fbpx
Beranda Gerakan Tidak Berpotensi Menggantikan Agama, Kiai Ahmad Shiddiq Yakinkan Para Ulama Menerima ...

Tidak Berpotensi Menggantikan Agama, Kiai Ahmad Shiddiq Yakinkan Para Ulama Menerima Asas Tunggal Pancasila

Harakah.id Ketika ulama NU sepakat menerima Pancasila sebagai asas tunggal karena Pancasila dan Agama tidak memiliki perbedaan substansial.

- Advertisement -

Niat adalah kunci ibadah. Amalan apapun tidak akan berguna tanpa dilandasi niat yang jelas dan baik. Dalam fikih, setiap ibadah, baik shalat, puasa, zakat, dan haji, diwajibkan berniat  terlebih dahulu sebelum melakukannya. Niat sekaligus menjadi pembeda antara masing-masing ibadah. Salat subuh dengan salat sunnah rawatib meskipun sama-sama dua rakaat, perbedaan keduanya terletak pada niat. Demikian pula mandi wajib, mandi sunnah jum’at, dan mandi biasa, perbedaan ketiga hal ini tergantung pada niatnya.

Dalam kaidah fikih dikenal sebuah adagium:

الْأُمُور بِمَقَاصِدِهَا

Segala Sesuatu Tergantung Pada Tujuannya”

Tidak hanya itu, standar diterima dan ditolaknya sebuah amalan pun tergantung pada niat. Meskipun sama-sama mengerjakan shalat, pahala yang diterima oleh orang yang ikhlas akan berbeda dengan orang yang merasa terpaksa mengerjakannya. Oleh sebab itu, pada saat hijrah Rasulullah SAW menyampaikan:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR: Al-Bukhari-Muslim)

Baca Juga: Pancasila Bukan Agama, Menerimanya sebagai Ideologi Tidak Bikin Syirik

Berdasarkan hadis ini, ulama fikih merumuskan kaidah, al-umur bi maqasidiha (segala sesuatu tergantung pada niat dan tujuannya). Dengan demikian, tujuan dan niat merupakan aspek terpenting yang harus diperhatikan dalam menghukumi sesuatu. Kaidah ini dikembang lebih lanjut oleh ahli maqasid al-shari’ah bahwa menilai sesuatu tidak cukup dari aspek lahirnya semata, tetapi  perlu dilihat substansi dan kandungannya. Ibnu ‘Ashur mengatakan, hukum didasarkan pada substansi dan tujuannya, bukan berdasarkan bentuk dan namanya (Ibn Ashur (2012):117). 

Pendapat ini didasarkan pada peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang menamai khamar dengan selainnya. (HR: Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah) Perubahan nama tersebut tidak akan berubah hukum dari haram menjadi halal atau halal menjadi haram selama kandungan dan substansinya tidak berubah.

Standar ini juga dijadikan ulama NU dalam merespon segala persoalan di negeri ini, baik urusan agama,  politik, dan masyarakat. Pada tahun 1983, umat Islam Indonesia dibikin resah oleh kebijakan orde baru yang menginginkan agar semua organisasi, baik partai politik maupun sosial-kemasyarakatan, menerapkan asas tunggal pancasila. Hal ini dilakukan agar terciptanya kesatuan nasional dan supaya tidak ada lagi organisasi yang menolak pancasila.

Penerapan asas tunggal ini memicu kontroversial selama tiga tahun hingga akhirnya diundangkan dalam UU. NO. 5/1985 dan UU. No. 8/1985. Setiap Ormas diberi batas akhir sampai 17 Juli 1987 untuk mendaftarkan organisasinya kembali dan setiap Ormas yang tidak menerima asas tunggal terancam dibubarkan. Pada waktu itu, NU termasuk Ormas yang menerima penerapan asas tunggal Pancasila, meskipun sebelumnya terjadi perdebatan panjang dalam internal NU sendiri.

Baca Juga: Mbah Liem, Ulama Pencetus Slogan “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya”

Penerimaan NU terhadap aturan ini bukan atas dasar keterpaksaan, tetapi didasarkan pada pertimbangan matang dan berpegang pada aturan agama. KH. Ahmad Siddiq mengatakan, sebagai Jam‘iyyah Diniyyah Islamiyyah (organisasi keagamaan Islam), NU selalu berpegang sepenuhnya kepada kaidah-kaidah keagamaan dalam merumuskan pendapat dan langkahnya. (Choirul Anam, 76).

Sebelum persoalan ini dibahas dalam Muktamar NU Situbondo tahun 1984, KH. Ali Maksum, Rais PBNU, berkomunikasi terlebih dahulu dengan KH. Ahmad Siddiq, dan keduanya sepakat untuk mengadukan persoalan ini kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad menyarankan kepada mereka untuk membuat tim khusus dari PBNU dan KH. Achmad Siddiq akhirnya ditunjuk sebagai ketuanya dan KH. Abdurrahman Wahid sebagai sekretarisnya.

Untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan ini, KH. Achmad meminta Gus Dur untuk menemui Menteri Sekretaris Kabinet Drs. Moerdiono, selaku pejabat yang mengurusi persoalan ini. Gus Dur diminta untuk menanyakan (tabayun), apakah Pancasila akan menggantikan kedudukan agama atau tidak? Beliau menjawab, tidak. (Gus Dur,11)

Pertanyaan ini penting diajukan karena sebagian ulama yang menolak Pancasila mengkhawatirkan kelak agama diganti dan diposisikan setara dengan agama. Menurut cerita Gus Dur, Kiai As’ad termasuk orang yang menolak pancasila pada zaman Jepang dan berbeda pendapat dengan kedua gurunya, KH. Hasyim ‘Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim. Beliau menolaknya karena saking hati-hati dan khawatir agama luntur karena diganti Pancasila (15-16).

Oleh karenanya, sebelum Munas Alim Ulama NU 1983, Kiai As’ad bertanya terlebih dahulu kepada Gus Dur, apakan pancasila nanti menggantikan Islam? Gus Dur menjawab, tidak usah khawatir Kiai. Gus Dur mamastikan bahwa keputusan Munas nanti adalah Pancasila tidak akan menjadi pengganti Islam dan tidak akan melawan kepada Islam. Mendengar jawaban ini, Kiai As’ad akhirnya setuju dengan pancasila dan tidak keberatan bila dijadikan asas organisasi.

Baca Juga: Jauh Sebelum Pancasila, Soekarno Terlebih Dahulu Berpikir Tentang Nasionalisme

Berdasarkan tuturan Gus Dur ini, dapat dipahami bahwa tujuan dan maksud merupakan perihal utama dalam mengambil kesimpulan hukum agar tidak terjebak pada nama dan bentuk. KH. Achmad Siddiq menegaskan bahwa Pancasila dan hubungannya dengan agama memang perlu dijelaskan dan dijernihkan, supaya tidak terperangkap dalam pengambilan sikap yang tidak proposional. Keduanya harus dipahami secara objektif dan proposional (wad’u syai’ fi mahallihi).

Menurut Gus Dur, pancasila adalah persoalan dunia dan tidak berhubungan langsung dengan dimensi akhirat. Dikarenakan ia berkaitan dengan kemaslahatan dunia, maka urusan ini lebih tepat ditangani oleh negara dengan didampingi oleh ulama. Dalam persoalan dunia, berdasarkan hadis Nabi, pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya pada manusia selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat. Oleh karenanya, yang menjadi acuan NU dalam menerima pancasila adalah nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam pandangan KH. Achamad Siddiq, Pancasila dan Agama adalah dua hal yang dapat berjalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya pun tidak harus dipilih salah satu. Pancasila diterima menjadi dasar negara karena perumusan Pancasila melibatkan kaum muslimin dan nilai-nilai luhur yang terdapat di dalamnya tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Pancasila sejatinya adalah hasil kesepakatan bersama setiap orang Islam diwajibkan memenuhi dan mematuhi kesepakatan tersebut.

Baca Juga: Inilah Titik Temu Pancasila dan Teologi Islam Yang Tak Perlu Dibenturkan

KH. Achmad memahami penerapan asas tunggal Pancasila pada setiap ormas sebagai bentuk niat baik pemerintah dalam melawan ideologi anti Pancasila yang mempengaruhi sebagian ormas. Niat baik tersebut harus direspon positif dan didukung. Terlebih lagi, pemerintah sudah berkali-kali menegaskan tidak meng-Agama-kan Pancasila dan tidak mem-Pancasila-kan Agama.

Berdasarkan pertimbang ini dan didukukung oleh Kiai sepuh,  pada Muktamar Situbondo 1984, NU menyepakati asas tunggal sebagai landasan organisasi dan penafsiran pancasila didasarkan pada UUD 1945 agar tidak dijadikan alat politik oleh penguasa.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...