Beranda Khazanah Tidak Tahunya Ulama Itu Berkah, Penjelasan Gus Baha Soal Sikap Sok Tahu...

Tidak Tahunya Ulama Itu Berkah, Penjelasan Gus Baha Soal Sikap Sok Tahu Segalanya dalam Berfatwa

Harakah.idTidak tahunya ulama itu berkah. Di tengah kebiasaan orang yang mulai sok tahu dan mampu menjawab segalanya, Gus Baha mengingatkan kalau tradisi menjawab “tidak tahu” harus kembali dilestarikan. Dalam masalah fatwa hukum, menjawab tidak tahu adalah sikap berhati-hati. Toh, semua kondisi kan tidak bisa dihukumi dengan satu hukum yang sama. Jadi, ya tidak tahu…

Masyhur dikisahkan adalah seseorang yang menempuh perjalanan jauh ke Madinah untuk menemui Imam Malik dan bertanya satu permasalahan. Sesampai di hadapan Sang Imam, orang tadi menyampaikan pertanyaannya. Tanpa disangka-sangka, Sang Imam menjawabnya dengan “la adri…”; “saya tidak tahu”, kata Imam Malik. Si penanya kecewa. Bagaimana mungkin seorang alim seperti Imam Malik tidak tahu jawaban sebuah permasalahan. Orang tadi mengungkapkan kekecewaannya dengan sedikit protes, “bagaimana anda tidak tahu? Padahal saya sudah berjalan jauh dari kampung halaman saya. Guru saya menunggu jawaban anda duhai Imam”. Imam Malik hanya menjawab, “ya sampaikan salam pada gurumu dan katakana kalau Imam Malik tidak tahu jawabannya…”

Kalau kita amati, dalam kitab-kitab hikayat para ulama, mengatakan tidak tahu sejatinya adalah kebiasaan para imam yang bahkan sudah dianggap menguasai banyak ilmu dan permasalahan. Ada beberapa latar dan alasan di balik jawaban “tidak tahu” tersebut, salah satunya adalah karena kehati-hatian. Dengan jawaban yang terlalu rigid dalam berfatwa, para Imam dan Ulama seringkali khawatir kalau hal tersebut justru akan menimbulkan konsekuensi yang buruk bagi stabilitas ummat dan tidak mendatangkan maslahat ‘ammah (kebaikan umum). Dengan kata lain, tidak tahunya ulama itu berkah!

Baca Juga: Teori Kutu Ala Gus Baha’ Ini Menjelaskan Tentang Apakah Bumi Itu Bulat atau Datar

Gus Baha’ di sebuah pengajian tafsirnya menjelaskan makna ayat “alhakumut takasur” dan perkara “tidak tahu” serta kehati-hatian yang harus dipertimbangkan oleh seseorang dalam mengeluarkan fatwa. Kalimat “alha” adalah kalimat muta’addi yang membutuhkan obyek. Secara umum maknanya “memalingkan atau melupakan dari”. Harta, tahta, dan banyak hal yang berbau keduniawian seringkali memalingkan manusia dari Tuhannya; Ini “alha”! Oleh karena itu, kata Gus Baha’, alat musik seringkali disebut mulhin atau alat yang membuat orang berpaling dari Allah SWT. Hal-hal yang menyebabkan orang berpaling dari Allah SWT dan lupa tentu adalah sesuatu yang haram. Lalu, apakah musik haram? Tunggu dulu…

Pertanyaannya, bagaimana dengan orang soleh yang punya banyak harta tapi tidak membuatnya berpaling dari Tuhan? Usman bin Affan contohnya. Seorang kaya yang menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk jihad dakwah Nabi. “at-takasur” atau memperbanyak harta bagi Usman bin Affan justru menjadi media dia ingat Allah SWT. Dalam kasus semacam ini, harta tidak memalingkan (tidak “alha”) seseorang dari Allah SWT. Karena illatnya berubah, maka hukumnya berubah. Jadi gak jaminan; kalau kaya, pasti alha… kalau miskin, gak alha…

Begitupun juga dengan musik. Mengapa hari ini tidak ada hukum yang rigid soal musik? Karena memang realitasnya berbeda-beda. Ada musik yang membuat manusia “alha”, ada yang justru membuat manusia ingat Tuhannya. Andai misalnya musik secara general diharamkan karena unsur “alha”, bagaimana dengan kasus Jalaluddin ar-Rumi yang masyhur dengan media musik sebagai jalan mengingat Tuhan? Bagaimana dengan kasus ketika Rasulullah mengandaikan suara emas seorang sahabat layaknya seruling Nabi Dawud? Bagaimana dengan aransemen musik religi, shalawat dan lain sebagainya yang justru membuat manusia ingat Nabinya… ingat Tuhannya?

Baca Juga: Inilah Cara Mendidik Anak Ala Gus Baha, Biar Anak Tak Menjauhi Kita

Dari sinilah kemudian para ulama memiliki tradisi menjawab “tidak tahu”. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena menjaga dan menghindari benturan yang lebih keras karena munculnya sebuah fatwa. Hal yang sama juga terjadi ketika para ulama menyikapi permasalahan-permasalahan dalam bab jihad. Para ulama sangat khawatir fatwa yang dikeluarkannya akan menjadi landasan dan pintu gerbang bagi tindakan serta aksi yang menumbalkan darah manusia-manusia tak bersalah. “Tidak tahu” senyatanya adalah sikap dan tradisi menyeimbangkan antara hukum dan realitas yang  terus-menerus berubah. Tugas ulama tidak hanya menjawab pertanyaan, namun menjaga keseimbangan dan tatanan masyarakat yang sudah berjalan. Sekali lagi, tidak tahunya ulama itu berkah.

Tradisi “tidak tahu” tersebut kemudian mewujud opsi “tafshil” yang biasa kita temukan dalam tradisi bahsul masa’il di pesantren-pesantren di Nusantara. Artinya, jawaban untuk sebuah permasalahan tidaklah tunggal. Ia memiliki opsi dan bergantung pada irisan-irisan kondisi yang muncul. Tidak bisa kemudian jika satu hukum ditarik tegas ke satu model dan satu warna untuk banyak kasus yang ada nan berbeda-beda. Selamanya, bertanya soal hukum, akan melahirkan jawaban yang tidak ringkas. Menurut ini, begini… menurut itu, begitu; kalau begini, ya ini… kalau begitu, ya itu; belum lagi soal pengecualian-pengecualian yang membuat fatwa menjadi pekerjaan paling rumit yang pernah ada dan paling rentan, sebenarnya…

Baca Juga: Nyamuk Gus Baha’ dan Cara Keren Memahami Konsep Mukjizat

Menariknya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak tokoh agama, ditanya apa saja soal hukum, tahu jawabannya dan yakin dengan rincian jawabannya. Ada sebuah adagium yang menyatakan, keberanian menyatakan tidak tahu adalah tradisi orang berilmu. Mereka yang selalu tahu dan menjawab pertanyaan apa saja yang diajukan kepada dirinya, sejatinya adalah orang yang sok tahu alias tidak berilmu. Maka berfatwa tidak hanya membutuhkan pengetahuan yang memadai soal hukum an sich, tapi juga kebijaksanaan dan kedewasaan dalam memperkirakan dampak dan konsekuensi lanjutan dari fatwa yang akan dikeluarkan.

Kata Gus Baha’ kepada jama’ah pengajiannya, “udah teruskan jawaban gak tahu itu! Seperti biasanya. Biasanya kan emang gak tahu. Yowes jawab aja gak tahu! Heuheuheu…

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...