Beranda Uncategorized Tidak Ada Dalil yang Melarang Cinta Negeri, Beginilah Bentuk Dan Prinsip Nasionalisme...

Tidak Ada Dalil yang Melarang Cinta Negeri, Beginilah Bentuk Dan Prinsip Nasionalisme di Kalangan Kaum Pesantren

Harakah.idDalam Kaidah Fikih disebutkan segala sesuatu dihukumi boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Cinta negeri adalah salah satu yang sampai saat ini tidak memiliki dalil pelarangannya. Maka tak heran jika nasionalisme tumbuh dan dirawat di kalangan kaum pesantren.

Dalam Kaidah Fikih ada sebuah kaidah:

الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيمِ

“Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang melarang”

Dalam kajian keislaman, Alquran dikenal sebagai sumber dasar segala peraturan (syariat). Berikutnya adalah perkataan-perkataan (hadis) Nabi Muhammad saw. Nah, kedua sumber tersebut berbentuk teks. Dimana teks itu sendiri sudah tidak dapat ditambah-tambah lagi. Meminjam bahasa Ibnu Rusyd, filsuf yang juga ahli fikih, teks-teks yang menjadi sumber aturan syariat bersifat terbatas (mutanahin). Padahal, di sisi lain, permasalah yang dihadapi umat manusia terus berkembang. Dinamis. Ghairu mutanahiyah. Menjadi pertanyaan penting mengenai persoalan-persoalan yang tidak disinggung oleh Alquran dan hadis. Bagaimana sikap umat Islam terhadap hal-hal yang tidak dijelaskan oleh keduanya?

Dalam konteks ini, para ahli hukum Islam merumuskan metode pengambilan hukum dari teks-teks yang terbatas tersebut. Yaitu dengan menggunakan metode analogi (qiyas), pemahaman spektrum makna (dalalah, fahwa), dan lain sebagainya. Ada pula pengadopsian sumber-sumber hukum di luar teks Alquran dan hadis, seperti adat kebiasaan (‘urf), fatwa-fatwa sahabat (qaul shahabi), mempertimbangkan hukum asal (istishhabul ashli), dan lainnya.

Baca Juga: Ketika Sidang Konstituante Tidak Menghasilkan Titik Temu, Para Ulama Memilih Ikuti Dekrit Presiden Soekarno

Terkait dengan penggunaan hukum asal sebagai dasar syariat, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Hanafi, hukum asal segala sesuatu yang tidak dijelaskan oleh teks-teks Alquran dan hadis adalah haram, sampai ada keterangan yang membolehkan. Berbeda dengan itu, mazhab Syafi’i menyatakan bahwa hukum segala perbuatan pada asalnya dibolehkan, kecuali ada dalil yang melarang.” Demikian seperti dijelaskan as-Suyuthi (911 H.) dalam kitab al-Asybah wan Nazha’ir.

Prinsip yang dipedoman para ulama mazhab Syafi’ di atas didasarkan kepada sejumlah pernyataan Nabi Muhammad saw. di antaranya;

مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوا مِنْ اللَّهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا

Perbuatan yang dibolehkan Allah adalah halal, apa yang dilarangnya maka hukumnya haram. Perbuatan yang didiamkan oleh-Nya adalah dimaafkan (dibolehkan). Terimalah permaafan Allah, karena Allah tidak akan pernah lupa akan sesuatu pun. (HR. Thabarani dan al-Bazzar dengan sanad Hasan)

إنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَنَهَى عَنْ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ، فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا وَفِي لَفْظٍ «وَسَكَتَ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلَا تَتَكَلَّفُوهَا رَحْمَةً لَكُمْ فَاقْبَلُوهَ

Allah telah mewajibkan banyak kewajiban, jangan kalian sia-siakan. Allah melarang banyak perkara, jangan kalian melanggarnya. Dia membuat batasan-batasan, jangan melampui batas. Allah mendiamkan banyak perkara tanpa lalai akannya, maka jangan membahasnya lagi. Dalam riwayat lain dikatakan, “Dia mendiamkan banyak perkara tanpa lalai atasnya, dia tidak membebani kalian dengannya sebagai bentuk kasih-Nya kepada kalian, maka terimalah ia.” (HR. Thabarani)

Berdasarkan prinsip kebolehan di atas, para ahli fikih merumuskan hukum-hukum agama untuk perkara yang tidak ditemukan dalilnya secara tekstual dalam Alquran maupun hadis. Hal ini seperti masalah daging hewan yang tidak dijelaskan hukumnya. Apakah hewan yang tidak pernah disebutkan dalam teks-teks syariat (Alquran dan hadis) berstatus halal atau haram. Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana diriwayatkan imam ar-Rafi’i, hukumnya halal alias boleh dikonsumsi.

Baca Juga: Jauh Sebelum Pancasila, Soekarno Terlebih Dahulu Berpikir Tentang Nasionalisme

Contoh lainnya adalah tumbuhan yang tidak secara jelas disebutkan hukumnya dalam Alquran dan hadis. Menurut an-Nawawi, hukum yang kuat dalam mazhab Syafi’i adalah halal alias mubah. As-Subki mencontohkan satu masalah lagi. Yaitu hukum memakan daging Jerapah. Apakah hewan Jerapah termasuk hewan yang halal dagingnya? As-Subki menjawab, iya, karena hukum asal segala sesuatu adalah mubah. Demikianlah salah satu kebiasaan para ahli fikih merumuskan hukum Islam. Yaitu berpegang kepada hukum asal (istishhabul ashli).

Bagi orang yang hidupnya dihabiskan mempelajari masalah-masalah fikih, seperti para kiai dan santri di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia, pasti mengenal cara berfikir semacam ini. Ketika pulang dan kembali ke masyarakat, mereka tentunya akan menggunakan logika-logika fikih semacam ini untuk merespon situasi dan permasalahan sosial yang mereka hadapi. Seperti yang dialami oleh para tokoh pendiri NU berikut ini.

Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari pernah didatangi Bung Karno ketika pasukan sekutu yang membonceng Belanda kembali datang untuk menguasai Indonesia. Mereka sudah mendarat di Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, dan terakhir akan masuk ke Surabaya. Di tengah situasi yang terpojokkan, setelah berhasil memplokamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 45, Bung Karno mendekati banyak kiai. Termasuk Hadhratus Syaikh. Beliau hendak meminta dukungan kelompok pesantren. Dalam dialognya, Bung Karno bertanya kepada Hadhratus Syaikh, “Kiai, bagaimana hukumnya membela tanah air. Bukan membela Allah, juga bukan membela Islam!?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu dijawab karena selama ini pesantren lah yang berada di garda depan perjuangan melawan penjajahan. Mbah Hasyim pun tahu, Soekarno hanya ingin agar orang pesantren kembali terlibat dalam perjuangan melawan Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia. Mbah Hasyim tidak menjawab dalam kata-kata. Beliau mengumpulkan seluruh pengurus cabang NU Jawa dan Madura untuk bermusyawarah. Akhirnya, pada 22 Oktober 1945, dicetuskan seruan “Resolusi Jihad”.

Karena peran-peran pesantren semacam itulah, kemudian Bung Karno dekat dengan banyak kiai NU. Termasuk teman sekaligus gurunya, KH. Wahab Chasbullah. Bung Karno selalu mengkampanyekan pentingnya nasionalisme. Pernah, beliau bertanya kepada Kiai Wahab, “Pak Kiai, apakah nasionalisme itu ajaran Islam?” Mbah Wahab menjawab tegas, “Nasionalisme ditambah bismillah itulah Islam. Kalau Islam dilaksanakan dengan benar, pasti umat Islam akan nasionalis.”

Baca Juga: Ramalan Diponegoro Tentang Kekuatan Islam dan Nasionalisme

Kedekatan Bung Karno dengan kiai-kiai NU, kemudian membuat banyak santri yang mengidolakannya. Ketika itu, bahkan banyak slogan yang ditempel di dinding-dinding menyatakan, “Gesang Pejah Nderek Bung Karno” atau “Hidup Mati ikut Bung Karno”. Bung Karno menjadi simbol nasionalisme yang diartikan orang-orang pesantren sebagai cinta tanah air. Mencintai Bung Karno adalah mencintai tanah air. Karena Bung Karno berjuang untuk memajukan tanah airnya. Menyaksikan masyarakat pesantren yang sangat antusias mencintai Bung Karno, KH. Idham Chalid sebagai ketua PBNU saat itu, menyampaikan dalam pidatonya, “Atas restu Raim Am NU, KH. Wahab Chasbullah, saya nyatakan, hidup mati untuk Allah bersama-sama Bung Karno”.

Kisah Hadhratus Syaikh, Kiai Wahab, dan Kiai Idham Chalid memberikan pelajaran berharga mengenai makna nasionalisme bagi orang-orang NU. Nasionalisme bukan sesuatu yang perlu diomong-omongkan. Digembar-gemborkan. Nasionalsime harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Nasionalisme dimaknai sebagai rasa cinta kepada tanah air oleh orang-orang pesantren. Ketika seseorang sudah mencintai tanah airnya, dia akan rela berjuang mempertahankannya dari serangan musuh.

Nasionalisme adalah bagian dari instrumen, wasilah, dan strategi menyatukan bangsa Indonesia. Nasionalisme harus ditambahi bismillah agar mendapatkan dasar moralitas Islam. Dalam perspektif ilmu fikih, nasionalisme adalah konsepsi yang tidak dijelaskan secara tegas dalam teks Alquran maupun hadis.

Berdasarkan kebiasaan para ahli fikih dalam menyimpulkan hukum Islam, sesuatu yang tidak ditemukan penjelasannya secara tegas dalam teks syariat, dapat dikembalikan kepada prinsip hukum asal. Dalam mazhab Syafi’i, hukum asal segal sesuatu adalah mubah atau boleh. Nasionalisme diartikan oleh orang-orang NU sebagai perasaan cinta pada tanah air. Ia adalah salah satu bentuk perasaan dalam hati. Terkadang perasaan itu ditampilkan dalam perilaku dan tindakan-tindakan sebagai ekspresi perasaan tersebut.

Baca Juga: Hikayat Sarung di Tengah Peradaban Fashion; Dari Stereotipe, Penyingkiran Hingga Upaya Pembid’ahan

Berdasarkan logika hukum asal, hukum perasaan tersebut adalah boleh. Tidak ada dalil yang tegas melarangnya. Dalam kitab al-Minahus Saniyyah karya Syekh Abdul Wahhab as-Sya’rani dianjurkan agar perkara yang mubah diniati yang benar agar bernilai ibadah. Agar dalam kehidupan kita tidak ada yang sia-sia. Seperti makan diniati agar kuat menjalankan ibadah. Makan dengan sendirinya mendapatkan nilai ibadah. Padahal hukum asal makan adalah mubah.

Demikian pula nasionalisme. Hukum asalnya mubah. Agar dapat menjadi ibadah, hendaknya ditambahi niat yang benar yaitu sebagai perjuangan di jalan Allah. Dengan bahasa yang sangat sederhana, Kiai Wahab mengajari Bung Karno cara menjadikan memiliki muatan agama, “Nasionalisme ditambahi bismillah itulah Islam.”

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...