Tiga Sikap yang Patut dimiliki Seorang Muslim Ketika Menghadapi Musibah

0
147
Tiga Sikap yang Patut dimiliki Seorang Muslim Ketika Menghadapi Musibah

Harakah.idTiga sikap ini sebenarnya patut dimiliki, bukan hanya dalam menghadapi musibah, tapi juga dalam menghadapi seluruh kehidupan di dunia ini.

Tiga sikap, yang tampaknya perlu dimiliki seorang muslim, lebih-lebih di masa pandemi kali ini.

Di masa pandemi yang belum juga usai terlebih lagi adanya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sebagian orang merasa tertekan menghadapi kondisi seperti saat ini. Beberapa bulan lalu media sempat dihebohkan dengan adanya Public Figure yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang karena stress menghadapi pandemi. Padahal kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan masyarakat secara umum. 

Fakta di atas membuat kita menyadari bahwa kebahagiaan tidak diukur dari apa yang kita dimiliki. Pandemi saat ini memberi dampak yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya masyarakat kalangan menengah ke bawah tetapi orang-orang kaya pun mengalami dampak dari pandemi yang sudah 2 tahun masih mewabah ini. Namun, respon setiap orang berbeda-beda dalam menghadapinya. 

Sebagai umat muslim sudah sepatutnya kita menghadapi pandemi sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Islam. Mengutip dari buku Worldview Islam karya M. Kholid  Muslih, ada tiga sikap yang sebaiknya kita terapkan dalam menghadapi pandemi.

Pertama, dalam sabdanya Rasulullah SAW memberi gambaran sikap seorang muslim “mengagumkan urusan seorang mukmin. Semua urusan baik baginya. Tidak ditemukan pada orang lain selain orang mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya”. Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita bersabar dan bersyukur di kondisi seperti ini. 

Kedua, menyucikan jiwa (tazkiyah al-nafs) yang akan menghasilkan ketenangan jiwa. Perlu diingat bahwa ketenangan jiwa bukan berasal dari kondisi terpenuhinya kebutuhan dan kepuasan dalam hidup. Bukan pula dari kondisi yang tanpa tekanan (non pressure). Ketenangan jiwa justru dapat dirasakan saat kondisi jiwa tetap stabil walau berada dalam berbagai keadaan, baik saat menyenangkan maupun saat kesulitan. 

Ibnu al-Qayyim menggambarkan ketenangan jiwa seperti cahaya yang menyinari sehingga jiwa menjadi hidup, kesadaran yang terdapat di dalam jiwa menjadi kekuatan yang memperkuat tekad dan meneguhkan jiwa saat tertimpa bencana serta memberi kestabilan jiwa saat keadaan sedih dan cemas.

Untuk membangun ketenangan jiwa perlu menanamkan pondasi akidah seperti iman kepada qada’ dan qadar, ridho terhadap takdir-Nya, dan melaksanakan amal sholeh yang membersihkan dan menyucikan jiwa. Dengan fondasi akidah yang demikian, setiap seorang muslim mendapat musibah Allah akan memberinya ketenangan, kemantapan, dan kewibawaan di jiwa seorang muslim tersebut sehingga hati atau jiwanya akan menjadi tenteram.

Ketiga, mencintai Allah. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih. Islam mengakui adanya cinta terhadap makhluk Allah, namun diajarkan dan ditekankan pula untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai objek cinta pertama dan utama dibandingkan yang lainnya. Dalam Q.S. Ali Imran: 14 Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dari ayat diatas, Allah telah menegaskan hanya dengan di sisi Allah-lah kehidupan bahagia yang sebenarnya. Secara psikologis, rasa cinta kepada Allah dapat membantu mengurangi stress dan dalam medis memberikan efek biologis yang luar biasa. Hal ini terjadi karena emosi cinta sendiri dapat memberi efek biopsikologi yang menakjubkan. 

Teori tersebut diakui oleh Dr. Hiromi Shinya. Ia mengungkapkan kehidupan bahagia itu dipenuhi dengan cinta. Saat merasa bahagia, tes darah akan menunjukkan sistem kekebalan yang sangat aktif, saraf-saraf parasimpatetik sistem saraf akan mengambil alih dominasi sehingga mengurangi tingkat stress.

Maka, seorang hamba yang mencintai Allah akan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan sehingga mengurangi bahkan mampu menghilangkan perasaan tertekan dalam diri seorang muslim. Pada hakikatnya, menurut Ibnu Sina dalam buku Darasah Nafsiyah karya Muhammad ‘Utsman al-Najati, kehidupan dunia memang dipenuhi kesenangan dan penderitaan yang bersifat sementara. 

Jadi wajar jika kita ditimpa dengan beragam musibah salah satu contohnya ialah wabah pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia. Kebahagian terbesar  yang sebenarnya dan juga rahmat terluas bagi seorang muslim menurut Ibnu Thufail dalam kitab Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyahh,  adalah saat melihat Allah.

Dengan demikian, untuk meraih kebahagian di Akhirat, seorang muslim dapat menerapkan tiga sikap menghadapi musibah dalam Islam agar mendapatkan kebahagiaan yang kekal yang tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di dunia.