Tiga Hal yang Dilakukan Imam Al-Syafi’i di Makam Imam Abu Hanifah

0
1222
Tiga Hal yang Dilakukan Imam Al-Syafi'i di Makam Imam Abu Hanifah

Harakah.id Tiga hal yang dilakukan Imam al-Syafi’i di makam Imam Abu Hanifah ini adalah catatan singkat ngaji sorogan Kitab al-Tibyan. Darinya kita akan belajar banyak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan etika sosial di tengah keperbedaan.

Ziarah ke makam para ulama adalah laku baik yang sudah dicontohkan oleh ulama salaf. Dalam banyak literatur, semisal kitab al-Tibyan karya Hadlaratussyaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947), termaktub kisah ziarah Imam al-Syafi’i (150-204 H) ke makam Imam Abu Hanifah (80-150 H).

Perjalanan ziarah yang penuh suri teladan. Menggoreskan spirit pelajaran yang sangat berarti. Imam Abu Hanifah, selaku pendiri madzhab Hanafiyah, dimakamkan di samping masjid Abu Hanifah di kota Baghdad Iraq. Sedangkan Imam al-Syafi’i, di sisa usianya, menetap di Kairo Mesir.

Dalam kitab Tarikh Baghdad, Imam Khatib al-Baghdadi (392-463 H) mencatat, dua kali imam al-Syafi’i mengunjungi Baghdad. Setidaknya ada 3 hal yang dilakukan al-Syafi’i saat ziarah ke makam Abu Hanifah.

Pertama, menginap selama 7 hari. Tidak tanggung-tanggung, ziarah tidak hanya cukup satu dua jam saja, tetapi berhari-hari. Bagi al-Syafi’i, Abu Hanifah adalah tokoh penting dalam perkembangan ilmu keislaman. Corak penggunaan rasio dalam memahami al-Qur’an dan hadis ala Imam Abu Hanifah, sedikit banyak mempengaruhi ijtihad al-Syafi’i. Melengkapi corak ijtihad ahli hadis yang diserap Imam al-Syafi’i dari Imam Malik (93-174 H). Karena itu, meskipun tidak sempat bertemu langsung, al-Syafi’i menaruh rasa hormat kepada Abu Hanifah. Ziarah adalah salah satu bentuknya.

Hal kedua yang dilakukan Imam al-Syafi’i adalah membaca al-Qur’an. Setiap kali khatam, Imam al-Syafi’i berdoa dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada Abu Hanifah. Membaca al-Qur’an adalah salah satu aktivitas yang banyak dilakukan al-Syafi’i selama 7 hari di makam Abu Hanifah. Di samping mengimami sholat jamaah dan mengadakan majlis ilmu di tempat yang sama. Di saat itu, masih banyak dijumpai murid-murid Imam Abu Hanifah. Mereka tidak segan berdiskusi dan bertukar pendapat dengan Imam al-Syafi’i. Membandingkan metodologi ijtihad Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ketiga, satu hal yang menjadi pelajaran dari ziarahnya al-Syafi’i di atas adalah setiap sholat Shubuh di masjid Abu Hanifah, beliau tidak membaca doa Qunut. Karena penasaran, sebagian murid Imam al-Syafi’i yang menyertainya bertanya. Mengapa selama 7 hari terakhir, sholat Shubuh tidak disertakan bacaan Qunut. Padahal Imam al-Syafi’i berpendapat bahwa membaca Qunut adalah sunnah.

Mendengar pertanyaan ini, dengan bijak Imam al-Syafi’i menjawab; “Sungguh, Imam Abu Hanifah tidak berpendapat kesunahan Qunut di setiap sholat Shubuh. Karena itu, aku tidak membacanya sebagai bentuk tata krama dan hormat kepada beliau.”

Jika ulama dahulu sudah mencontohkan pentingnya saling hormat dan menghargai perbedaan pendapat sedemikian hingga, lantas bagaimana dengan kita saat ini? Sudahkah?