorang perlu melihat keterkaitan dan hubungannya dengan kata atau ayat lain.
  5. Memperhatikan pola-pola yang secara umum berlaku dalam sistem bahasa, tetapi tidak mengabaikan yang bersifat pengecualian, sebab hal-hal yang bersifat pengecualian, akan dapat dirunut periodesasi perkembangan sebelum dan sesudahnya.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...