Beranda Keislaman Muamalah Tiga Adab Saat Mengiringi Jenazah, Apakah Dianjurkan Zikir?

Tiga Adab Saat Mengiringi Jenazah, Apakah Dianjurkan Zikir?

Harakah.id Syekh Zakaria Al-Anshari dalam kitab Asna Al-Mathalib mengatakan, sunnah mengiringi jenazah dengan dzikir secara lirih.

Salam, admin harakah yang terhormat, apa saja adab yang perlu dijaga dan diperhatikan saat membawa atau mengiri jenazah ke kuburun? Terima kasih

Setiap orang pasti akan mengalami kematian. Kewajiban muslim yang masih hidup adalah mengurusi orang yang meninggal: mulai dari memandikan sampai mengafani. Kewajiban ini diistilahkan dengan wajib kifayah, artinya seluruh orang muslim akan berdosa bila tidak mengurusinya, dan mereka tidak berdosa bila sudah ada sebagian orang yang mengurusi jenazah tersebut.

Mengiringi jenazah termasuk kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah SAW menyatakan: “hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: bila engkau menjumpainya, maka ucapkanlah salam kepadanya, jika ia mengundangmu, maka sambutlah, bila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, jika ia bersin dan memuji Allah SWT, maka do’akanlah, dan bila ia sakit, tengoklah, serta bila ia mati, iringilah jenazahnya.” (HR.Muslim)

Salah satu kesunnahan saat mengurus jenazah adalah mengantarkan jenazah sampai pemakaman. Bahkan dalam hadis disebutkan pahalanya dua qirath bagi orang yang mengurus jenazah dari awal sampai proses pemakaman. Dua qirath itu disebutkan dalam hadis seukuran dua gunung yang besar.

Supaya apa yang kita lakukan itu sempurna, maka perlu diperhatikan beberapa adab pada saat mengantar atau membawa jenazah. Setidaknya ada tiga adab yang perlu diperhatikan:

Pertama, disunnahkan jalan kaki saat mengiri jenazah. Kesunnahan ini tentuy berlaku bila jarak antara rumah jenazah dengan pemakaman tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalau jauh, misalnya lintas kabupaten atau kota, tentu lebih baik menggunakan kendaraan.

Kedua, pastikan keranda jenazah kuat dan jenazah yang ada di dalamnya tidak akan jatuh bila diangkat oleh banyak orang.

Ketiga, pada saat membawa jenazah dianjurkan untuk tidak berisik dan mengeraskan suara. Karena ketika itu lebih baik digunakan untuk berfikir akan kematian serta merenunginya.

Lalu apakah dianjurkan untuk berzikir saat mengiringi jenazah seperti yang biasa dilakukan sebagian masyarakat? Apakah jika tidak dianjurkan, kemudian hal itu dilarang?

Menurut sebagian ulama Syafi’iyyah, berzikir dengan suara keras bukan perkara yang dilarang, tidak pula diperintahkan. Artinya, hukumnya mubah. Syekh Amin Al-Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub menulis sebagaimana berikut;

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

“Disunnahkan untuk berjalan di depan keranda (jenazah) atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berpikir tentang kematian dan sesudahnya. Dan dimakruhkan untuk gaduh, bercakap-cakap tentang urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat Alqur’n, membaca zikir, atau salawat kepada Nabi Saw. Maka hal itu tidak apa-apa untuk sekarang. Karena hal ini merupakan syi’ar bagi si mayit.”

Ada sebagian orang berpendapat bahwa Syekh Amin Al-Kurdi berpendapat sunnah membaca kalimah thayyibah saat mengiringi jenazah. Sepertinya hal ini adalah sebuah kesalahpahaman. Karena Syekh Amin Al-Kurdi hanya mengatakan “La Ba’sa Bihi” yang mengarah kepada hukum Mubah daripada Sunnah. Syekh Al-Kurdi juga menegaskan tentang situasi sosial yang ada pada zamannya dengan kata-kata “Al-An” artinya “Sekarang”. Agaknya, Syekh Amin Al-Kurdi menggarisbawahi konteks sosial pada zamannya. Bahwa ada orang yang membicarakan dunia dan perkataan yang tidak bermanfaat. Sehingga menurut beliau, untuk saat itu, tidak apa-apa berzikir dengan kalimat tayibah karena lebih baik daripada membicarakan masalah dunia.

Memang ada kesan, bahwa Syekh Amin Al-Kurdi mengutamakannya dan menyebutnya “Syi’ar lil mayyit”. Tetapi apakah hal itu sampai kepada hukum sunnah? Tidak begitu jelas apakah beliau sampai menghukumi sunnah.

Untuk menguatkan anggapan hukum sunnah ini, sebagian orang mengutip hadis dalam kitab Nashbur Rayah. Dalam kitab tersebut, Imam Al-Hafizh Al-Zaila’i menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Umar, dia berkata;

لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا

“Tidak ada kalimat yang didengar dari Rasulullah Saw. saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali kalimat La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Adi dalam kitab Al-Kamil Fi Dhu’afa’ Al-Rijal. Sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis daif. Hadis daif tidak dapat dijadikan dasar dalam masalah hukum. Namun boleh dijadikan dasar dalam persoalan fadhailul amal, semisal amalan sunnah. Imam Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asna Al-Mathalib mengatakan,

 )ويكره للماشي ) يعني للذاهب معها ( الحديث ) في أمور الدنيا ( ويستحب له الفكر في الموت وما بعده ) وفناء الدنيا ، وإن هذا آخرها ويستحب الاشتغال بالقراءة والذكر سرا . قال النووي والمختار والصواب ما كان عليه السلف من السكون في حال السير معها فلا يرفع صوت بقراءة ولا ذكر ولا غيرهما ؛ لأنه أسكن للخاطر وأجمع للفكر فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال 

Dihukumi makruh bagi orang yang berjalan mengiri jenazah berbicara masalah-masalah duniawi. Dianjurkan baginya merengungkan kematian dan peristiwa setelah kematin dan kefanakan dunia. Kematian adalah akhir dunia. Disunnahkan membaca Al-Quran dan berdzikir secara lirih (sirr). Imam An-Nawawi berkata, “Pendapat al-mukhtar (terpilih) adalah apa yang dilakukan oleh ulama salaf, yaitu tenang saat berjalan mengiringi jenazah. Tidak mengeraskan suara dengan bacaan Al-Quran atau dzikir dan tidak pula selain keduanya. Tentang itu lebih menenteramkan pikiran dan lebih memfokuskan fikiran terkait dengan yang berkaitan dengan jenazah. Tenang ini adalah yang dituntut dalam kondisi seperti ini.

Berdasarkan keterangan ini, berdzikir atau membaca Al-Quran, sunnah dilakukan secara lirih (sirr). Mengeraskan dzikir adalah perbuatan yang tidak dianjurkan.

Demikian sedikit ulasan tentang Tiga Adab Saat Mengiringi Jenazah. Semoga Tiga Adab Saat Mengiringi Jenazah ini menambah wawasan kita bersama. Salah satu Tiga Adab Saat Mengiringi Jenazah adalah berdzikir secara lirih, tidak mengeraskan bacaan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...