Beranda Keislaman Muamalah Tiga Tingkatan Kutukan atau Laknat Menurut Imam Al-Ghazali

Tiga Tingkatan Kutukan atau Laknat Menurut Imam Al-Ghazali

Harakah.idImam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, menyebutkan beberapa hal yang berkonsekuensi terhadap bolehnya kutukan. Di antaranya ialah, kekufuran (menyekutukan Allah SWT dengan selainnya), perbuatan bid’ah (bertentangan dengan sunah yang disyariatkan), dan kefasikan (menjauh dari taat kepada Allah dengan cara zalim).

Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, menyebutkan beberapa hal yang berkonsekuensi terhadap bolehnya kutukan. Di antaranya ialah, kekufuran (menyekutukan Allah SWT dengan selainnya), perbuatan bid’ah (bertentangan dengan sunah yang disyariatkan), dan kefasikan (menjauh dari taat kepada Allah dengan cara zalim).

Lebih lanjut, Imam Al-Ghazali juga merinci tiga bentuk kutukan atau laknat, yang ditujukan kepada tiga kategori di atas.

Tingkatan pertama, kutukan dengan sifat-sifat yang masih umum. Maksud dari sifat yang lebih umum ini adalah tidak ditujukan kepada golongan tertentu, seperti golongan Yahudi, Nasrani dan sebagainya. Pada tingkatan ini, kutukan dilontarkan kepada orang-orang berdasarkan perilakunya, yakni seperti perilaku-perilaku yang disebutkan di atas.

Dalam kitab Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin, Imam Az-Zabidi atau Imam Al-Murtadha juga menambahkan bahwa kutukan pada tingkatan ini harus didasari dengan pandangan terhadap perilaku kekufuran atau kefasikannya, bukan terhadap orangnya.

Contoh dari kutukan yang termasuk ke dalam kategori tingkatan pertama ini adalah seperti, “Terkutuklah orang-orang kafir, atau orang-orang pembuat bid’ah, atau orang-orang fasiq”, (la’natullah ‘alal kafirin wal mubtadi’in wal fasaqah).

Tingkatan kedua, kutukan dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Contoh dari bentuk kutukan yang termasuk dalam kategori kedua ini ialah, “Terkutuklah orang-orang Yahudi, atau orang-orang Nasrani, atau orang-orang Majusi”, (la’natullah ‘alal yahudi wan nashara wal majusi) dan lain sebagainya. Pada tingkatan ini sudah ada pengkhususan, yakni berdasarkan golongannya.

Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa kutukan yang ditujukan kepada pelaku zina, orang yang zalim, pemakan riba juga diperbolehkan. Akan tetapi sebagaimana yang pertama, tetap harus disandarkan pada perbuatannya, bukan pada pelakunya.

Khusus untuk kutukan yang ditujukan pada ahli bid’ah, Imam Al-Ghazali menganggapnya cukup berbahaya. Karena bid’ah termasuk hal yang samar, cukup sulit untuk diketahui, juga tidak dijumpai ketentuan langsung dari Nabi terkait hal ini. Sehingga, seyogyanya orang awam menghindari kutukan ini, karena dapat menimbulkan pertengkaran dan menyebabkan konflik di masyarakat.

Tingkatan ketiga, kutukan yang dilontarkan kepada orang yang sudah tertentu, atau dengan menyebut namanya secara langsung. Kutukan ini sangat berbahaya dan bisa jadi dilarang, terlebih apabila ditujukan kepada orang yang masih hidup. Misalnya, “Terkutuklah Zaid”, (Zaid la’natullah). Meski pun pada kenyataannya Zaid memanglah orang kafir maupun ahli bid’ah, hal ini tetaplah berbahaya.

Kutukan yang ketiga ini bisa jadi diperbolehkan, dengan catatan orang yang dituju adalah orang yang secara tegas dikutuk dalam syariat. Misalnya ialah apabila menyebut “Fir’aun la’natullah” atau “Abu Jahl la’natullah“, karena dalam syariat Islam disebutkan bahwa mereka jelas mati dalam keadaan menyekutukan Allah SWT.

Sedangkan mengutuk orang yang masih hidup, meski jelas-jelas ia adalah orang kafir, mengapa tidak diperbolehkan? Hal ini dikarenakan bisa jadi orang yang dilaknat itu masuk Islam, dan kemudian mati dalam keadaan dekat dengan Allah Swt.

Setelah kita mengetahui bahwa mengutuk orang yang masih hidup, meski pun jelas-jelas ia menyekutukan Allah saja dianggap sebagai tindakan terlarang, apalagi jika mengutuk orang hanya karena ia fasiq, zalim, atau ahli zina. Tentu lebih dilarang lagi.

Maka dari itu, yang paling baik adalah menjauhkan diri dari perilaku melaknat orang lain. Karena semua orang–atas izin Allah SWT, mungkin saja untuk berubah-ubah, termasuk berubah akidahnya. Kecuali kepada orang-orang tertentu yang telah diberitahukan oleh Rasulullah bahwa ia terlaknat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...