Beranda Editorial Tiga Argumen Penolakan RUU HIP, Efek Bumerang Yang Paling Mengkhawatirkan

Tiga Argumen Penolakan RUU HIP, Efek Bumerang Yang Paling Mengkhawatirkan

Harakah.id Jika dua narasi pertama berbasis pada pengalaman masa lalu, maka argumentasi ketiga cenderung lebih mempertimbangkan dampaknya ke depan. Efek bumerang harus menjadi pertimbangan negara untuk tidak melanjutkan pembahasan RUU HIP.

Di tengah ancaman Covid-19, publik merasa terkejut ketika Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tiba-tiba membahas Rancangan Undang-Undang tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Urgensi, tujuan, dan motif di balik RUU tersebut kemudian mengundang tanya sejumlah pihak. Tak terkecuali siapa aktor di balik pengusulan RUU tersebut.

Terlepas dari itu semua, sejumlah pihak dengan tegas menolak keberadaan RUU tersebut. Setidaknya ada tiga argumen mengapa RUU HIP perlu ditolak sejak awal.

Pertama, kekhawatiran sebagai jalan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekhawatiran ini muncul karena RUU tersebut berusaha ‘memperkuat’ posisi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernenagara. Hal ini mengingatkan publik akan pertarungan ideologis selama bertahun-tahun di awal pembentukan republik yang dramatis.

Para penolaknya mengimajinasikan bahwa saat ini telah terjadi pertarungan ideologi antara nasionalis, komunis dan kelompok agama dalam hal ini Islam.  Para pengusung RUU HIP distigma sebagai kaum nasionalis yang bergandengan tangan dengan kaum komunis. Posisi ini mengancam eksistensi ‘umat Islam’.

Pemerasan Pancasila menjadi trisila, lalu ekasila, dianggap mereduksi Pancasila sedemikian rupa sehingga hanya menyisakan nilai gotong-royong. Sekali lagi, istilah-istilah yang digunakan ini mengingatkan sejumlah pihak akan pemikiran Presiden Soekarno yang dinilai dekat dengan kaum komunis. Susunan argumen ini mengarah kepada RUU HIP sebagai jalan kebangkitan kembali PKI di satu sisi, dan pembungkaman terhadap gerakan ‘umat Islam’.

Kedua, kekhawatiran akan terjadinya monopoli tafsir atas Pancasila oleh negara. Monopoli atas atas tafsir Pancasila pernah terjadi dalam sejarah buruk bangsa dimana kebebasan politik dibatasi, demokrasi dimanipulasi, dan penegakan HAM yang mundur.

Hal ini hanya akan menguntungkan kelompok-kelompoko dalam lingkaran oligarkhi seperti terjadi pada era Orde Baru. Dalam narasi ini, RUU tersebut akan menjadi alat bagi penguasa untuk membungkam kebebasan berpendapat di masyarakat. Dengan demikian, demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi basis utama alasan penolakan RUU HIP.

Ketiga, kekhawatiran akan adanya efek bomerang dari RUU HIP. Jelas bahwa negara tengah berusaha membuat rumusan yang mengarah kepada penguatan Pancasila di satu sisi, dan pembatasan penyebaran ideologi yang dianggap bertentangan dengannya. Sayangnya, rumusan itu cenderung mereduksi simbol-simbol religiusitas.

Simbol religiusitas yang tertuang dalam dasar Negara sedang direduksi sedemikian rupa. Ini tentu bukan kabar baik bagi pihak yang menginginkan keseimbangan politik yang selama ini dapat menjadi pemersatu seluruh komponen bangsa. Hilang identitas religius ini tentu akan semakin meneguhkan klaim sebagian pihak bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara sekuler yang anti-agama. Narasi yang membenturkkan antara negara dan agama ini tentu bukan situasi yang diinginkan.

Kelompok Islam fundamentalis dan ekstremis akan semakin menemukan pembenaran atas klaimnya selama ini. Dengan mudah, ekstremis akan merekrut anak-anak muda yang awam untuk bergabung dalam barisan mereka. Serangan kebencian terhadap pemerintah tentu tidak akan menguntungkan mengingat selama ini kelompok ekstremis tidak kenal lelah menyebarkan narasi kebencian terhadap pemerintah.

Ketiga perspektif di atas seluruhnya mewakili suara publik yang menolak proses legislasi RUU HIP. Jika dua narasi pertama berbasis pada pengalaman masa lalu, maka argumentasi ketiga cenderung lebih mempertimbangkan dampaknya ke depan. Efek bumerang harus menjadi pertimbangan negara untuk tidak melanjutkan pembahasan RUU HIP.  

Memang menjadi pertanyaan, seberapa pentingkah RUU HIP ini, di tengah pentingnya respon yang lebih baik dalam penanganan Covid-19. Bukankah pemerintah masih kedodoran soal penanganan Covid-19 yang terus menanjak ini?

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...